Dari PMR, Siti Belajar Menolong dan Tumbuh Menjadi Relawan Muda
CERITARELAWAN.com, LUMAJANG - PMR Lumajang bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler bagi Siti Robiatul Munawaroh. Bagi siswi SMA Negeri Jatiroto itu, PMR menjadi tempat belajar tentang kepedulian, persahabatan, dan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Di usianya yang masih muda, Siti memilih bergabung dengan Palang Merah Remaja (PMR) karena memiliki keinginan sederhana. Ia ingin bisa membantu sesama dan menebarkan manfaat di lingkungan sekitarnya.
Keputusan tersebut kemudian membawanya pada banyak pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pengalaman itu ia ceritakan saat menjadi salah satu narasumber dalam talkshow bertema “PMR Semangat Pemuda di Bidang Kemanusiaan” yang diselenggarakan PMI Kabupaten Lumajang bersama LPPL Radio Suara Lumajang FM pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut hadir Wakil Ketua Bidang SDM, Relawan dan PMR PMI Lumajang Dra. Iswarini Jamilah, staf bidang PMR Dwi Endah Nugraheni, SH, Pembina PMR SMP Negeri 1 Lumajang Sofiana Rusdianti, Amd.Kep, serta perwakilan anggota PMR, Siti Robiatul Munawaroh.
Bagi Siti, PMR bukan hanya tentang teori pertolongan pertama atau kegiatan organisasi di sekolah. PMR telah memberinya kesempatan untuk bertemu banyak orang, belajar bekerja sama, serta memahami arti kemanusiaan dari berbagai sudut pandang.
"Banyak sekali manfaatnya ikut PMR, pokoknya asik dan keren ikut PMR. Saya pernah ikut Jumbarakab tahun 2023 dan Jumbaraprov di Gresik tahun 2025," ujar Siti.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan antusiasme seorang remaja yang menemukan ruang untuk bertumbuh melalui kegiatan positif.
Belajar Menjadi Peduli Sejak Usia Sekolah
Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, PMI Lumajang menilai pendidikan karakter dan nilai kemanusiaan perlu terus ditanamkan kepada generasi muda. Salah satu caranya adalah melalui PMR yang berada di lingkungan sekolah.
Melalui PMR, para pelajar tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan dan kepalangmerahan. Mereka juga belajar disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi anak-anak dan remaja ketika kelak terjun ke masyarakat.
Bagi Siti, pelajaran paling berharga selama mengikuti PMR adalah memahami bahwa menolong orang lain tidak selalu harus dilakukan dalam tindakan besar.
Membantu teman yang sedang sakit, mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, mendukung kegiatan sosial sekolah, hingga menjadi pendengar bagi teman yang membutuhkan, merupakan bentuk nyata kepedulian yang bisa dilakukan setiap hari.
PMR Membutuhkan Dukungan Bersama
Dalam talkshow tersebut, Wakil Ketua Bidang SDM, Relawan dan PMR PMI Lumajang, Dra. Iswarini Jamilah, menjelaskan bahwa pengembangan PMR di Lumajang masih membutuhkan dukungan banyak pihak.
Menurutnya, jumlah unit PMR tingkat sekolah dasar masih perlu ditingkatkan agar pembinaan kemanusiaan dapat dimulai sejak usia yang lebih dini.
"Sampai saat ini hanya ada beberapa lembaga sekolah tingkat SD yang sudah mendirikan unit PMR. Langkah melakukan MoU dengan dinas terkait sudah kami lakukan," terang Iswarini.
Ia berharap momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi penyemangat bagi anggota PMR untuk terus berlatih, belajar, dan mengembangkan kemampuan sesuai jenjang usianya.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. PMI melihat PMR sebagai tempat lahirnya calon relawan kemanusiaan masa depan yang kelak mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Sekolah Menjadi Rumah Bagi Relawan Muda
Keberhasilan pembinaan PMR juga sangat dipengaruhi dukungan sekolah.
Hal itu disampaikan oleh Sofiana Rusdianti, Amd.Kep, Pembina PMR SMP Negeri 1 Lumajang. Menurutnya, dukungan sekolah menjadi faktor penting agar berbagai program PMR dapat berjalan optimal.
"PMR di sekolah kami itu enak banget, seluruh kebutuhan kegiatan dipenuhi sekolah. Kendalanya tinggal manajemen waktu anak-anak antara kegiatan PMR dan tugas sekolah," ujarnya.
Dukungan tersebut memberikan ruang yang baik bagi siswa untuk berkembang, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik mereka.
Dengan lingkungan yang mendukung, anggota PMR dapat lebih leluasa belajar keterampilan baru sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Menyiapkan Generasi Relawan Masa Depan
Sementara itu, staf bidang PMR PMI Lumajang, Dwi Endah Nugraheni, SH, menjelaskan bahwa proses pembentukan unit PMR di sekolah sebenarnya cukup mudah.
Sekolah yang ingin membentuk PMR cukup berkoordinasi dan mengajukan surat kepada PMI Lumajang untuk mendapatkan registrasi serta pembinaan.
Menurutnya, peningkatan kualitas anggota juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti latihan gabungan dan uji kecakapan.
Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi anggota PMR untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas jejaring pertemanan.
Bagi para remaja seperti Siti, pengalaman mengikuti PMR bukan hanya menjadi catatan selama masa sekolah. Pengalaman itu telah membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan dan hubungan dengan sesama manusia.
Di balik seragam PMR yang mereka kenakan, tersimpan semangat untuk membantu, belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Cerita Siti mungkin hanya satu dari banyak kisah anggota PMR di Kabupaten Lumajang. Namun kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kemanusiaan dapat dimulai dari lingkungan sekolah.
Ketika semakin banyak anak muda memilih peduli, semakin besar pula harapan lahirnya generasi yang tangguh, berempati, dan siap hadir untuk sesama saat dibutuhkan. Itulah nilai yang terus dijaga dan ditumbuhkan PMI Kabupaten Lumajang melalui PMR, sebagai investasi kemanusiaan untuk masa depan.
