CERITARELAWAN.com, SURABAYA – Kepedulian tidak selalu diwujudkan melalui sebuah tindakan besar. Kadang ia tumbuh dari keputusan sederhana untuk datang, berbagi, kemudian kembali melakukannya. Hal itulah yang tercermin dari perjalanan 26 pendonor darah sukarela asal Kabupaten Tulungagung.
Mereka telah mencapai satu tonggak penting: 75 kali mendonorkan darah.
Atas konsistensi tersebut, 26 pendonor dari PMI Kabupaten Tulungagung menerima penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) 75 kali di Gedung Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10/2026).
Mereka hadir bersama ratusan pendonor dari berbagai wilayah Jawa Timur. Secara keseluruhan, sebanyak 647 orang dari kabupaten dan kota di provinsi ini menerima penghargaan untuk capaian yang sama.
Penghargaan diberikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur didampingi Ketua PMI Provinsi Jawa Timur.
Bagi 26 pendonor asal Tulungagung, penghargaan itu menjadi penanda perjalanan yang tidak ditempuh hanya dalam sehari.
Capaian 75 kali terbentuk dari tindakan yang dilakukan berulang. Satu kali donor bertambah menjadi beberapa kali, kemudian puluhan kali, hingga akhirnya mencapai angka yang mendapatkan apresiasi tersebut.
Jumlah pendonor yang memiliki catatan panjang di Jawa Timur juga tidak sedikit.
Selain 647 orang yang menerima penghargaan karena sudah mencapai 75 kali donor, sebanyak 1.988 pendonor tercatat telah mencapai 50 kali donor. Para pendonor itu berasal dari 37 UDD PMI di Jawa Timur.
“Jumlah donor darah sukarela 50 kali sebanyak 1.988 orang yang berasal dari 37 UDD PMI seluruh Jawa Timur dan jumlah donor darah sukarela 75 kali yang akan menerima penghargaan pada hari ini adalah sebanyak 647 orang yang berasal dari 37 UDD PMI kabupaten kota se-Jawa Timur,” kata dr. H. Harsono.
Di balik besarnya angka tersebut terdapat cerita mengenai orang-orang yang memilih untuk terus terlibat.
Tidak seluruh identitas 26 penerima asal Tulungagung disebutkan dalam bahan informasi yang diterima redaksi. Karena itu, cerita mereka kali ini hadir sebagai sebuah perjalanan kolektif, tentang sekelompok pendonor yang tetap mempertahankan kebiasaan berbagi hingga mencapai 75 kali.
Donor darah mempunyai ciri yang berbeda dengan banyak kegiatan sosial lainnya.
Apa yang dilakukan pendonor mungkin selesai dalam satu kunjungan pada hari tertentu. Namun, manfaat pelayanan darah membutuhkan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus.
Itulah sebabnya konsistensi menjadi bagian penting dari cerita 26 pendonor Tulungagung tersebut.
Penghargaan yang mereka terima juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa aksi kemanusiaan bisa tumbuh menjadi kebiasaan.
Seseorang mungkin memulai dari donor pertamanya. Ketika kegiatan tersebut terus dilakukan dari waktu ke waktu, kontribusi yang awalnya terlihat kecil perlahan menjadi perjalanan panjang.
Pada titik itulah angka 75 memiliki makna berbeda.
Bukan sekadar jumlah yang dicantumkan dalam sebuah penghargaan, melainkan catatan bahwa tindakan berbagi telah dilakukan berkali-kali.
Bagi PMI Kabupaten Tulungagung, momentum di Gedung Grahadi menjadi kesempatan memberikan apresiasi kepada para pendonor sekaligus menumbuhkan kembali semangat kepedulian dan solidaritas kemanusiaan di masyarakat.
PMI Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pendonor atas dedikasi, kepedulian, dan kontribusi mereka terhadap misi kemanusiaan.
Masyarakat juga diajak ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah secara sukarela dan berkelanjutan.
Ajakan tersebut menemukan contohnya pada 26 orang yang mendapatkan penghargaan kali ini.
Mereka menunjukkan bahwa menjadi bagian dari aksi kemanusiaan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang luar biasa. Langkah pertama dapat berupa keberanian menjadi pendonor untuk pertama kalinya.
Setelah itu, kepedulian mendapatkan maknanya dari keberlanjutan.
Di Gedung Grahadi, perjalanan 26 pendonor asal Tulungagung itu sampai pada salah satu tonggaknya. Mereka bergabung bersama 621 penerima lainnya sehingga total penerima penghargaan DDS 75 kali se-Jawa Timur mencapai 647 orang.
Namun, cerita donor darah tidak berakhir bersama selesainya seremoni penghargaan.
Kebutuhan pelayanan darah akan terus ada. Begitu pula kesempatan bagi masyarakat lain untuk mulai ikut mengambil bagian.
Jika perjalanan 75 kali selalu bermula dari donor pertama, maka penghargaan kepada para pendonor Tulungagung tersebut menyampaikan pesan yang sederhana: tindakan kemanusiaan menjadi lebih berarti ketika kepedulian tidak berhenti pada satu kesempatan.
Penulis: Alfani
Editor: Redaksi
.jpg)
