"Hati Saya Tertinggal di Titik Api," Ungkapan Jiwa Komandan Relawan Karhutla Kotim
Sabtu, Oktober 03, 2026
CERITARELAWAN.com, Kotawaringin Timur - Bagi Muhammad Alexander, S.Pd, suara gemeretak ranting yang dilahap api dan pekatnya kabut asap yang mengurung Kabupaten Kotawaringin Timur bukanlah sekadar rutinitas penanggulangan bencana. Melalui perbincangan dari hati ke hati pada Sabtu (03/10/2026), ia menceritakan bahwa setiap kali melepas pasukannya dari tiga organisasi sekaligus—PMI, MDMC, dan Tagana—menuju titik api karhutla, ada getaran kecemasan yang mendalam di dadanya. Baginya, hal yang paling berat di hati bukanlah seberapa luas hutan yang terbakar atau seberapa tebal kepulan asap yang menutupi langit Sampit, melainkan keselamatan setiap relawan yang melangkah ke arena bahaya.
"Ketika Kotawaringin Timur sedang diuji berat oleh asap dan bencana, kami yang berdiri di garis depan tidak boleh menyerah dan berlutut. Selama masih ada warga yang membutuhkan pertolongan, di situlah kami akan terus bergerak. Bukan karena jabatan, tapi karena panggilan jiwa—ketika Kotim sedang menangis, kami tak boleh berlutut."
Ia terdiam sejenak, menghela napas panjang sembari memandang hamparan langit Sampit yang masih kelabu akibat sisa-sisa polusi jelaga hutan.
"Banyak orang bertanya dari mana asal energi kami yang bekerja tanpa jeda dari pagi hingga malam. Jawabannya sederhana, kekuatan itu datang dari doa keluarga di rumah dan ketulusan para relawan yang saling melindungi di tengah kepungan asap pekat."
Sebagai pemimpin, Alexander memilih menolak berdiri di belakang meja komando yang sejuk dan aman. Ia memilih untuk hadir langsung di tengah-tengah pasukannya, ikut menghirup jelaga asap yang sama, dan merasakan sengatan panas yang membakar kulit. Menurutnya, loyalitas dan semangat juang anak buah tidak lahir dari untaian kata-kata indah atau perintah yang kaku, melainkan dari rasa senasib sepenanggungan. Menatap langsung mata mereka yang merah karena asap, menjamin botol air minum mereka terisi tepat waktu, dan menepuk pundak mereka sembari berbisik, “Terima kasih, kalian hebat,” adalah cara sederhananya menjaga api semangat kemanusiaan tetap menyala di dada para relawan agar tidak tumbang ditelan keputusasaan di lapangan yang ekstrem.
Panggilan jiwa untuk berkorban ini berakar kuat pada ikatan batinnya dengan tanah kelahirannya, Kotim. Ketika wilayahnya sedang diuji berat oleh bencana asap, Alexander menjadikan harapan warga sebagai jangkar kekuatan batinnya untuk terus berdiri tegak di garis depan. Kelelahan yang mendera selama berhari-hari runtuh seketika oleh sebuah momen emosional yang dialaminya di sebuah desa terpencil. Usai mengantarkan pasokan air bersih, seorang lansia menyambut mereka dengan tangan yang gemetar hebat seraya berbisik lirih, "Anak-anak, kalian datang saja sudah jadi obat bagi kami."
"Melihat air mata haru orang tua di desa terpencil itu, seluruh rasa perih di mata dan sesak di dada akibat kepulan asap mendadak hilang tanpa bekas. Di saat itulah saya sadar, kehadiran kami di sini bukan sekadar tentang urusan teknis kedaruratan, melainkan tentang mengantarkan secercah nyawa harapan bagi mereka yang terisolasi."
Alexander menceritakan bagaimana dinamika psikologis di dalam posko sering kali lebih menguras energi ketimbang memadamkan kobaran api itu sendiri. Saat malam tiba dan operasi fisik dihentikan demi keselamatan, ia menghabiskan waktu bersama para relawan untuk sekadar mendengarkan keluh kesah dan ketakutan terpendam mereka. Ruang dialog informal ini menjadi tempat penyembuhan mental kolektif yang menjaga solidaritas tim tetap kokoh. Ia percaya bahwa kekuatan sejati gerakan kemanusiaan tidak terletak pada kecanggihan peralatan, melainkan pada ketulusan hubungan antar-manusia yang terjalin erat di tengah situasi genting.
Dalam setiap lembar instruksi taktis yang dikeluarkannya, ada doa yang terselip agar seluruh personel dapat pulang ke rumah menemui keluarga mereka masing-masing dalam kondisi selamat tanpa kurang suatu apa pun. Kekhawatiran itu selalu membayangi langkahnya, terutama saat berita tentang tumbangnya beberapa rekan relawan akibat dehidrasi berat sampai ke telinganya. Tantangan emosional ini dihadapinya dengan meningkatkan kepedulian terhadap detail terkecil logistik pasukan, memastikan asupan nutrisi dan suplemen mereka tidak pernah terputus di tengah perjuangan panjang menaklukkan bara gambut.
"Terima kasih juga kepada kalian yang selalu mendukung dari belakang. Kita satu tim, satu tujuan—Kotim kembali sehat, kembali cerah. Tetap semangat, tetap jaga diri. Salam hormat untuk seluruh pasukan yang tidak pernah lelah mengabdi!"
Kisah perjuangan Alexander adalah cerminan dari pengorbanan sunyi ribuan relawan di seluruh pelosok negeri yang memilih mengorbankan kenyamanan pribadi demi keselamatan sesama. Keteguhan hatinya membuktikan bahwa di balik pekatnya kabut asap yang meredupkan cahaya matahari, ada cahaya kemanusiaan yang justru bersinar semakin terang. Komitmen tanpa pamrih ini menjadi pengingat bagi semua orang akan arti penting dari rasa empati dan kepedulian sosial yang melampaui sekat-sekat organisasi demi satu tujuan mulia: mengembalikan udara bersih dan senyuman di bumi Kotawaringin Timur.
Penulis: Nur
Editor: Redaksi
