Dari Ilmu Titen ke Data BMKG, Mencari Makna Tumbuk 10 Oktober
Di balik istilah sederhana tersebut tersimpan warisan pengetahuan yang lahir dari ketekunan leluhur mengamati alam.
Mereka mencatat perubahan cuaca, arah angin, kondisi langit, hingga pola hujan. Dari pengamatan yang berlangsung berulang selama bertahun-tahun, lahirlah berbagai penanda musim yang masih dikenal hingga saat ini.
Prakirawan BMKG Stamet Nganjuk, Yaris, menilai ilmu titen merupakan bentuk kearifan lokal yang patut dihargai.
"Ilmu titen menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan membaca lingkungan sekitarnya. Pengetahuan seperti ini lahir dari pengalaman panjang dan menjadi bagian penting dari budaya," katanya.
Ketika ilmu pengetahuan modern berkembang, ternyata sebagian pengamatan tersebut memiliki kesesuaian dengan fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Pada Oktober, posisi semu Matahari berada di wilayah selatan sehingga sinar Matahari sering terasa lebih terik, terutama ketika tutupan awan masih sedikit.
Di saat yang sama, wilayah Jawa sedang memasuki fase peralihan musim. Udara panas masih mendominasi, tetapi tanda-tanda musim hujan mulai muncul melalui peningkatan kelembapan dan pertumbuhan awan hujan.
Keselarasan inilah yang membuat tumbuk tetap dikenang dari generasi ke generasi.
Meski demikian, Yaris mengingatkan bahwa alam tidak selalu berjalan dengan pola yang sama setiap tahun.
"Tumbuk dapat dipahami sebagai pengetahuan musim, tetapi bukan ramalan cuaca yang pasti. Kondisi atmosfer sangat dinamis dan dipengaruhi banyak faktor," jelasnya.
Pesan tersebut menjadi penting di era perubahan iklim saat ini. Variabilitas cuaca semakin tinggi sehingga masyarakat perlu memadukan pengalaman lokal dengan informasi ilmiah.
Bagi para relawan kebencanaan, petani, maupun warga desa, pendekatan tersebut memberikan manfaat besar. Pengetahuan lokal membantu mengenali tanda-tanda alam, sedangkan data BMKG memberikan informasi yang lebih akurat dan terkini.
Kisah tentang tumbuk mengajarkan bahwa warisan leluhur dan sains tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi perubahan cuaca.
Dari sawah, ladang, hingga pusat-pusat pengamatan cuaca modern, tujuan akhirnya tetap sama, yakni memahami alam agar manusia dapat hidup lebih selaras dengannya.
