80 Tahun Memikul Air di Kepala, Warga Kampung Baru Kini Punya Harapan Baru
CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebagian perempuan di Kampung Baru, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, mulai memikul jeriken dan baskom menuju sungai. Perjalanan itu bukan dilakukan sesekali, melainkan menjadi rutinitas yang dijalani setiap hari demi mendapatkan air untuk keluarga.
Bagi warga Kampung Baru, air bersih bukan sesuatu yang mudah diperoleh. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mereka harus berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sungai. Air yang dibawa pulang kemudian digunakan untuk memasak, mencuci, minum, hingga kebutuhan sanitasi sehari-hari.
Kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, kedatangan bantuan tandon air berkapasitas 2.300 liter dan distribusi 5.000 liter air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai pada Kamis (8/10/2026) disambut penuh syukur oleh warga.
Bantuan yang berasal dari dukungan PT Ciputra melalui PMI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tidak hanya membawa pasokan air bersih, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang selama ini hidup dengan keterbatasan akses air.
Ketua PMI Manggarai, Hironnymus A. Kaunang, BcKn, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya PMI untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak gempa bumi Flores sekaligus membantu pemenuhan kebutuhan dasar warga.
"PMI Manggarai hari ini hadir dan memberikan bantuan satu unit tandon berkapasitas 2300 liter dukungan PT Ciputra melalui PMI Provinsi NTT. Sejauh ini kami sudah distribusikan dua tandon, satunya di wilayah Gumbang Desa Riung dan satu unit lagi di sini. Saya minta bapak Kepala Desa dan masyarakat di sini bisa jaga baik-baik sehingga tandon ini digunakan dalam waktu yang lama. Ingat bahwa ini bukan milik perorangan tetapi kami serahkan ini menjadi milik desa Paralando sehingga mohon dibantu agar bisa dijaga bersama. Kami juga akan terus distribusikan air bersih secara berkala untuk dukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kampung Baru ini," ungkapnya.
Di tengah keramaian warga yang berkumpul saat distribusi bantuan, tersimpan kisah panjang perjuangan masyarakat mendapatkan air bersih. Salah satunya datang dari Margareta Tesang yang sejak kecil hidup dalam keterbatasan akses air.
Menurut Margareta, persoalan air bersih di Kampung Baru bukan hanya muncul setelah gempa bumi terjadi. Kesulitan itu telah dirasakan selama beberapa generasi.
"kami di sini kesulitan air bukan saja saat bencana tetapi sepanjang tahun. Tiap hari, pagi dan sore kami harus berjalan kaki sejauh 2 km untuk timba air di sungai. Masing-masing kami membawa empat jeriken lima liter serta memikul baskom pakaian di kepala. Ini sudah berlangsung lama, bahkan lebih dari 80 tahun kami alami kesulitan ini. Di sini tidak ada sumber air, kami perempuan dan anak-anak yang tiap hari ambil air karena bapak-bapak mereka harus bekerja," terang Margareta.
Cerita itu menggambarkan bagaimana perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang paling banyak menanggung beban akibat keterbatasan akses air. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beristirahat, belajar, atau melakukan aktivitas produktif lainnya sering kali harus digunakan untuk berjalan menuju sungai.
Bagi sebagian warga, perjalanan mengambil air bahkan dilakukan dua kali dalam sehari. Saat persediaan air menipis, mereka kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang sama dengan membawa pulang jeriken berisi air untuk kebutuhan keluarga.
Kisah serupa disampaikan oleh Theresia Tinung. Ia mengaku hampir seluruh kebutuhan rumah tangga bergantung pada air yang diperoleh dari sungai.
"kami tiap hari, pagi dan sore jalan kaki untuk timba air di kali. Air itu akan digunakan untuk minum, air cuci piring dan juga untuk keperluan WC. Sedangkan untuk mandi, kami langsung ke kali. Tiap rumah ada penampung seperti fiber kecil, baskom, periuk untuk simpan air. Kalau musim hujan, kami sedikit terbantu karena bisa tadah air hujan untuk air minum dan memang tidak bisa ambil air di kali karena kotor juga banjir. Dari dulu, kami kesulitan air bersih. Terima kasih untuk PMI yang sudah beberapa kali bawa air bersih pakaian tangki di sini. Apalagi ada bantuan tandon air yang besar, kami bisa ambil ditandon gunakan jeriken yang ada di tiap-tiap rumah," tandas Theresia.
Bagi warga Kampung Baru, tandon air yang kini berdiri di dekat permukiman bukan sekadar fasilitas bantuan. Tandon itu menjadi simbol harapan agar perjuangan panjang mencari air perlahan dapat berkurang.
Pemerintah Desa Paralando juga berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dan dijaga bersama oleh seluruh masyarakat.
Mewakili Pemerintah Desa Paralando, Lemen Agustinus, BA, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat.
"Kampung Baru ini salah satu RT yang sulit mendapatkan akses air bersih. Masyarakat harus berjalan kaki selama 2 km setiap hari untuk ambil air di Kali karena tidak ada sumber air di sini. Kami ucapan terima kasih berlimpah kepada PMI dan PT Ciputra yang sudah bantu kami tandon air juga distribusi air bersih secara berkala. Tentunya, kami akan menjaga setiap bantuan ini dengan baik dan bertanggungjawab," katanya.
Selain menyalurkan bantuan air bersih, PMI juga menggelar promosi kebersihan kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dipandu oleh Nur Amirah dari IFRC yang mengajak warga menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Saya senang di sini, karena lingkungan bersih dan tidak ada sampah berserakan. Saya mengajak semua warga di sini untuk terus jaga kebersihan lingkungan dan harus terus cuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas. Biar kita bebas dari berbagai penyakit seperti diare," tegas Nur.
Sebanyak 25 kepala keluarga dengan total 68 jiwa menerima manfaat dari kegiatan tersebut. Di antara mereka terdapat tujuh lansia, satu ibu hamil, dua bayi, dan lima balita yang tergolong kelompok rentan.
Warga juga terlibat langsung dalam pembangunan dudukan tandon, distribusi air bersih, hingga kegiatan edukasi yang berlangsung di lokasi. Keterlibatan itu menunjukkan bahwa semangat gotong royong tetap tumbuh di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.
Sore menjelang ketika tandon mulai terisi penuh. Anak-anak bermain di sekitarnya, sementara para ibu mulai mengantre membawa jeriken. Pemandangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat Kampung Baru yang telah puluhan tahun berjalan kilometer demi setetes air, tandon tersebut menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: harapan bahwa kehidupan yang lebih baik perlahan mulai datang ke kampung mereka.
Penulis: Adrian Jr
Editor: Redaksi
