Mengabdi Tanpa Pamrih, Kisah 3 Pejuang Kemanusiaan Ponorogo Penerima Lencana Gubernur


CERITARELAWAN.com, PONOROGO — Sebuah kisah inspiratif lahir dari ketulusan hati para pejuang kemanusiaan di Bumi Reog. Di tengah kesibukan harian yang padat, tiga orang relawan donor darah asal Kabupaten Ponorogo membuktikan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya materi. Cukup dengan keikhlasan mengalirkan tetesan darah dari dalam tubuh demi menyambung hidup orang asing yang sama sekali tidak mereka kenal.
Ketulusan ini membawa mereka masuk dalam kelompok 647 pendonor aktif di Jawa Timur yang dianugerahi penghargaan ke-75 kali oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Pelepasan ketiga relawan ini dilakukan penuh kehangatan di Markas PMI Kabupaten Ponorogo pada Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 08.30 WIB oleh Ketua PMI Ponorogo, Luhur Karsanto.
Tiga sosok humanis tersebut adalah Susi Arlina, seorang ASN perempuan di Kodim 0802/Ponorogo; Andika Febrian, pemuda wiraswasta dari lereng Sawoo; dan Prasetya Rusdianto, staf administrasi RS Griya Waluya. Bagi mereka, jarum suntik donor darah sudah menjadi bagian dari gaya hidup sejak usia muda.
Ketua PMI Kabupaten Ponorogo, Luhur Karsanto, mengaku sangat tersentuh dengan konsistensi ketiga relawan ini. Ia berharap semangat "Peduli Bergerak Bersama" yang dibawa oleh para pendonor ini menular kepada generasi Z dan milenial.
"Tetesan darah anda sangat berarti bagi mereka, semoga bisa menjadi teladan dan inspirasi semua generasi. Kami di PMI sangat bangga memiliki relawan-relawan mandiri yang konsisten bergerak bersama demi kemanusiaan tanpa pernah mengeluh," tutur Luhur Karsanto dengan nada penuh bangga.
Kisah menarik datang dari Susi Arlina. Perempuan ramah yang berdinas di Primkop Dim Ponorogo ini mengaku telah aktif mendonorkan darah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Baginya, bisa melihat orang lain sehat berkat darah yang didonorkannya adalah kebahagiaan batin yang tidak bernilai harganya.
"Sebenarnya tidak ada harapan kami ikut donor terus pengen ketemu pejabat atau gubernur, ndak ada. Tapi seandainya dapat kesempatan untuk ketemu beliau ya alhamdulillah. Saya mulai donor itu sejak SMA. Manfaat yang saya rasakan pribadi itu jarang sakit. Sebisa mungkin saya menyumbangkan apa yang bisa saya sumbangkan untuk mereka yang membutuhkan, jadi murni saling membantu sesama," kisah Susi tersenyum.
Senada dengan Susi, Andika Febrian relawan asal Desa Tumpakpelem, Sawoo, juga membagikan tips bagi relawan pemula agar tidak gugal saat hendak mendonorkan darah di lokasi. Andika yang kini catatan donornya menuju angka 80 kali ini menekankan pentingnya menjaga ritme tubuh secara alami.
"Alhamdulillah selama ini jarang sakit, kalaupun sakit cuman ringan-ringan saja. Buat teman-teman yang mau mencoba donor tapi sering gagal di lokasi, kuncinya itu jaga kesehatan sebelum hari-H. Makan makanan yang bergizi lah, jangan makan sembarangan, tidur cukup. Selama badan saya masih mampu dan diizinkan dokter, saya akan terus lanjutkan donor darah ini," pungkas Andika penuh semangat. 
Penulis: Nur
Editor: Redaksi 
Baca Juga

Posting Komentar

ceritarelawan tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Lebih baru Lebih lama
close