Di Tengah Keterbatasan, Perjalanan Air Bersih PMI Nagekeo Sampai ke 30 Keluarga Terdampak Gempa
CERITARELAWAN.com, NAGEKEO – Perjalanan membawa air bersih untuk warga terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo tidak berhenti ketika tangki selesai diisi. Air masih harus menempuh perjalanan dari sumbernya hingga akhirnya mengalir ke tempat-tempat penampungan milik warga.
Pada Rabu (30/9/2026), perjalanan itu kembali berlangsung.
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo melalui layanan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) membawa 5.000 liter air bersih menuju Dusun 1 Kaburea, Desa Tendakinde.
Di lokasi tersebut, ada 30 keluarga yang menunggu layanan air.
Jumlah penerima manfaat mencapai 107 jiwa. Mereka terdiri atas 58 orang dewasa, 27 remaja, 20 anak-anak, dan dua balita.
Air yang dibawa petugas berasal dari sumur bor Lape. Sesampainya di lokasi, air kemudian disalurkan ke wadah-wadah penampungan yang dimiliki masyarakat.
Data itu terlihat sederhana jika hanya dibaca sebagai laporan distribusi: 5.000 liter air untuk 107 orang.
Namun, ada perjalanan panjang di belakangnya.
Catatan kendaraan yang digunakan dalam operasi pada hari itu menunjukkan odometer bergerak dari 16.708 kilometer menjadi 16.888 kilometer. Dengan demikian, jarak operasional yang ditempuh satu kendaraan mencapai sekitar 180 kilometer.
Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa membantu masyarakat memperoleh kebutuhan paling dasar dalam kondisi bencana membutuhkan proses.
Ada kendaraan yang harus bergerak, bahan bakar yang dibutuhkan, personel yang bertugas, sumber air yang harus dijangkau, serta koordinasi di sepanjang pelayanan.
Sementara itu, kegiatan pada 30 September bukan perjalanan pertama.
PMI Nagekeo telah melakukan distribusi air bersih sejak 25 September 2026. Dalam enam hari sampai 30 September, tercatat sebanyak 59 rit distribusi.
Total volume air yang telah dibawa ke masyarakat mencapai 325.000 liter.
Artinya, perjalanan distribusi berlangsung berulang kali sejak operasi dimulai. Satu rit diselesaikan, kebutuhan lainnya ditangani, lalu pelayanan kembali bergerak sesuai kondisi lapangan.
Semua itu berlangsung di tengah keterbatasan sumber daya, termasuk dukungan anggaran operasional.
Kondisi tersebut membuat cerita distribusi air tidak semata mengenai banyaknya liter yang berhasil dikirim.
Bagi petugas serta relawan yang terlibat, layanan hanya dapat mencapai masyarakat ketika unsur-unsur operasional tetap mampu bergerak. Bagi penerima manfaat, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus mendasar: mereka membutuhkan air untuk kehidupan keluarga sehari-hari.
Dari situlah angka 325.000 liter menemukan maknanya.
Setiap liter merupakan bagian dari rangkaian pelayanan yang menghubungkan sumber air dengan keluarga-keluarga yang masih menghadapi dampak bencana.
Cerita serupa terlihat pada 30 keluarga di Dusun 1 Kaburea.
Dalam kelompok penerima tersebut terdapat dua balita. Ada pula 20 anak dan 27 remaja. Mereka bersama 58 orang dewasa menjadi 107 jiwa yang memperoleh manfaat dari distribusi pada hari tersebut.
Di tengah situasi bencana, kelompok usia yang berbeda berada dalam kebutuhan dasar yang sama.
Air diperlukan oleh setiap keluarga.
PMI Nagekeo menjalankan layanan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi yang dijumpai di lapangan. Respons tersebut terus dilakukan menggunakan personel serta sumber daya yang tersedia.
Keterbatasan tidak membuat kebutuhan warga menghilang.
Sebaliknya, kondisi itulah yang membuat keberlanjutan respons memiliki arti lebih penting. Selama masyarakat masih menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar, distribusi air menjadi salah satu pelayanan yang perlu terus diupayakan.
Perjalanan sekitar 180 kilometer pada 30 September juga memberi cara lain untuk melihat kerja kemanusiaan.
Kadang yang tampak oleh masyarakat adalah air ketika mengalir dari kendaraan menuju tempat penampungan. Yang tidak selalu terlihat adalah jarak dan tahapan yang harus dilalui agar air tersebut tiba.
Dalam enam hari, perjalanan-perjalanan itu terakumulasi menjadi 59 rit dan menghasilkan 325.000 liter air bersih yang disalurkan.
Tidak setiap aksi kemanusiaan membutuhkan seremoni. Beberapa berlangsung dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya.
Pada hari Rabu itu, tujuannya adalah Dusun 1 Kaburea.
Di sana, 5.000 liter air akhirnya sampai ke tempat penampungan masyarakat. Bagi 30 keluarga penerima, perjalanan panjang kendaraan operasional tersebut berakhir pada sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka: tersedianya air bersih di tengah masa sulit setelah bencana.
Penulis: Nur
Editor: Redaksi