HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Saat Penolong Juga Butuh Ditolong: Kisah Haru Penguatan Mental Penggerak Kemanusiaan di Bumi Manggarai


CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Lembaran kisah di balik operasi darurat pascabencana alam selalu menyisakan ruang kemanusiaan yang berliku. Ratusan personel lapangan yang mendedikasikan hidupnya mendampingi penyintas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini harus berjuang melewati masa-masa sulit akibat benturan emosional sekunder. Sadar akan besarnya beban psikologis tersebut, sebuah program khusus mengenai penguatan mental penggerak kemanusiaan resmi digulirkan secara menyentuh hati sebagai jangkar pelindung jiwa para penolong di medan krisis.

Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., Fasilitator Utama dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk menciptakan katarsis emosional. Di mana setiap penggerak kemanusiaan diberikan hak sepenuhnya untuk berhenti sejenak, didengarkan tanpa dihakimi, serta dipulihkan energi jiwanya demi menjaga kelangsungan pengabdian panjang mereka.
Noviyanti, Fasilitator Perwakilan Jakarta Timur, menyampaikan bahwa keberanian seorang rekan kerja untuk mengekspresikan rasa lelah, air mata, dan kecemasan di dalam ruang diskusi kelompok ini merupakan indikator tertinggi dari pulihnya resiliensi emosional tim penolong.
Masalah mendasar yang kerap luput dari perhatian publik adalah bagaimana para pengabdi ini terus-menerus mengabaikan alarm kesehatan mental mereka sendiri. Menyerap duka penyintas dari desa ke desa berpotensi melahirkan luka emosional yang tidak berdarah. Jika ruang katarsis ini absen, ancaman kejenuhan emosional akut (burnout) dipastikan akan meruntuhkan performa kerja sosial di lapangan. Sesi khusus ini hadir sebagai jawaban atas jeritan tak bersuara dari mereka yang setiap harinya dituntut tampil perkasa menguatkan orang lain. Analisis menyeluruh mengenai dampak makro serta tinjauan kausalitas kebencanaan ini dapat dipahami lebih lanjut melalui ulasan dampak gempa bumi terhadap ketahanan mental relawan.
Aksi pengosongan beban mental ini dilaksanakan teratur sepanjang periode 12 hingga 15 Oktober 2026. Tim psikolog bergerak menyusuri koridor koordinasi markas regional, lalu turun menemui jajaran SIBAT di keheningan Desa Para Lando dan Desa Lemarang. Esoknya, pelukan emosional diberikan bagi tim WASH penjaga mata air, sebelum akhirnya seluruh penggerak kemanusiaan reguler di Kabupaten Manggarai dikumpulkan dalam satu lingkaran kebersamaan yang dipenuhi rasa saling menghormati.
Manfaat dari perjalanan penuh air mata dan tawa ini melahirkan transformasi psikologis yang luar biasa. Para penolong kini pulang membawa pemahaman baru bahwa menjaga diri sendiri adalah prasyarat mutlak untuk dapat menjaga orang lain. Ke depan, manfaat nyata ini akan segera disebarluaskan melalui komitmen replikasi sistem pendampingan ke wilayah Kabupaten Manggarai Timur serta Kabupaten Manggarai Barat.
Inspirasi yang memancar dari daratan Manggarai mengingatkan dunia bahwa ketangguhan sejati tidak pernah berdiri di atas pemaksaan diri yang rapuh. Kekuatan sejati justru mengalir ketika para penolong bersedia saling merendahkan hati, duduk melingkar, dan mengakui kebutuhan untuk dikuatkan. Karena pada akhir cerita, gerakan kemanusiaan yang abadi adalah gerakan yang dibangun oleh manusia-manusia yang saling menjaga dan menguatkan satu sama lain di tengah badai kehidupan.
Penulis: Edho 
Editor: Redaksi
Posting Komentar