Menemani 218 Warga Beo Sepang Menata Kembali Hidup Setelah Gempa


CERITARELAWAN.com, MANGGARAI BARAT – Setelah gempa, kebutuhan untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari perjalanan 218 warga Desa Beo Sepang. Bagi 63 keluarga terdampak, bantuan kebutuhan rumah tangga, perhatian terhadap kesehatan hingga komunikasi keluarga memiliki makna dalam proses menata kondisi setelah bencana.

Pada Minggu, 4 Oktober 2026, aktivitas kemanusiaan berlangsung di Dusun Golo Kaca, Desa Beo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.

PMI Kabupaten Manggarai Barat bersama Human Initiative (HI) hadir membawa sejumlah bentuk dukungan. Sebanyak 63 kepala keluarga atau 218 jiwa tercatat dijangkau kegiatan tersebut.

Bukan hanya sembako yang disalurkan.

Ada Hygiene Kit, Bedding Kit dan Shelter Kit yang menyertai bantuan kebutuhan dasar. Pada kesempatan yang sama, masyarakat juga mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Layanan Pemulihan Hubungan Keluarga atau RFL menjadi bagian lain dari dukungan kemanusiaan yang disediakan.

Bantuan tersebut berasal dari dukungan Freeport yang dipercayakan kepada Human Initiative bersama PMI untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Dalam prosesnya, data Pemerintah Desa Beo Sepang digunakan sebagai acuan. Kategori kerusakan rumah masyarakat menjadi salah satu pertimbangan untuk penyaluran bantuan.

Ketua PMI Kabupaten Manggarai Barat, Yosef Suhardi, SH, mengatakan mekanisme tersebut digunakan untuk mengarahkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

“Bantuan ini berasal dari Freeport dan dipercayakan kepada Human Initiative dan PMI untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak di Desa Beo Sepang. Kami menyalurkannya berdasarkan data dari Pemerintah Desa Beo Sepang sesuai kategori kerusakan rumah. Bantuan yang kami salurkan berupa Paket Sembako, Hygiene Kit, Bedding Kit, dan Shelter Kit,” ungkap Yosef Suhardi, SH.

Di balik angka 218 jiwa, ada keluarga-keluarga yang sedang menjalani proses pemulihan masing-masing.

Bagi mereka, kebutuhan setelah bencana tidak selalu berhenti pada barang yang dapat dibawa pulang. Kesehatan menjadi bagian dari kondisi yang perlu diperhatikan. Karena itu, pelayanan kesehatan gratis ditempatkan bersama kegiatan distribusi bantuan.

Pada sisi lain, bencana juga dapat membuat kebutuhan komunikasi dan hubungan keluarga menjadi penting. Melalui layanan RFL, PMI memberikan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk memulihkan hubungan dan komunikasi keluarga setelah bencana.

Perpaduan berbagai layanan itu membuat kegiatan di Golo Kaca memiliki dimensi yang lebih luas daripada distribusi paket. Ada upaya menjawab kebutuhan sehari-hari, mendukung kesehatan, sekaligus memberikan pelayanan terkait hubungan keluarga.

Bagi Pemerintah Desa Beo Sepang, kehadiran tersebut mendapat apresiasi. Bernadus Burman, mewakili pemerintah desa dan masyarakat, secara khusus menyinggung kepedulian serta pelayanan kesehatan yang diterima warga.

“Atas nama Pemerintah Desa Beo Sepang dan masyarakat, kami merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tim PMI Manggarai Barat yang sudah tulus dan peduli terhadap masyarakat Desa Beo Sepang yang terdampak bencana gempa bumi, melalui bantuan sembako dan pelayanan kesehatan gratis. Semoga PMI Manggarai Barat terus berkarya dan jaya selalu,” ungkapnya.

Suara warga pun memberikan gambaran lain tentang arti bantuan setelah bencana.

Kosmas Jalang, yang mewakili masyarakat Desa Beo Sepang, melihat manfaat bantuan dari kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga, sekaligus proses untuk memulihkan kondisi masyarakat.

“Atas nama masyarakat Desa Beo Sepang, kami menyampaikan terima kasih yang berlimpah atas bantuan dari PMI yang sudah peduli kepada kami masyarakat yang terdampak gempa. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami demi pemulihan situasi dan kondisi, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pemulihan psikis dan kesehatan masyarakat terdampak gempa,” tutur Kosmas.

Kalimat itu memperlihatkan bahwa manfaat bantuan dirasakan melalui lebih dari satu sisi. Kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi, sementara masyarakat juga menjalani proses memulihkan kondisi setelah gempa.

Di titik itulah kerja kemanusiaan tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak warga yang dijangkau atau ragam paket yang dibawa.

Kehadiran menjadi bagian yang sama pentingnya.

Di Beo Sepang, satu rangkaian kegiatan mempertemukan bantuan kebutuhan dasar dengan pelayanan kesehatan dan dukungan komunikasi keluarga. Semuanya hadir pada saat masyarakat menjalani pemulihan setelah bencana.

Sebanyak 63 keluarga atau 218 jiwa menjadi penerima manfaat kegiatan tersebut. Angka itu mewakili keluarga-keluarga yang kebutuhan pascabencananya berbeda, tetapi berada dalam pengalaman yang sama sebagai masyarakat terdampak gempa.

Bencana boleh mengubah keadaan dengan tiba-tiba, tetapi proses memulihkan kehidupan berjalan setahap demi setahap.

Pada 4 Oktober 2026 di Dusun Golo Kaca, langkah itu hadir melalui paket kebutuhan sehari-hari, pelayanan kesehatan, dan dukungan bagi mereka yang membutuhkan pemulihan hubungan keluarga.

Bagi warga Beo Sepang, bantuan yang datang tidak menghapus pengalaman menghadapi gempa. Namun dukungan tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kondisi yang lebih pulih, ketika masyarakat mengetahui bahwa dalam menghadapi dampak bencana, mereka tidak harus berjalan sendirian.

Penulis: Fili Agung 
Editor: Redaksi
Baca Juga

Posting Komentar

ceritarelawan tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Lebih baru Lebih lama
close