Tak Ada Keluhan, Dokter Brenda Tetap Datang Menemui Bayi Gempita
CERITARELAWAN.com, NAGEKEO – Kisah Dokter Brenda di Nagekeo hari itu bermula dari sebuah informasi sederhana. Ada seorang bayi yang masih tinggal bersama keluarganya di tenda pengungsian dan tidak datang ke tempat pelayanan kesehatan.
Tidak ada laporan bahwa bayi itu sedang sakit.
Tidak ada pula keluarga yang datang meminta dokter memeriksanya.
Namun Dokter Brenda Lestari memilih tidak menunggu. Bersama tim, ia memutuskan mendatangi bayi tersebut.
Namanya Gempita Rahayu.
Gempita lahir pada 17 Agustus 2026. Ketika Brenda datang pada Rabu, 30 September 2026, usianya baru 44 hari.
Belum genap dua bulan umurnya, Gempita menjalani hari-hari pertama kehidupan bersama keluarganya di tengah kondisi pengungsian pascagempa di Desa Tendakinde, Dusun Kaburea, Kabupaten Nagekeo.
Ketika Dokter Memilih Mendatangi Pasien
Brenda berasal dari PMI Kota Bandung. Saat itu ia bergabung bersama tim kesehatan PMI Kabupaten Nagekeo untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Di tengah pelayanan itulah informasi mengenai Gempita sampai kepadanya.
Bayi tersebut bersama keluarganya tidak datang ke posyandu tempat pelayanan dilaksanakan.
Informasi itu bisa saja berhenti menjadi catatan mengenai warga yang tidak hadir.
Namun Brenda memilih jalan lain.
Ia bersama tim mendatangi tenda keluarga Gempita.
Bukan Gempita yang dibawa menemui dokter. Hari itu, dokter yang datang menemuinya.
Pertimbangannya bukan karena keadaan darurat.
Brenda justru mengetahui tidak ada keluhan dari orang tua.
Perhatian muncul karena Gempita masih sangat kecil, sementara bayi dan keluarganya tinggal di tenda yang menurut Brenda panas dengan lingkungan sekitar banyak debu.
"Untuk kemarin saat saya dan tim PMI Nagekeo berkunjung dan melakukan pelayanan di desa Tendakinde, kami mendapatkan info ada 1 bayi yang lahir saat gempa kemarin namanya “Gempita”. Kebetulan untuk bayi dan keluarga tidak datang ke posyandu tempat kami pelayanan, jadi kami datang langsung ke tenda pengungsian mereka. Saya dan tim yankes menghampiri untuk memeriksa keadaan bayi, bukan karena ada keluhan dari orangtua, tetapi ingin memeriksa kondisi bayi saat ini. Karena saya pikir untuk kondisinya harus diperhatikan terutama umurnya baru mau menginjak 2 bulan serta bayi dan keluarga masih tinggal di tenda pengungsian yang kondisinya panas dan sekitarnya banyak debu. Saya periksa keseluruhan mulai dari keaktifan bayi dalam menyusu (ASI), apakah bayi saat itu/pernah kuning, untuk frekuensi BAB BAK kemudian melakukan pemeriksaan fisik untuk bagian dada/pernapasan. Alhamdulillah kondisi bayi sangat sehat dan dari anamnesis orangtua pasien tidak pernah sakit, dan untuk sampai umur sekarang pasien dapat imunisasi lengkap sesuai dengan umurnya", tungkas Dokter Brenda.
Memastikan Gempita Baik-Baik Saja
Di tenda tersebut, Brenda mulai memastikan kondisi Gempita.
Keaktifan bayi saat menyusu ASI diperhatikan. Ia menanyakan kepada orang tua apakah Gempita pernah mengalami kondisi kuning.
Frekuensi BAB dan BAK ikut menjadi perhatian.
Brenda kemudian melakukan pemeriksaan fisik pada bagian dada dan pernapasan.
Satu per satu informasi mengenai kondisi Gempita diperoleh.
Dan dari pemeriksaan itu datang kabar yang melegakan.
Gempita dalam kondisi sangat sehat.
Berdasarkan anamnesis kepada orang tua, bayi tersebut juga disebut tidak pernah sakit. Imunisasi Gempita telah lengkap sesuai dengan usianya.
Bagi tenaga kesehatan, kegiatan seperti itu merupakan bagian dari pelayanan.
Namun bagi keluarga yang sedang membesarkan seorang bayi di tenda pengungsian, kepastian mengenai kondisi anak memiliki arti yang berbeda.
Rasa Tenang bagi Keluarga
Ayah Gempita, Nanang Iswanto, mengungkapkan rasa terima kasih setelah anaknya mendapat pemeriksaan.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI karena sudah datang langsung memeriksa kesehatan warga di tenda pengungsian, terutama anak kami Gempita. Dengan adanya pemeriksaan dari tim kesehatan, kami merasa lebih tenang karena kondisi kesehatan anak kami bisa dipantau,” ujar Nanang.
Kalimat itu menjelaskan dampak dari keputusan Brenda mendatangi tenda.
Seorang bayi mendapat pemeriksaan.
Keluarga memperoleh kepastian.
Dan seorang ayah merasa lebih tenang mengetahui kesehatan anaknya telah dipantau langsung.
Hari tersebut tidak hanya menjadi cerita tentang Gempita.
Tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan kepada warga lain yang masih tinggal di tenda darurat Desa Tendakinde. Pelayanan diberikan berdasarkan keluhan dan kebutuhan kesehatan masing-masing.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, mengatakan pelayanan kesehatan merupakan salah satu bagian dari pendampingan terhadap masyarakat terdampak.
“PMI Nagekeo akan terus hadir memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. Tidak hanya bantuan logistik, tetapi pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian kami. Kami ingin memastikan warga yang masih berada di tenda pengungsian mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan, terutama bayi, anak-anak dan kelompok rentan,” kata Kristianus.
Kolaborasi antara PMI Nagekeo dan tenaga kesehatan PMI dari daerah lain menjadi bagian dari pelayanan tersebut.
Dalam pertemuan Brenda dan Gempita, kolaborasi itu hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga: seorang dokter mendapatkan informasi mengenai seorang bayi, kemudian mendatanginya.
Kepedulian yang Tidak Menunggu
Gempita kemungkinan tidak akan mengingat siapa yang datang memeriksanya ketika ia berusia 44 hari.
Pada usia itu, ia juga belum memahami keadaan yang sedang dihadapi keluarganya.
Namun bagi Nanang dan keluarga, pertemuan hari itu memiliki makna yang dapat dirasakan saat itu juga.
Anaknya telah diperiksa.
Kondisinya diketahui.
Dan keluarga mendapatkan kabar bahwa Gempita sehat.
Cerita tersebut memperlihatkan satu sisi dari kerja kemanusiaan yang tidak selalu terwakili melalui jumlah bantuan ataupun angka warga yang dilayani.
Ada pertemuan manusia di dalamnya.
Ada keputusan untuk bergerak ketika mengetahui seseorang membutuhkan perhatian.
Ada pula ketenangan yang dirasakan keluarga setelah pelayanan itu sampai kepada mereka.
Brenda tidak datang karena panggilan darurat.
Tidak ada keluhan sakit yang membuat orang tua Gempita meminta bantuan.
Ia datang setelah mendapat informasi tentang seorang bayi yang belum genap berusia dua bulan, tidak hadir di tempat pelayanan, dan masih menjalani kesehariannya bersama keluarga di pengungsian.
Dari situlah cerita Brenda dan Gempita mendapatkan maknanya.
Bukan soal seberapa jauh seorang dokter berjalan menuju tenda.
Bukan pula semata tentang satu pemeriksaan kesehatan.
Melainkan keputusan untuk tidak membiarkan seorang bayi luput dari perhatian hanya karena keluarganya tidak datang ke lokasi pelayanan.
Hari itu, Brenda mendatangi Gempita.
Ia memeriksa bayi tersebut.
Dan bagi keluarga, kunjungan itu berakhir dengan satu kabar yang menenangkan: Gempita sehat.
Dari sebuah tenda di Tendakinde, tersisa cerita sederhana tentang kepedulian yang bergerak mendekati manusia.
Sebab ada kalanya pelayanan tidak dimulai ketika seseorang datang meminta bantuan, melainkan ketika seseorang memilih lebih dahulu mendatanginya.
