HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sempat Takut Jarum Suntik, Siswi Ini Kini Ingin Donor Darah Saat Dewasa

CERITARELAWAN.com, 


CERITARELAWAN.com, PASURUAN - Pagi ini, Asyadda Yuna Prasetya beberapa kali melihat ke arah meja pemeriksaan. Siswi kelas VI MIN 1 Pasuruan tersebut tampak penasaran sekaligus sedikit cemas.

Di depannya, teman-temannya satu per satu dipanggil untuk menjalani pemeriksaan golongan darah. Beberapa terlihat tenang, sementara yang lain berusaha menyembunyikan rasa takut ketika melihat alat pemeriksaan yang digunakan petugas.

Asyadda termasuk yang gugup. Ini adalah pengalaman pertamanya menjalani pemeriksaan golongan darah.

Seperti banyak anak seusianya, yang paling ia khawatirkan adalah rasa sakit saat jarinya harus ditusuk untuk mengambil sampel darah.

Namun rasa takut itu perlahan hilang ketika petugas menjelaskan proses pemeriksaan dengan ramah dan sederhana.

Saat namanya dipanggil, Asyadda memberanikan diri maju. Pemeriksaan berlangsung cepat. Hanya beberapa menit, proses sudah selesai.

Ketika hasilnya keluar, ekspresi tegang yang sebelumnya terlihat di wajahnya berubah menjadi senyum lebar.

"Aku kaget, tapi juga senang. Waktu ditusuk ternyata tidak sakit. Akhirnya aku tahu golongan darahku A+," katanya.

Bagi orang dewasa, mengetahui golongan darah mungkin terasa biasa saja. Namun bagi seorang anak sekolah dasar, pengalaman itu menjadi momen yang membekas.

Hari itu Asyadda tidak hanya pulang membawa kartu golongan darah. Ia juga membawa pengetahuan baru tentang dirinya sendiri.

Kegiatan yang diikutinya merupakan bagian dari program pemeriksaan golongan darah bagi 300 pelajar di Kabupaten Pasuruan.

Program tersebut menyasar siswa di MIN 1 Pasuruan, MIN 2 Pasuruan, dan SDN Gajahbendo.

Bagi PMI Kabupaten Pasuruan, kegiatan ini bukan sekadar layanan kesehatan. Program dirancang untuk mengenalkan pentingnya kesehatan sekaligus membangun nilai kemanusiaan sejak usia dini.

Anak-anak diajak memahami bahwa darah memiliki peran penting dalam menyelamatkan kehidupan manusia. Dari pemahaman sederhana itulah tumbuh kesadaran bahwa membantu orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Tanpa disadari, pesan itu sampai pada Asyadda.

Setelah mengetahui manfaat donor darah dari penjelasan petugas dan guru, muncul sebuah keinginan sederhana dalam dirinya.

"Nanti kalau sudah dewasa, aku ingin ikut donor darah supaya bisa membantu orang yang kekurangan atau membutuhkan darah," ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun dari situlah nilai kemanusiaan mulai tumbuh.

Kepala MIN 1 Pasuruan, Abdul Qodir, melihat antusiasme yang sama pada banyak siswa.

Anak-anak yang awalnya takut justru berubah menjadi penasaran dan bersemangat setelah mengetahui hasil pemeriksaan mereka.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan tidak harus selalu hadir dalam bentuk teori di ruang kelas.

Ketika anak-anak terlibat langsung dalam sebuah pengalaman nyata, pemahaman yang muncul sering kali lebih membekas.

Dari satu tetes darah yang diperiksa, lahir banyak pelajaran. Tentang keberanian menghadapi rasa takut. Tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Tentang bagaimana kesehatan berkaitan dengan kehidupan orang lain.

Bagi Asyadda, hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun pengalaman tersebut telah meninggalkan cerita yang akan ia ingat lama.

Sebuah cerita tentang keberanian kecil yang tumbuh menjadi mimpi besar: suatu hari bisa membantu menyelamatkan orang lain melalui donor darah.

Penulis: Haafiid Naafiyan
Editor: Redaksi

Posting Komentar