Pengakuan Jujur Relawan Wanita Manggarai: Pengalaman Menantang di Camp WASH Nggorang
Sabtu, Oktober 17, 2026
CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Di balik deru mesin pompa dan jernihnya air yang mengalir di wilayah pascabencana Nusa Tenggara Timur, ada kisah ketulusan yang ditulis oleh tangan-tangan para pekerja kemanusiaan lokal. Perjuangan memulihkan tatanan hidup warga tidak melulu soal mendirikan posko hunian, melainkan tentang bagaimana para pengabdi ini bertaruh waktu mempelajari hal-hal rumit demi mengamankan kesehatan masyarakat. Melalui program penguatan mental penggerak kemanusiaan yang diwujudkan dalam pelatihan teknis di lapangan, dedikasi para relawan di Kabupaten Manggarai kini bertransformasi menjadi sebuah keahlian profesional yang menyelamatkan nyawa.
Masalah mendasar yang kerap dihadapi di lokasi pengungsian krisis adalah tingginya risiko kontaminasi air baku yang dapat memicu wabah penyakit dalam skala luas. Mengandalkan semangat kepedulian saja tidaklah cukup; tim lapangan dihadapkan pada tantangan nyata untuk menguasai formula kimia penjernihan air serta taktik edukasi higienitas yang tepat di tengah keterbatasan fasilitas. Tanpa adanya pembekalan kompetensi yang mumpuni, para penolong ini akan terjebak dalam kebingungan operasional saat menghadapi dinamika tuntutan sanitasi darurat yang kian mendesak dari hari ke hari. Tinjauan kausalitas serta analisis dampak makro dari manajemen krisis non-fisik ini dipaparkan secara mendalam pada ulasan dampak gempa bumi terhadap ketahanan mental relawan.
Merespons masalah tersebut, aksi nyata segera digulirkan melalui pelaksanaan On-the-Job Training (OJT) selama 5 hari, sejak 12 hingga 16 Oktober 2026 di camp Nggorang, Desa Bajak. Aksi peningkatan kapasitas ini diikuti secara antusias oleh 13 personel gabungan relawan reguler dan tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat). Di bawah bimbingan instuktur utusan pusat dan Bulan Sabit Merah Malaysia, para peserta melakukan aksi penataan ulang sistem produksi, klorinasi air baku, hingga penetapan jalur distribusi promosi kebersihan.
Maria Odilia Pila merupakan relawan lokal Kabupaten Manggarai yang menjadi salah satu peserta dalam kegiatan on job training tersebut memberikan kesaksiannya secara emosional.
"OJT ini merupakan hal baru dan pengalaman yang menarik, kami diajarkan bagaimana memproduksi air yaitu mencampur klorin dan asam sulfat untuk membunuh bakteri yang ada di air, promosi kebersihan mulai dari wadah penampung hingga proses distribusi kepada masyarakat," ungkap Odi mengisahkan perjuangannya menjinakkan zat kimia.
Kesaksian tersebut dilengkapi oleh pernyataan Nur Amirah dari Bulan Sabit Merah Malaysia yang mengamati komitmen para relawan lokal selama masa inkubasi teknis berlangsung.
"Saya ditugaskan untuk membantu dalam layanan WASH tepatnya bagian air dan sanitasi serta promosi kebersihan, yang saya lihat terkait layanan promosi kebersihan dan kesehatan itu disatukan, padahal dalam WASH itu dipisahkan karena tujuannya berbeda," jelas Nur Amirah menekankan kedisiplinan parameter kerja internasional.
Manfaat dari jalannya latihan lapangan yang menguras energi ini dirasakan langsung berupa peningkatan ketajaman insting kemanusiaan para penggerak krisis. Relawan kini memiliki kecakapan sains dalam mencampur senyawa disinfektan untuk membunuh bakteri patogen, sekaligus mahir mengelola wadah penampung air publik secara higienis. Manfaat jangka panjangnya adalah terbentuknya postur tim WASH lokal yang mandiri dan responsif, yang siap direplikasi guna memperkuat sistem ketahanan logistik air darurat di Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai Barat.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi
