CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Lembaran kisah kemanusiaan di tanah Manggarai kembali dihiasi oleh ketulusan para relawan yang merelakan waktu dan energinya demi menolong sesama di wilayah pascabencana. Di bawah naungan atap Balai Desa Ndehes, gumpalan rasa lelah seolah sirna berganti menjadi energi kebaikan saat lima pasang tangan terampil tim medis mulai menyapa warga. Perjalanan tugas ini bukan sekadar tentang mendistribusikan obat-obatan, melainkan sebuah misi menyebarkan harapan dan senyuman di tengah kepungan debu serta kabut asap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menyesakkan dada.
Adalah Dokter Irdina Eka Irsalina, seorang dokter muda utusan PMI Pusat asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang menjadi motor penggerak layanan mobile clinic ini. Bersama dua relawan lokal asli Manggarai, Dokter Dina—sapaan akrabnya—harus berhadapan dengan dinginnya udara pegunungan serta tantangan komunikasi yang tidak mudah.
Banyak warga lanjut usia (lansia) di Dusun Ngeri yang datang dengan langkah tertatih-tatih namun kesulitan mengungkapkan rasa sakit di tubuh mereka karena keterbatasan kemampuan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
"Kendala yang kami hadapi di lapangan adalah bahasa, yaitu beberapa lansia yang susah mengungkapkan keluhannya dengan benar, tapi dengan adanya dampingan relawan lokal yang menerjemahkan semuanya berjalan dengan lancar," ungkap Dokter Dina penuh ketulusan.
Dengan kelembutan tutur bahasa daerah, para relawan lokal menjembatani komunikasi, menerjemahkan setiap rintihan sakit kepala atau keluhan batuk berdahak milik lansia penyintas agar dapat dipahami secara tepat oleh tim dokter, mengubah suasana balai desa yang kaku menjadi ruang penuh kekeluargaan.
Inspirasi nyata dari pelosok Manggarai ini mengajarkan kita bahwa aksi kerelawanan sejati selalu menemukan jalan untuk menembus segala sekat keterbatasan fisik maupun budaya di lapangan.
Di akhir pelayanannya, Dokter Dina menitipkan pesan emosional yang mendalam bagi kesehatan warga penyintas:
"Pesan saya untuk masyarakat supaya tetap jaga kesehatan, serta harus menggunakan masker bila aktivitas di luar rumah, sedangkan untuk pasien hipertensi supaya rutin berobat.". Tutupnya
Perjuangan tanpa pamrih ini menanamkan optimisme kuat di hati 46 warga Desa Ndehes bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam melewati masa-masa sulit.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi

