CERITARELAWAN.com, KUDUS – Solidaritas sosial dan semangat gotong royong kembali mewarnai ruang publik Kabupaten Kudus. Melalui momentum pembukaan Pekan Raya Kudus 2026, masyarakat diajak terlibat dalam gerakan aksi nyata kemanusiaan, yakni menghidupkan kembali perekonomian keluarga para perajin kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan cara membeli dan mencintai produk-produk buatan tetangga sendiri.
Event ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Kudus, Bellinda Sabrina Birton, sebagai panggung apresiasi bagi daya lenting para pelaku usaha kecil yang terus berjuang mandiri. Pameran ini mengedepankan nilai kebersamaan antara konsumen, relawan ekonomi, dan produsen lokal dalam sebuah ruang komersial yang inklusif.
Bellinda Sabrina Birton menyatakan bahwa di balik nama besar Kudus sebagai kota industri, terdapat denyut nadi kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan pendapatan harian mereka pada sektor usaha mikro dan ekonomi kreatif.
Dedikasi para pelaku usaha rumahan inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Pekan Raya Kudus menjadi ruang bertemunya pelaku UMKM dengan masyarakat untuk mengenalkan berbagai potensi dan kreativitas lokal Kabupaten Kudus,” kata Bellinda saat meresmikan pembukaan pameran sosial-ekonomi tersebut di Kudus.
Dalam pandangan Pemkab Kudus, kehadiran pameran ini bukan sekadar urusan memindahkan tempat transaksi jual beli, melainkan sebuah wadah apresiasi terhadap karya kemanusiaan.
Banyak produk UMKM yang diproduksi secara rumahan melibatkan tenaga kerja lokal, penyandang disabilitas, serta kelompok ibu rumah tangga yang berjuang membantu stabilitas finansial keluarga mereka masing-masing.
Melalui ajang Pekan Raya Kudus ini, produk-produk lokal bernilai seni tinggi seperti batik khas Kudus, bordir, hingga olahan pangan tradisional mendapatkan ruang promosi yang layak.
Dukungan penuh dari pemerintah daerah diarahkan agar sektor usaha marginal seperti pedagang kaki lima dan pelaku industri kreatif skala mikro dapat naik kelas dan memperluas jaringan sosial usahanya.
“Harapannya, Pekan Raya Kudus dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Bellinda menjabarkan esensi kemanusiaan dari program tersebut.
Untuk menyukseskan gerakan sosial ekonomi ini, kesadaran penonton yang hadir memegang peranan yang sangat vital. Warga yang memadati area pameran diminta untuk aktif melakukan aksi nyata berupa gerakan membeli produk lokal, sehingga modal usaha para perajin kecil dapat berputar kembali menjadi energi produktif baru bagi komunitas mereka.
Di sisi lain, keramahan sosial dan etika pelayanan juga menjadi pesan moral yang dititipkan kepada para pemilik stan. Relasi yang hangat antara penjual dan pembeli diharapkan mampu membangun ikatan emosional kekeluargaan yang erat, melebihi sekadar hubungan bisnis kaku antara produsen dan konsumen.
"Setiap pelanggan dilayani dengan ramah agar pengalaman berbelanja semakin berkesan," tutur Bellinda menambahkan.Menutup arahannya, Bellinda menggarisbawahi pentingnya aksi nyata pelestarian lingkungan hidup di area publik.
Kemeriahan pameran kerakyatan ini tidak boleh menyisakan masalah lingkungan berupa tumpukan sampah plastik.
Gerakan menjaga kebersihan stan secara swadaya oleh pengunjung dan pelaku usaha menjadi pembuktian bahwa masyarakat Kudus memiliki tingkat kepedulian sosial dan ekologi yang tinggi.
“Jangan meninggalkan sampah di sembarang tempat. Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat Kudus tidak hanya bangga terhadap produk dan potensi daerahnya, tetapi juga peduli terhadap ketertiban, kebersihan, dan kelestarian lingkungan,” ucapnya mengakhiri sambutan pembukaan.
Penulis: A. Delano
Editor: Redaksi
