HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Yuli Arinta Temani Relawan PMI Pascagempa Flores untuk Tetap Kuat



CERITARELAWAN.com, MANGGARAI - Selama bertugas di lokasi bencana, relawan biasanya dikenal sebagai orang yang menguatkan orang lain.

Mereka hadir ketika warga kehilangan rumah. Mereka membantu ketika keluarga membutuhkan air bersih, bantuan darurat, atau sekadar seseorang yang bersedia mendengarkan cerita mereka. Mereka bergerak ketika banyak orang masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Namun di balik rompi merah yang mereka kenakan, ada cerita yang jarang terdengar.

Cerita tentang rasa lelah.

Cerita tentang tekanan yang dipendam.

Cerita tentang perasaan yang sering kali disimpan agar tetap terlihat kuat di hadapan masyarakat.

Kisah-kisah itulah yang ditemui Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., saat mendampingi staf dan relawan PMI yang terlibat dalam respons Gempa Flores di Nusa Tenggara Timur.

Sebagai Fasilitator Dukungan Kelompok PMI, relawan PMI Provinsi Jawa Tengah, sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, Yuli datang bukan membawa bantuan logistik atau perlengkapan darurat.

Ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Ia datang untuk mendengarkan.

Bersama Noviyanti dari PMI Jakarta Timur, Yuli menjalankan Layanan Dukungan Psikososial PMI Pusat bagi staf dan relawan di wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat pada Oktober 2026.

Bagi sebagian orang, duduk dan berbicara mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi para relawan yang selama berminggu-minggu fokus membantu orang lain, kesempatan untuk didengarkan ternyata menjadi kebutuhan yang sangat berarti.

Ketika Penolong Menyimpan Lelahnya Sendiri

Gempa Flores tidak hanya meninggalkan dampak bagi masyarakat terdampak.

Bencana juga menghadirkan tantangan besar bagi para relawan yang setiap hari berada di lapangan.

Mereka membantu asesmen kebutuhan masyarakat.

Mereka mendistribusikan bantuan.

Mereka mendukung pelayanan air bersih dan sanitasi.

Mereka berkoordinasi dengan berbagai pihak agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Semua pekerjaan itu dilakukan dari pagi hingga malam, bahkan dalam beberapa situasi harus berlangsung selama berhari-hari tanpa ritme kerja yang normal.

Lama-kelamaan, kelelahan mulai muncul.

Bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional.

Ada relawan yang merasa sedih ketika bertemu warga yang kehilangan tempat tinggal.

Ada yang merasa tertekan karena kebutuhan masyarakat jauh lebih besar dibandingkan sumber daya yang tersedia.

Ada pula yang kesulitan menemukan waktu untuk beristirahat karena pekerjaan terus berdatangan.

Namun seperti banyak penolong lainnya, mereka sering memilih diam.

Mereka merasa tugas utama mereka adalah membantu orang lain.

Perasaan pribadi ditempatkan di urutan belakang.

Dari Desa ke Desa untuk Mendampingi Relawan

Rangkaian kegiatan dimulai pada 12 Oktober 2026 melalui koordinasi bersama Kepala Markas PMI Manggarai dan Koordinator Lapangan PMI Provinsi NTT.

Sehari kemudian, Yuli dan Noviyanti memberikan sesi dukungan kelompok kepada relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Lemarang dan Desa Para Lando.

Perjalanan berlanjut ke Camp WASH PMI di Desa Bajak untuk mendampingi relawan yang bertugas menyediakan pelayanan air bersih, sanitasi, dan higiene.

Pada 15 Oktober, sesi diberikan kepada staf dan relawan PMI Kabupaten Manggarai.

Kegiatan kemudian berlanjut ke Kabupaten Manggarai Timur pada 17 Oktober dan Manggarai Barat pada 19 Oktober.

Di setiap lokasi, mereka menemukan cerita yang berbeda-beda.

Namun satu hal selalu sama.

Semua relawan membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman.

Sebuah Lingkaran Kecil yang Mengubah Banyak Hal

Dalam sesi dukungan kelompok, peserta duduk bersama dalam suasana yang santai.

Tidak ada kewajiban berbicara.

Tidak ada paksaan untuk membuka pengalaman yang membuat tidak nyaman.

Masing-masing diberi kebebasan menentukan apa yang ingin mereka bagikan.

Pada awal pertemuan, sebagian peserta memilih diam.

Tetapi perlahan suasana berubah.

Satu orang mulai bercerita.

Kemudian yang lain mengikuti.

Cerita demi cerita mulai mengalir.

Tentang rasa lelah.

Tentang kerinduan pada keluarga.

Tentang tekanan ketika harus menghadapi berbagai situasi sulit di lapangan.

Tentang rasa takut melakukan kesalahan saat masyarakat sangat membutuhkan bantuan.

Yuli mengatakan bahwa momen seperti itu sangat penting bagi para relawan.

“Relawan sering kali lebih fokus membantu orang lain dibanding memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Padahal menjaga diri, mengenali kelelahan, dan berbagi pengalaman merupakan bagian penting untuk tetap bisa menjalankan pelayanan kemanusiaan secara berkelanjutan,” ujar Yuli.

Menurutnya, tidak ada relawan yang harus menghadapi tekanan sendirian.

Karena itu, dukungan dari sesama relawan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan selama penugasan.

Mendengarkan Adalah Bentuk Pertolongan

Sebagai psikolog, Yuli memahami bahwa tidak semua masalah membutuhkan solusi yang rumit.

Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan orang lain yang bersedia mendengar.

Ia melihat banyak relawan sebenarnya memiliki kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi.

Yang mereka perlukan adalah ruang yang aman untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.

“Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Mereka hanya perlu didengarkan. Saat seseorang merasa didengar dan dipahami, itu sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti,” kata Yuli.

Dalam setiap sesi, peserta juga mendapatkan psikoedukasi mengenai pengelolaan stres, pentingnya istirahat, komunikasi yang sehat, dan dukungan sosial antarrekan.

Pesan yang terus ditekankan adalah bahwa menjaga kesehatan mental bukan tanda kelemahan.

Sebaliknya, itu merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri dan tim.

Relawan yang Sehat Akan Menolong Lebih Banyak Orang

Selain mendampingi relawan, tim fasilitator juga berdiskusi dengan Pengurus PMI Kabupaten Manggarai Barat.

Salah satu poin penting yang mengemuka adalah perlunya dukungan diberikan selama masa tanggap darurat masih berlangsung, bukan hanya setelah penugasan selesai.

Pendekatan tersebut memungkinkan organisasi mengenali kebutuhan relawan lebih awal.

Mulai dari kebutuhan istirahat, pembagian beban kerja, penguatan koordinasi, hingga dukungan lanjutan apabila diperlukan.

Bagi PMI, perhatian terhadap relawan bukan sekadar program tambahan.

Ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pelayanan kemanusiaan.

Karena relawan yang sehat secara fisik dan mental akan lebih siap membantu masyarakat dalam jangka panjang.

Mereka yang Menolong Juga Layak Ditolong

Bencana sering menghadirkan kisah-kisah tentang solidaritas.

Tentang orang-orang yang datang membantu tanpa diminta.

Tentang relawan yang memilih tetap bertahan di lapangan ketika banyak orang memilih menjauh dari risiko.

Namun dari kegiatan yang difasilitasi Yuli Arinta Dewi dan Noviyanti ini muncul pelajaran yang tidak kalah penting.

Bahwa para penolong juga membutuhkan pertolongan.

Mereka membutuhkan ruang untuk beristirahat.

Mereka membutuhkan teman untuk mendengarkan.

Mereka membutuhkan dukungan agar tetap kuat menghadapi hari-hari berikutnya.

Karena pada akhirnya, relawan bukanlah manusia yang tidak pernah lelah.

Mereka adalah orang-orang biasa yang memilih melakukan hal luar biasa untuk membantu sesama.

Dan seperti siapa pun yang sedang berjuang, mereka pun layak didengar.

Penulis: Nur
Editor: Redaksi

Posting Komentar