CERITARELAWAN.com, LUMAJANG - Di balik bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang pada 30 September, ada pesan yang jauh lebih dalam daripada sebuah seremoni. Ada sejarah pengorbanan yang perlu diteruskan menjadi tindakan nyata, terutama oleh generasi muda yang kelak menentukan perjalanan Indonesia.
Besok, 1 Oktober, Merah Putih kembali dikibarkan satu tiang penuh. Momentum mengenang Pahlawan Revolusi semestinya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bertanya: bagaimana Pancasila tetap hidup dan dirasakan generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus digital?
Penghormatan kepada pahlawan tidak harus selalu diwujudkan melalui langkah besar. Menghargai perbedaan, membantu sesama, bergotong royong, tidak menyebarkan kabar bohong, serta tidak merundung orang lain di media sosial adalah tindakan sederhana yang membawa nilai Pancasila ke kehidupan sehari-hari.
Inilah tantangan sekaligus peluang bagi Generasi Z.
Mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi bergerak sangat cepat. Nilai, budaya, gaya hidup, dan berbagai pemikiran dari seluruh penjuru dunia dapat hadir dalam hitungan detik melalui layar telepon genggam.
Dalam kondisi seperti itu, Pancasila harus mampu hadir dekat dengan kehidupan mereka.
Ketika Pancasila Hadir dalam Tindakan
Pancasila bukan hanya rangkaian sila yang dihafalkan. Nilai di dalamnya akan memiliki makna ketika diterjemahkan menjadi perilaku.
Toleransi dapat dimulai ketika seorang pelajar menghargai teman yang berbeda agama dan keyakinan. Persatuan dapat tumbuh saat anak-anak muda dengan latar belakang berbeda bekerja bersama dalam kegiatan sosial.
Gotong royong hadir ketika seseorang bersedia meluangkan tenaga untuk membantu lingkungan. Nilai kemanusiaan tumbuh ketika ruang digital digunakan untuk memberikan dukungan, bukan menyebarkan kebencian.
Cara-cara sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Pancasila kepada Gen Z.
Generasi muda tidak cukup hanya ditempatkan sebagai penerima ceramah tentang ideologi. Mereka perlu dilibatkan sebagai pelaku yang mengalami sendiri bagaimana nilai kebangsaan diterapkan.
Ruang diskusi yang egaliter karena itu penting. Anak muda harus mendapatkan kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pandangan, bahkan mendiskusikan relevansi Pancasila terhadap persoalan yang mereka jumpai tanpa merasa takut dihakimi.
Bahasa Anak Muda Berubah
Pola komunikasi kepada Gen Z juga harus beradaptasi.
Generasi yang sehari-hari berhadapan dengan video pendek, gambar, musik, podcast, gim, dan media sosial memerlukan pendekatan yang lebih visual, interaktif, serta partisipatif.
Substansi Pancasila tidak perlu diubah. Cara menyampaikannya yang harus mampu mengikuti perkembangan zaman.
Bayangkan sebuah video pendek mengenai persahabatan pelajar dengan latar belakang agama berbeda. Cerita sederhana semacam itu dapat membawa pesan tentang toleransi dan persatuan tanpa harus berubah menjadi ceramah panjang.
Begitu pula kisah tentang anak-anak muda yang bergotong royong membantu warga, membersihkan lingkungan, mendampingi kelompok rentan, atau melakukan kegiatan sosial lainnya. Cerita manusia yang nyata dapat membantu masyarakat memahami nilai Pancasila melalui tindakan.
Film pendek, animasi, komik web, podcast, musik, infografis, maupun karya kreatif lainnya juga dapat menjadi sarana.
Anak muda bukan sekadar sasaran dari kampanye tersebut. Mereka justru dapat menjadi penciptanya.
Kompetisi vlog, film pendek, desain poster, atau karya digital bertema Pancasila dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk menginterpretasikan nilai kebangsaan menggunakan bahasa generasinya sendiri.
Gotong Royong Juga Bisa Hidup di Ruang Digital
Perubahan zaman membuat ruang pengabdian tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik. Media sosial pun dapat menjadi tempat melakukan tindakan yang membawa manfaat.
Salah satunya melalui keberanian melawan hoaks.
Tidak meneruskan informasi sebelum memastikan kebenarannya merupakan bentuk tanggung jawab. Tidak ikut melakukan cyberbullying dan tidak merendahkan seseorang karena perbedaan pandangan juga menjadi bagian dari etika kehidupan bersama.
Dengan pendekatan seperti itu, literasi digital dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengamalan adab Pancasila.
Nilai gotong royong juga dapat menemukan bentuk baru. Anak muda dapat menggunakan teknologi untuk menyebarkan informasi kegiatan sosial, mempertemukan orang yang membutuhkan bantuan dengan mereka yang ingin membantu, atau menggerakkan komunitas untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Teknologi seharusnya tidak menjauhkan generasi muda dari nilai bangsanya. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk menghadirkan nilai tersebut dalam kehidupan mereka.
Pengembangan gim dan aplikasi edukatif juga bisa digunakan untuk mengenalkan nilai kerja sama, musyawarah, toleransi, serta semangat membangun bangsa dengan cara yang menyenangkan.
Dari Ingatan Menjadi Inspirasi
Mengenang Pahlawan Revolusi pada akhirnya bukan sekadar melihat kembali peristiwa masa lalu.
Sejarah memperoleh arti ketika mampu menggerakkan manusia pada masa sekarang.
Bagi Gen Z, semangat tersebut dapat dimulai melalui hal-hal yang sangat dekat: menghargai teman, menjaga kerukunan, membantu orang yang membutuhkan, membuat karya positif, merawat lingkungan, memeriksa kebenaran informasi, hingga membangun ruang digital yang lebih sehat.
Jika tindakan seperti itu tumbuh, Pancasila tidak hanya hadir pada buku pelajaran, pidato, maupun peringatan kenegaraan.
Pancasila hidup di dalam tindakan manusia.
Generasi milenial dan Generasi Z akan menjadi bagian penting dalam menentukan masa depan nilai kebangsaan. Karena itulah pendekatan kepada mereka membutuhkan komunikasi yang kreatif, tetapi juga harus membuka sebanyak mungkin kesempatan untuk berbuat.
Peringatan 30 September dan 1 Oktober dapat menjadi pengingat bahwa setiap generasi mempunyai cara masing-masing untuk meneruskan nilai perjuangan.
Bendera Merah Putih boleh menjadi simbol penghormatan. Namun, toleransi, kepedulian, gotong royong, serta keberanian menjaga persatuan merupakan cara untuk membuat penghormatan tersebut terus hidup.
Dari sinilah pesan Soekarno menemukan relevansinya bagi generasi sekarang: "Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)."
Sejarah jangan berhenti menjadi ingatan. Sejarah harus berubah menjadi inspirasi, dan inspirasi harus berujung pada tindakan.
Penulis: Dr. Muchamad Taufiq, S.H., M.H. (Akademisi ITB Widya Gama Lumajang, Pengajar MK. Pancasila, dan Pengurus APHTN HAN Jawa Timur.)
Editor: Redaksi
