Mereka Tak Mencari Tepuk Tangan, Hanya Ingin Lebih Banyak Nyawa Terselamatkan
CERITARELAWAN.com, TRENGGALEK – Mereka tidak mengenakan rompi saat mengevakuasi korban bencana. Mereka juga tidak selalu terlihat ketika bantuan kemanusiaan didistribusikan kepada masyarakat. Bahkan banyak dari mereka tidak pernah mengetahui siapa yang menerima manfaat dari aksi yang dilakukan.
Namun tanpa disadari, para pendonor darah sukarela telah menjadi bagian penting dari rantai penyelamatan nyawa manusia.
Kisah itulah yang mendapat perhatian khusus dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Trenggalek yang digelar di halaman Kantor PMI Kabupaten Trenggalek, Rabu (7/10/2026).
Pada kesempatan tersebut, PMI Kabupaten Trenggalek memberikan penghargaan kepada tujuh pendonor darah sukarela yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 50 kali.
Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjang mereka dalam membantu sesama melalui donor darah yang dilakukan secara rutin dan sukarela.
Bagi sebagian orang, angka 50 kali mungkin hanya sebatas hitungan. Namun di balik angka tersebut terdapat perjalanan panjang yang tidak sederhana.
Lima puluh kali donor berarti puluhan tahun menjaga komitmen untuk berbagi. Puluhan kali meluangkan waktu. Puluhan kali mendatangi lokasi donor. Dan puluhan kali memberikan kesempatan hidup kepada orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal.
Mereka tidak mengetahui ke mana darah itu akan diberikan.
Mereka mungkin tidak akan pernah bertemu dengan pasien yang tertolong.
Mereka bahkan tidak selalu mendengar cerita tentang orang yang berhasil diselamatkan.
Tetapi mereka tetap datang dan mendonor.
Bukan karena ingin dikenal, melainkan karena memiliki kesadaran bahwa setetes darah dapat menjadi harapan bagi orang lain.
Ketua PMI Kabupaten Trenggalek, Mulyadi WR, mengatakan bahwa para pendonor darah sesungguhnya merupakan relawan kemanusiaan yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, relawan tidak selalu identik dengan mereka yang terjun di lokasi bencana. Pendonor darah juga merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan karena turut menyelamatkan nyawa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para pendonor darah sukarela yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 50 kali. Semoga keikhlasan para pendonor menjadi teladan bagi masyarakat Kabupaten Trenggalek agar semakin aktif berdonor darah dan membantu menyelamatkan nyawa sesama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya kontribusi para pendonor terhadap pelayanan kesehatan.
Setiap hari, rumah sakit membutuhkan ketersediaan darah untuk berbagai kepentingan medis. Korban kecelakaan lalu lintas, pasien operasi, ibu yang mengalami perdarahan saat persalinan, penderita talasemia, hingga pasien penyakit kronis lainnya sering kali bergantung pada ketersediaan darah donor.
Ketika stok darah tersedia, pelayanan medis dapat dilakukan dengan cepat.
Namun ketika stok menipis, risiko terhadap keselamatan pasien dapat meningkat.
Karena itu, keberadaan pendonor sukarela menjadi salah satu elemen penting dalam sistem kesehatan yang sering kali bekerja tanpa banyak sorotan.
Momentum HUT PMI ke-81 juga menjadi pengingat bahwa gerakan kemanusiaan tidak dibangun oleh satu orang atau satu lembaga saja.
Selain memberikan penghargaan kepada para pendonor darah, PMI Kabupaten Trenggalek juga mengundang berbagai unsur pemerintah, lembaga kesehatan, organisasi kebencanaan, dan komunitas relawan untuk berdialog bersama.
Sekitar 120 peserta hadir dalam kegiatan tersebut.
Hadir di antaranya unsur BPBD, Dinas Sosial, RSUD, PDAM, rumah sakit swasta, klinik kesehatan, organisasi kebencanaan, pengurus PMI kecamatan, relawan, dan staf PMI.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa pelayanan kemanusiaan membutuhkan kolaborasi yang kuat.
Dalam sesi dialog interaktif yang dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Trenggalek sekaligus Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, para peserta berdiskusi mengenai tantangan pelayanan sosial, kebencanaan, dan kemanusiaan yang dihadapi daerah.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh nuansa persahabatan.
Berbagai pengalaman lapangan dibagikan. Berbagai saran dan ide juga muncul untuk memperkuat layanan kepada masyarakat.
Stefanus menyampaikan apresiasi kepada PMI dan seluruh unsur relawan yang selama ini membantu pemerintah daerah dalam bidang sosial, kemanusiaan, dan kebencanaan.
Menurutnya, keberhasilan pelayanan kepada masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kerja sama berbagai pihak yang selama ini bergerak bersama membantu sesama.
Sementara itu, Mulyadi juga memaparkan sejumlah kegiatan yang saat ini rutin dilakukan PMI Kabupaten Trenggalek.
Selain pelayanan donor darah, PMI aktif menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
PMI juga memberikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan dan mengoperasikan layanan ambulans gratis yang setiap hari membantu masyarakat.
Dua armada ambulans PMI Kabupaten Trenggalek secara rutin melayani berbagai kebutuhan warga, mulai dari rujukan pasien hingga bantuan sosial kemanusiaan lainnya.
Namun di tengah seluruh rangkaian kegiatan HUT PMI tersebut, kisah tujuh pendonor darah tetap menjadi simbol paling kuat tentang arti kemanusiaan.
Mereka menunjukkan bahwa membantu sesama tidak selalu harus dilakukan di tempat yang ramai.
Tidak selalu harus disaksikan banyak orang.
Tidak selalu harus mendapatkan penghargaan.
Kadang-kadang, kemanusiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Datang ke tempat donor darah. Duduk beberapa menit. Menyumbangkan setetes darah. Lalu pulang tanpa mengetahui siapa yang akan menerima manfaatnya.
Tetapi dari tindakan sederhana itulah kesempatan hidup diberikan kepada banyak orang.
Karena sejatinya, para pendonor darah adalah relawan yang bekerja dalam diam.
Mereka mungkin tidak berada di garis depan saat bencana terjadi.
Namun darah yang mereka sumbangkan telah membantu banyak keluarga mempertahankan harapan.
Dan setelah 50 kali mendonor, mereka membuktikan bahwa ketulusan tidak selalu harus terlihat untuk bisa memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan sesama manusia.
Penulis : Hadi Triyono
Editor: Redaksi
