CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Mereka belum sepenuhnya melupakan gempa. Ada yang masih mengingat bagaimana dirinya berlari keluar rumah karena takut. Ada pula yang justru kembali masuk ke rumah mengikuti instruksi ibunya. Seorang anak mempunyai cara lain ketika ketakutan itu datang lagi: berdoa kepada Tuhan.
Cerita-cerita sederhana itu muncul di antara warna, nyanyian, gerakan, dan percakapan bersama relawan pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Hari itu, sekitar 30 dari total 93 murid SLB Tenda Ruteng mengikuti layanan terpadu Palang Merah Indonesia (PMI). Mereka berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Kegiatan dilaksanakan ketika kehidupan sekolah belum sepenuhnya kembali seperti sebelum gempa.
Bangunan sekolah mengalami kerusakan. Murid kemudian harus menjalani aktivitas pembelajaran di tenda bantuan dengan kapasitas terbatas.
Keterbatasan ruang membuat sekolah membagi jadwal belajar. Sebagian kelas mengikuti pembelajaran pada Senin sampai Rabu. Kelompok lainnya mendapatkan jadwal Kamis hingga Sabtu.
Artinya, anak-anak belum mempunyai kesempatan belajar dan bermain bersama seperti sebelum bencana.
Namun pada Jumat itu, tenda dan lingkungan belajar menjadi tempat berlangsungnya cerita yang lain.
Relawan menghadirkan layanan kesehatan, Promosi Kesehatan atau Promkes, serta Psychosocial Support Service (PSS). Anak-anak tak hanya menjalani pemeriksaan, tetapi juga belajar tentang kesehatan dan mendapat ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Mereka diperkenalkan dengan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS. Relawan berbicara tentang etika batuk dan bersin serta memperagakan cara mencuci tangan dengan benar.
Bagi orang dewasa, informasi itu mungkin terdengar sederhana. Bagi anak berkebutuhan khusus, cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan pesan itu sendiri.
Karena itulah pendampingan guru menjadi bagian penting selama kegiatan.
Mayoritas murid di sekolah tersebut merupakan anak dengan tunagrahita. Guru yang memahami karakter masing-masing murid membantu relawan dalam berkomunikasi dan mengondisikan anak selama kegiatan.
Ketika memasuki layanan psikososial, pendekatannya dibuat jauh dari suasana formal.
Ada gambar untuk diwarnai. Ada lagu. Ada gerakan. Ada kesempatan bergembira bersama.
Koordinator layanan PSS yang merupakan utusan PMI Pusat dan berasal dari PMI Surabaya, Meuti Nadia Soraya Bulan, menyebut guru dan orang tua juga dilibatkan.
" PSS tadi kami melibatkan guru dan orang tua murid dalam kegiatan mewarnai dan expresif kreatif berupa bergoyang dan bernyanyi", Ungkap Meuti Nadia Soraya Bulan yang merupakan kordinator layanan PSS utusan PMI Pusat yang berasal dari PMI Surabaya.
Dari kegiatan mewarnai itulah perlahan muncul cerita tentang gempa.
Relawan mengajak anak berbicara sambil mereka beraktivitas. Tidak semua pengalaman sama.
Beberapa murid mengatakan mereka berlari keluar rumah karena takut ketika gempa mengguncang.
Namun seorang anak menceritakan sesuatu yang berbeda. Ketika gempa terjadi, dia kembali masuk ke rumah. Ia melakukan hal tersebut karena mengikuti instruksi ibunya.
Ada pula anak yang mengaku rasa takut belum sepenuhnya pergi.
Saat gempa kembali dirasakan, anak itu masih merasa takut. Untuk mencari ketenangan, dia memilih berdoa kepada Tuhan.
Cerita tersebut mungkin hanya disampaikan dengan kalimat sederhana. Namun justru dari cerita seperti itulah orang dewasa dapat melihat bahwa sebuah bencana meninggalkan pengalaman yang berbeda pada setiap anak.
Proses berdamai tidak selalu berarti menghilangkan rasa takut.
Bagi anak-anak di SLB Tenda Ruteng, proses itu dapat dimulai ketika mereka mendapat ruang untuk memberi warna pada gambar, bergerak mengikuti irama, bernyanyi bersama, kemudian perlahan menceritakan apa yang pernah dialami.
Mereka tidak harus menghadapi proses tersebut sendirian.
Guru berada di dekat mereka. Orang tua dilibatkan. Relawan mendampingi. Semua menciptakan ruang tempat anak dapat menjalani aktivitas dengan cara yang lebih menyenangkan.
Pada hari yang sama, perhatian juga diarahkan kepada kesehatan fisik mereka.
Pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau medical check up menemukan bahwa sakit gigi akibat gigi berlubang menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan.
Ada pula sakit kepala dan keluhan pada saluran pencernaan bagian atas.
Relawan pendamping pelayanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai, Hilda P. S Primon, menjelaskan temuan tersebut.
" Saat melakukan pemeriksaan menyeluruh temuan yang paling banyak adalah sakit gigi karena berlubang, sakit kepala hingga keluhan pada saluran pencernaan bagian atas", tegas Hilda P. S Primon salah satu relawan pendamping layanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai.
Sebanyak 10 orang menjalankan rangkaian pelayanan itu. Lima berasal dari PMI Pusat, sedangkan lima lainnya merupakan relawan pendamping dari PMI Kabupaten Manggarai. Sekolah serta orang tua ikut memberikan dukungan selama pelaksanaan kegiatan.
Angka-angka itu mencatat siapa yang hadir dan berapa anak yang dijangkau. Namun di balik angka tersebut terdapat proses yang lebih personal.
Ada anak yang belajar mencuci tangan.
Ada yang menunjukkan gambar yang baru selesai diberi warna.
Ada yang mengingat kembali ketakutannya.
Ada pula anak yang menemukan ketenangan melalui doa.
Semua terjadi ketika sekolah mereka sendiri masih menjalani proses kembali menuju keadaan normal.
Bagi anak berkebutuhan khusus, edukasi mengenai bencana juga tidak selesai hanya melalui satu penyampaian. Anak membutuhkan pengulangan, pendampingan dan metode yang sesuai dengan kemampuan mereka menerima informasi.
Karena itu, pendekatan dengan permainan atau kegiatan menyenangkan dapat menjadi jalan untuk mengenalkan tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi.
Tidak harus selalu dimulai dengan penjelasan panjang.
Pesan dapat hadir melalui permainan, gerakan, gambar, kebiasaan yang dilatih berulang-ulang, dan pendamping yang sabar.
Antusiasme anak-anak selama Promkes memperlihatkan hal tersebut. Mereka memperhatikan ketika relawan menunjukkan cara mencuci tangan dan menjelaskan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.
Senyum mereka menjadi bagian lain dari cerita hari itu.
Di bawah keterbatasan ruang belajar, semangat untuk mengikuti sesuatu yang baru tetap ada.
Kabupaten Manggarai memang telah memasuki fase pemulihan. Namun bagi SLB Tenda Ruteng, pemulihan belum berarti seluruh keadaan otomatis kembali seperti sebelumnya.
Anak-anak masih belajar di tenda. Jadwal masih harus dibagi. Ruang yang tersedia belum memungkinkan semua murid belajar dan bermain bersama dalam waktu yang sama.
Karena itulah makna pemulihan menjadi lebih luas daripada persoalan bangunan.
Pemulihan juga berarti memastikan anak yang takut memiliki seseorang yang mau mendengarkan ceritanya.
Pemulihan berarti anak yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan mendapatkan perhatian.
Pemulihan adalah memastikan anak berkebutuhan khusus tidak tertinggal memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan dan kesiapsiagaan bencana hanya karena mereka membutuhkan metode belajar yang berbeda.
Hari itu, proses tersebut hadir melalui tangan banyak orang: relawan, guru dan orang tua.
Mereka tidak serta-merta menghilangkan ingatan tentang gempa.
Mereka juga tidak dapat menjanjikan bahwa rasa takut anak akan hilang setelah satu kegiatan.
Tetapi sesuatu telah dimulai.
Anak-anak memperoleh ruang untuk berbicara. Mereka dapat bermain dan belajar. Ketika rasa takut diceritakan, ada orang lain yang mendengarkan.
Di bawah tenda yang sementara menggantikan ruang kelas mereka, harapan itu menemukan bentuknya dalam hal-hal sederhana: gambar yang mulai berwarna, tangan yang belajar mencuci dengan benar, lagu yang dinyanyikan bersama, tubuh yang bergerak mengikuti irama, serta cerita tentang rasa takut yang akhirnya berani disampaikan.
Anak-anak itu mungkin belum sepenuhnya berdamai dengan gempa.
Namun keberanian tidak selalu berarti tidak lagi merasa takut.
Kadang keberanian justru bermula ketika seseorang masih memiliki rasa takut, tetapi perlahan belajar mengenalinya dan mencoba melangkah kembali.
Dan pada Jumat itu, anak-anak SLB Tenda Ruteng menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan ruang belajar dan ingatan tentang gempa, rasa takut boleh tetap ada, tetapi harapan tetap dapat ditumbuhkan.
