Dari Bangku Sekolah, 45 Relawan Muda Memulai Aksi Kemanusiaan
CERITARELAWAN.com, PASURUAN – Setiap relawan memiliki cerita tentang langkah pertamanya. Ada yang bermula dari keinginan membantu teman, ada yang tergerak karena melihat orang lain membutuhkan pertolongan. Bagi 45 pelajar SMKN Winongan, langkah itu dimulai saat mereka mengikuti Orientasi Anggota Baru Palang Merah Remaja (PMR) pada 9-10 Oktober 2026.
Selama dua hari, para peserta tidak hanya belajar tentang organisasi PMR. Mereka juga belajar tentang arti kepedulian, kebersamaan, dan keberanian untuk hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Orientasi tersebut menjadi pengalaman awal bagi peserta untuk mengenal dunia kemanusiaan. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pertolongan pertama, simulasi evakuasi, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), serta berbagai nilai yang menjadi dasar gerakan kepalangmerahan.
Di balik setiap materi yang diberikan, terdapat pesan sederhana namun penting: menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan menolong, tetapi juga tentang kepedulian terhadap sesama manusia.
Pemateri PMI Kabupaten Pasuruan, Muhammad Hafiidh Naafiyan, mengajak peserta melihat PMR sebagai ruang belajar yang mampu membentuk karakter dan empati.
"Melalui Orientasi Kepalangmerahan ini, kami tidak hanya belajar tentang sejarah dan pertolongan pertama, tetapi juga diajarkan bagaimana menumbuhkan rasa kepedulian yang nyata terhadap sesama. Menjadi bagian dari PMR adalah langkah awal kami untuk terus menebar kebaikan," ujarnya.
Bagi para peserta, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap tindakan baik memiliki arti yang besar bagi orang lain. Kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar, tetapi juga bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.
Pembina PMR SMKN Winongan, Alfi Lailatun Nikmatul Iza, berharap nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan selama orientasi dapat menjadi bagian dari karakter anggota baru.
"Kami ingin anggota baru memiliki kepedulian terhadap sesama, disiplin, mampu bekerja sama, dan berani mengambil peran dalam kegiatan kemanusiaan," katanya.
Kegiatan orientasi juga diisi dengan permainan edukatif, diskusi kelompok, dan refleksi bersama. Dalam setiap aktivitas, peserta diajak memahami pentingnya kerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.
Kepala SMKN Winongan, Irfan Khanafi, S.Pd., M.Pd., menilai PMR menjadi sarana yang efektif untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial.
Menurutnya, kemampuan memahami dan membantu orang lain merupakan bekal yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Di akhir kegiatan, peserta mengikuti evaluasi dan apel bersama. Namun bagi banyak peserta, yang paling berkesan bukanlah ujian atau materi yang diterima, melainkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi manfaat bagi sesama.
Orientasi itu mungkin hanya berlangsung dua hari, tetapi nilai yang ditanamkan di dalamnya diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan para peserta. Dari ruang kelas di Winongan, semangat kemanusiaan mulai disemai melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan para relawan muda.
Hari ini mereka belajar tentang kepedulian. Besok, mereka diharapkan menjadi pribadi yang siap hadir, membantu, dan memberi harapan bagi orang-orang di sekitarnya. Karena setiap aksi kemanusiaan sering kali dimulai dari satu keputusan sederhana: memilih untuk peduli.
