HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Saat Panas Ekstrem Mengancam, Relawan PMI Hadir Menjembatani Peringatan Menjadi Aksi



CERITARELAWAN.com, SURABAYA – Ketika suhu udara terus meningkat dan panas terasa lebih menyengat dibanding tahun-tahun sebelumnya, tidak semua orang memahami bahwa kondisi tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Di tengah tantangan itu, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) hadir sebagai penghubung antara informasi peringatan dini dengan tindakan nyata di tingkat masyarakat.

Pengalaman tersebut dibagikan PMI Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 di Provinsi Banten melalui diskusi publik bertema “Menyikapi Risiko Bahaya Panas Ekstrem di Wilayah Perkotaan.”

Forum ini menghadirkan narasumber dari BMKG, PMI Pusat, PMI Kota Surabaya, dan PMI Kota Medan untuk membahas ancaman panas ekstrem yang kini semakin menjadi perhatian di berbagai kota di Indonesia.

Bagi banyak orang, panas ekstrem mungkin hanya dianggap sebagai cuaca yang lebih terik dari biasanya. Namun di lapangan, dampaknya bisa jauh lebih besar. Dehidrasi, kelelahan akibat panas, penurunan produktivitas, hingga gangguan kesehatan pada kelompok rentan menjadi risiko yang harus dihadapi masyarakat.

Di sinilah peran relawan menjadi sangat penting.

Melalui proyek panas ekstrem yang telah dijalankan di Kota Surabaya, PMI belajar bahwa informasi cuaca dan peringatan dini tidak selalu langsung dipahami warga. Banyak masyarakat yang menerima informasi mengenai suhu tinggi, tetapi belum mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan untuk melindungi diri dan keluarganya.

Staf Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Jawa Timur, Ahmad Rifai, mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bahaya panas ekstrem.

"Pengalaman di Surabaya menunjukkan bahwa peringatan dini saja tidak cukup. Informasi harus diterjemahkan menjadi tindakan yang bisa dipahami dan dilakukan masyarakat. Di situlah relawan PMI memainkan peran penting sebagai penghubung antara informasi dan aksi," ujar Ahmad Rifai.

Melalui pendekatan berbasis komunitas, relawan PMI terlibat langsung dalam kegiatan edukasi, sosialisasi, dan pendampingan masyarakat mengenai bahaya panas ekstrem.

Mereka membantu warga memahami tanda-tanda awal risiko akibat suhu tinggi, mengenali kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus, serta menyampaikan langkah-langkah sederhana yang dapat mengurangi dampak kesehatan.

Dalam pelaksanaan proyek tersebut, PMI juga melakukan studi persepsi masyarakat untuk mengetahui sejauh mana pemahaman warga terhadap ancaman panas ekstrem.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat masih beragam. Sebagian warga telah memahami risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat suhu tinggi. Namun sebagian lainnya masih menganggap panas ekstrem sebagai kondisi biasa yang tidak memerlukan tindakan khusus.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi PMI untuk memperkuat komunikasi risiko yang lebih dekat dengan masyarakat.

Relawan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendengarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi warga di lapangan.

Melalui percakapan sederhana di lingkungan tempat tinggal, pos pelayanan masyarakat, hingga kegiatan komunitas, relawan membantu menjelaskan apa yang harus dilakukan ketika BMKG mengeluarkan informasi mengenai suhu tinggi atau potensi panas ekstrem.

Selain edukasi, PMI juga mengembangkan pendekatan surveilans berbasis masyarakat.

Dalam sistem ini, relawan bersama warga dilibatkan untuk mengenali gejala risiko kesehatan akibat panas ekstrem, melakukan pencatatan, pelaporan, verifikasi, hingga membantu proses rujukan apabila ditemukan warga yang membutuhkan penanganan medis.

Pendekatan tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan dinas kesehatan, puskesmas, BPBD, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Bagi PMI, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko panas ekstrem yang dampaknya semakin terasa akibat perubahan iklim dan perkembangan kawasan perkotaan.

Menurut Ahmad Rifai, peran relawan akan semakin penting di masa depan karena perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian panas ekstrem.

"Relawan PMI hadir untuk memastikan informasi peringatan dini tidak berhenti sebagai data atau angka. Informasi tersebut harus sampai kepada masyarakat dan berubah menjadi tindakan yang dapat melindungi kesehatan serta keselamatan warga," katanya.

Berbagai langkah sederhana terus didorong kepada masyarakat. Mulai dari memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, hingga memberikan perhatian lebih kepada lansia, anak-anak, serta pekerja yang beraktivitas di ruang terbuka.

Pengalaman Surabaya yang dibagikan dalam Bulan PRB 2026 menjadi bukti bahwa pengurangan risiko bencana tidak selalu berkaitan dengan banjir, gempa bumi, atau tanah longsor. Ancaman yang tidak terlihat seperti panas ekstrem juga membutuhkan kesiapsiagaan yang sama.

Dan di balik berbagai upaya tersebut, ada relawan-relawan PMI yang terus bergerak di tengah masyarakat, memastikan setiap informasi yang diterima warga dapat menjadi langkah nyata untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar dalam menghadapi risiko bukan hanya teknologi atau sistem peringatan dini, melainkan masyarakat yang memahami risiko dan siap bertindak bersama.

Penulis: Nur 
Editor: Redaksi
Posting Komentar