Dari Air, Obat hingga Bantuan Logistik, Kisah Kepedulian untuk Warga Nagekeo
CERITARELAWAN.com, NAGEKEO – Bagi sebagian orang, segelas air bersih mungkin menjadi hal yang biasa. Namun bagi warga yang hidup di tengah dampak Gempa Flores, air bersih bisa menjadi harapan. Harapan untuk tetap sehat, tetap bertahan, dan perlahan bangkit dari situasi sulit yang mereka hadapi.
Di Kabupaten Nagekeo, perjalanan pemulihan pascabencana masih berlangsung. Rumah-rumah yang rusak mungkin menjadi tanda paling terlihat dari bencana, tetapi ada banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi setiap hari, mulai dari makanan, air bersih, hingga pelayanan kesehatan.
Di tengah kondisi itu, para relawan dan petugas kemanusiaan terus bergerak menjangkau masyarakat di berbagai desa terdampak. Mereka datang membawa bantuan logistik, air bersih, obat-obatan, sekaligus memastikan warga tidak merasa sendirian menghadapi masa sulit setelah gempa.
Pada 4 Oktober 2026, bantuan logistik disalurkan kepada 45 kepala keluarga di Desa Aeramo. Sebanyak 120 jiwa menerima bantuan berupa sarung, gamis, dan jersey yang dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Bantuan itu disambut hangat masyarakat. Bagi banyak keluarga, bantuan yang datang bukan hanya soal barang yang diterima, tetapi juga bukti bahwa masih ada yang peduli terhadap kondisi mereka.
Salah seorang warga, Adolpus Jawa (46), mengaku terharu dengan perhatian yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
“Selama ini kami hanya tahu PMI melalui donor darah. Kami mengucapkan terima kasih karena sudah hadir membantu masyarakat yang terdampak gempa,” ujarnya.
Namun kisah kepedulian itu tidak berhenti di Aeramo.
Di Kelurahan Danga, tantangan yang dihadapi warga berbeda. Mereka membutuhkan air bersih untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci, semuanya membutuhkan air yang layak digunakan.
Karena itu, layanan distribusi air bersih terus dilakukan. Pada 4 Oktober 2026, sebanyak 5.000 liter air bersih didistribusikan ke RT 04 Kolikapa untuk 38 kepala keluarga dengan total 120 jiwa.
Air yang berasal dari sumur bor Lape itu disalurkan langsung ke tempat penampungan milik warga. Belum tersedianya tandon bersama membuat proses distribusi harus dilakukan satu per satu.
Meskipun terlihat sederhana, setiap liter air yang sampai ke rumah warga memiliki arti besar. Air tersebut membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar mereka di tengah keterbatasan pascabencana.
Sejak 25 Agustus hingga 4 Oktober 2026, distribusi air bersih yang dilakukan telah mencapai sekitar 345.000 liter. Angka itu mungkin terlihat besar di atas kertas, tetapi bagi masyarakat terdampak, setiap tetes air yang mereka terima memiliki nilai yang jauh lebih penting.
Tak hanya air bersih, kesehatan warga juga menjadi perhatian utama.
Di Desa Nangadhero, pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat yang mulai mengalami berbagai keluhan setelah melewati masa-masa sulit pascagempa. Sebanyak 19 warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan dasar.
Di antara mereka terdapat kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan, yakni satu balita, satu ibu menyusui, dan enam orang lanjut usia.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya beberapa keluhan yang banyak dialami warga, seperti nyeri otot, hipertensi, dan gastritis.
Dokter Brenda yang bertugas dalam pelayanan kesehatan mengatakan bahwa kondisi kesehatan masyarakat harus terus dipantau selama masa pemulihan.
“Dalam kondisi pascabencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kesehatan. Keluhan seperti nyeri otot, hipertensi, dan gastritis perlu diperiksa dan ditangani agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius,” ujarnya.
Bagi para relawan, pelayanan kesehatan sering kali lebih dari sekadar memberikan obat. Mereka juga mendengarkan cerita warga, memberikan semangat, dan memastikan masyarakat memiliki tempat untuk meminta bantuan saat membutuhkan.
Itulah yang dirasakan banyak masyarakat di lokasi terdampak. Kehadiran relawan tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan rasa tenang bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan bahwa pelayanan kemanusiaan akan terus dilakukan selama masih ada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Menurutnya, setiap bantuan yang diberikan, sekecil apa pun, memiliki makna bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Di tengah berbagai tantangan pascagempa Flores, kisah-kisah kemanusiaan seperti ini terus lahir. Ada relawan yang menempuh perjalanan panjang membawa air bersih. Ada tenaga kesehatan yang memeriksa warga dari rumah ke rumah. Ada pula masyarakat yang saling menguatkan satu sama lain.
Karena pada akhirnya, pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang rusak. Pemulihan adalah tentang menjaga harapan tetap hidup.
Dan di Nagekeo, harapan itu datang dalam bentuk yang sederhana: sejeriken air bersih, obat untuk yang sakit, dan kehadiran orang-orang yang memilih untuk peduli.
Penulis: Wemin Wuda/Adrian Jr
Editor: Redaksi
