Menembus Jarak untuk Lansia Bidoa, Layanan Kesehatan Jangkau 75 Warga di Nagekeo
CERITARELAWAN.com, NAGEKEO – Bagi sebagian lansia di Dusun 2, Desa Bidoa, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, mendapatkan pelayanan kesehatan tidak selalu mudah. Jarak menuju fasilitas kesehatan dan keterbatasan fisik dapat menjadi penghalang untuk memperoleh pemeriksaan yang mereka butuhkan.
Pada Senin, 21 September 2026, pelayanan kesehatan itu bergerak mendekati mereka.
Tim Palang Merah Indonesia (PMI) hadir di Dusun 2, Desa Bidoa, melalui Layanan Tanggap Darurat Bencana (TDB) dengan memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara gratis.
Hari itu, sebanyak 75 warga mendapatkan pelayanan.
Dari jumlah tersebut, tercatat 24 laki-laki dan 51 perempuan. Sebanyak 24 penerima manfaat merupakan lansia.
Bagi warga lanjut usia yang selama ini menghadapi keterbatasan jarak dan kondisi fisik, hadirnya tenaga kesehatan langsung di wilayah mereka memberikan kesempatan untuk memperoleh pelayanan dengan lebih mudah.
Setiap Warga Datang dengan Kondisi Berbeda
Di balik angka 75 penerima manfaat terdapat warga dengan kebutuhan kesehatan yang berbeda.
Dalam pemeriksaan di lapangan, tim menemukan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi, dan dispepsia atau gangguan pencernaan sebagai keluhan yang dominan.
Tim memberikan pemeriksaan kesehatan dasar sekaligus obat-obatan kepada warga.
Namun, ada pula pasien yang membutuhkan perawatan lebih khusus.
Seorang warga memiliki riwayat operasi tangan kanan akibat tertimpa reruntuhan bangunan ketika terjadi gempa.
Dokter Nita, tenaga medis PMI Kota Makassar, bersama Perawat Sri, memberikan perawatan luka kepada pasien tersebut.
Di tengah pelayanan terhadap puluhan warga, penanganan itu menjadi pengingat bahwa setiap orang yang datang memiliki cerita dan kebutuhan kesehatannya sendiri.
Ketika Pelayanan yang Mendatangi Lansia
Kepala Desa Bidoa, Wenslaus Were, melihat langsung manfaat kehadiran layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayahnya.
Menurutnya, kelompok lanjut usia menjadi salah satu yang paling terbantu karena warga lansia selama ini menghadapi hambatan untuk mendatangi fasilitas kesehatan.
“Masyarakat sangat terbantu dengan adanya layanan dari PMI, terutama bagi para lansia yang selama ini sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan jarak dan fisik,” ujar Wenslaus.
Perawat Desa Bidoa, Maria Bhala, juga mengapresiasi kehadiran pelayanan tersebut.
Bagi kelompok lansia, persoalan jarak dapat menjadi semakin berat ketika disertai keterbatasan fisik.
Karena itu, pelayanan yang mendatangi masyarakat memiliki arti lebih dari sekadar memindahkan lokasi pemeriksaan.
Ada jarak yang dipangkas agar masyarakat lebih dekat dengan pelayanan yang dibutuhkan.
Angka yang Menyimpan Cerita Manusia
Seluruh data pelayanan medis dalam kegiatan tersebut kemudian diinput secara digital menggunakan platform Kobo Collect.
Tercatat 75 orang telah memperoleh pelayanan.
Namun, di balik catatan digital tersebut terdapat manusia dengan cerita masing-masing.
Ada 24 lansia yang menghadapi keterbatasan akses. Ada warga yang datang dengan ISPA, hipertensi maupun gangguan pencernaan. Ada pula pasien dengan riwayat operasi yang masih membutuhkan perawatan luka setelah mengalami cedera akibat reruntuhan bangunan saat gempa.
Masing-masing datang dengan kebutuhan berbeda, tetapi pelayanan kesehatan membawa mereka ke ruang pertolongan yang sama.
Perjalanan pelayanan di Bidoa menunjukkan satu sisi penting dari kerja kemanusiaan.
Ada kalanya masyarakat dapat datang mencari pelayanan. Tetapi ketika jarak dan kondisi fisik menjadi penghalang, pelayananlah yang perlu bergerak mendekati mereka.
Hari itu, perjalanan tersebut menjangkau 75 warga di Bidoa.
Dan bagi 24 lansia di antaranya, jarak tidak lagi menjadi satu-satunya penentu untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.