HOT NEWS

Ketika Bahasa Isyarat Jadi Jembatan, Relawan Dampingi Siswa SLB Karya Murni Pascagempa


CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Bahasa menjadi tantangan ketika relawan bertemu dengan siswa SLB Karya Murni Ruteng, Jumat, 25 September 2026. Keterbatasan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat membuat para relawan menggandeng guru agar layanan kesehatan, edukasi, serta dukungan psikososial dapat menjangkau para siswa.

Hari itu, PMI Kabupaten Manggarai menghadirkan pemeriksaan kesehatan, promosi kesehatan (promkes), Psychosocial Support Service (PSS), serta penyaluran perlengkapan kebersihan diri dan kebutuhan khusus perempuan.

Dalam kegiatan promosi kesehatan, siswa dikenalkan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk praktik enam langkah mencuci tangan dan etika batuk serta bersin.

Darius Lagut, relawan PMI yang mendampingi promosi kesehatan, mengatakan materi PHBS menjadi salah satu kegiatan yang diberikan kepada siswa.

“Saat kegiatan kami awali dengan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi dan simulasi enam langkah mencuci tangan,” kata Darius.

Namun, menyampaikan materi kepada anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan berbeda. Relawan kemudian melibatkan guru untuk membantu menerjemahkan materi melalui bahasa isyarat.

Kolaborasi itu tidak berhenti dalam kegiatan promosi kesehatan. Ketika layanan psikososial berlangsung, guru kembali menjadi jembatan komunikasi antara fasilitator dan siswa.

Di antara anak-anak yang mengikuti kegiatan terdapat Chelsea (15). Melalui bahasa isyarat yang dibantu gurunya, Maria Novalia N Karmel, Chelsea menceritakan ketakutannya ketika gempa terjadi.

“Saat gempa itu, saya dengan teman-teman sedang berdoa. Kami kaget lalu lari keluar ruangan. Karena adanya gempa susulan, saya dan teman-teman takut dan tidak berani masuk ruangan,” kata Chelsea.

Pengalaman seperti yang dialami Chelsea menjadi bagian yang diperhatikan dalam kegiatan PSS. Para siswa diajak mengikuti kegiatan yang menyenangkan sekaligus simulasi tentang apa yang dapat dilakukan ketika gempa terjadi.

Fasilitator PSS, Rusliansyah, mengatakan kegiatan dirancang untuk mengembalikan semangat anak-anak sekaligus memberikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana.

“Hari ini kami belajar bergembira dengan anak-anak yang sekolah di sini. Kegiatannya adalah bagaimana membangkitkan semangat anak-anak kita yang berkebutuhan khusus, yaitu menerapkan simulasi gempa, di antaranya apa yang harus dilakukan, apalagi rata-rata siswa yang ada di sini tinggal di asrama,” ujar Rusliansyah.

Dalam proses itu, para guru menjadi bagian penting dari kegiatan.

“Saat kegiatan berlangsung kami libatkan para guru untuk berkolaborasi sebagai penyambung komunikasi dengan siswa. Para siswa dan pihak sekolah juga menerima kami dengan antusias yang sangat luar biasa,” kata Rusliansyah.

Bagi guru, aktivitas tersebut memberikan suasana berbeda kepada para siswa. Verawaty Cangkung, S.Pd., yang ikut mendampingi kegiatan PSS, melihat anak-anak terlibat aktif.

“Saya mewakili suster dan rekan-rekan guru menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari PMI untuk beberapa kegiatan positif yang diberikan kepada sekolah kami seperti layanan kesehatan, promkes, trauma healing, dan lain-lain. Kegiatannya sangat seru dan anak-anak sangat aktif ketika bergoyang dan simulasi gempa lewat musik,” ujar Verawaty.

Di tengah kegembiraan itu, pelayanan kesehatan tetap berjalan. Sebanyak 84 orang mengikuti pemeriksaan dan pengobatan, terdiri atas 35 laki-laki dan 49 perempuan.

Berdasarkan laporan kegiatan, pemeriksaan menemukan sejumlah keluhan kesehatan, antara lain ISPA, sakit kepala, dan hipertensi.

Dukungan juga diberikan melalui distribusi dignity kit dan hygiene kit. Sebanyak 58 orang tercatat sebagai penerima manfaat. Masing-masing jenis bantuan tersebut disiapkan sebanyak 31 kotak.

Koordinator lapangan Albertus W. B. Dugis, S.Kep., menjelaskan dignity kit diperuntukkan bagi kebutuhan khusus perempuan, sedangkan hygiene kit digunakan untuk mendukung kebersihan diri.

SLB Karya Murni memiliki 78 siswa dan 25 guru. Para siswa memiliki kebutuhan pendidikan dan komunikasi yang beragam, termasuk siswa tunarungu.

Pihak sekolah berharap kebersamaan tersebut tidak berhenti dalam satu kunjungan. Salah satu bentuk kegiatan lanjutan yang diharapkan adalah pemeriksaan golongan darah sehingga sekolah dapat ikut membangun kolaborasi dalam pelayanan kemanusiaan.

Bagi relawan, kunjungan tersebut juga menjadi ruang belajar. Mereka tidak hanya datang membawa pelayanan, tetapi belajar menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan penerima manfaat.

Ketika bahasa menjadi penghalang, keterlibatan guru menjadi jembatan. Dari ruang kelas di SLB Karya Murni, kolaborasi sederhana itu menunjukkan bahwa pelayanan kemanusiaan dapat menjangkau lebih banyak orang ketika dilaksanakan sesuai kebutuhan mereka. 

Penulis: Edho 
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar