HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Ketika Relawan Bersiap Menyalurkan Harapan untuk Penyintas Gempa Flores

CERITARELAWAN.com, MANGGARAI - Relawan PMI Gempa Flores berkumpul di sebuah ruang pelatihan di Ruteng dengan tujuan yang sama, yaitu mempersiapkan diri membantu masyarakat yang masih berjuang bangkit setelah Gempa Flores 2026.

Di balik deretan materi, formulir pendataan, dan diskusi mengenai bantuan tunai, tersimpan satu tujuan besar yang menjadi semangat seluruh peserta: memastikan masyarakat terdampak memperoleh bantuan yang layak dan tepat sasaran.

Selama tiga hari, 25 hingga 27 Oktober 2026, sebanyak 26 pengurus, staf, dan relawan PMI dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Nagekeo mengikuti On-the-Job Training (OJT) Cash and Voucher Assistance (CVA) di Rumah Ret-Ret Puspita Efata, Ruteng.

Bagi sebagian orang, pelatihan mungkin hanya dipandang sebagai kegiatan rutin. Namun bagi para relawan PMI yang hadir, pelatihan ini memiliki arti lebih dalam.

Mereka sadar bahwa setelah pelatihan selesai, mereka akan bertemu langsung dengan keluarga-keluarga yang kehilangan kenyamanan hidup akibat gempa. Mereka akan berhadapan dengan warga yang rumahnya rusak, yang sedang menyusun kembali harapan, dan yang berusaha menata ulang kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya setiap materi yang diberikan selama pelatihan diikuti dengan serius.

Utusan IFRC, Husni Mubarok, menjelaskan bahwa pelatihan dilakukan agar tim PMI di empat kabupaten mampu menjalankan distribusi bantuan tunai dengan baik.

“Tujuan OJT ini sebenarnya adalah upaya kita secara cepat untuk mempersiapkan tim, khususnya teman-teman di empat kabupaten, untuk melakukan distribusi cash yang merupakan salah satu modalitas bantuan kita kepada masyarakat yang terdampak bencana.”

Kalimat tersebut menggambarkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak berhenti pada pengumpulan bantuan. Proses penyaluran yang tepat justru menjadi tahapan yang sangat menentukan.

Di lapangan, relawan tidak hanya diminta bekerja cepat. Mereka juga harus mampu bekerja teliti.

Satu kesalahan dalam verifikasi data dapat berpengaruh terhadap ketepatan sasaran program. Karena itu OJT CVA dirancang agar peserta memahami seluruh tahapan yang harus dilakukan sebelum bantuan sampai ke tangan masyarakat.

Peserta dari PMI Manggarai Timur, Viktorinus Bomo, merasakan bahwa pelatihan memberikan banyak pengetahuan baru yang akan membantu relawan bekerja lebih baik.

“Proses kegiatan OJT berlangsung di hari pertama yaitu tadi rangkaian kegiatan dimulai dan dibuka oleh PMI Provinsi NTT, IFRC dan Fasilitator dari PMI Pusat serta materi pengantar atau gambaran umum terkait materi OJT bantuan tunai dan voucher atau CVA.”

Selain memahami mekanisme program, para peserta juga mempelajari kode etik yang menjadi pedoman kerja PMI. Nilai-nilai kemanusiaan, netralitas, kejujuran, dan akuntabilitas menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Koordinator TDB Gempa Bumi PMI NTT, Adrian Jeharun, mengingatkan bahwa waktu yang tersedia untuk mengimplementasikan program cukup terbatas.

Sementara itu masyarakat telah melalui lebih dari dua bulan masa sulit setelah bencana terjadi.

“Peserta dari empat kabupaten ini baik pengurus, staf dan relawan diharapkan mampu belajar dengan baik terkait mekanisme penyaluran cash dan voucher ini. Kita punya waktu hanya satu bulan untuk mengimplementasikan bantuan ini.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di balik pelatihan terdapat rasa tanggung jawab yang besar.

Setiap relawan yang hadir bukan hanya sedang belajar mengenai prosedur administrasi. Mereka sedang mempersiapkan diri menjadi penghubung antara bantuan kemanusiaan dan masyarakat yang membutuhkan.

Ketua PMI Kabupaten Manggarai, Hyronnimus Kaunang, juga mengingatkan para peserta mengenai pentingnya integritas.

“Saya minta semua peserta belajar serius untuk mengambil langkah cerdas, disiplin, jujur dan teliti dalam menjalankan semua proses mulai dari assesment, verifikasi hingga penyaluran bantuan.”

Pesan tersebut mendapat perhatian khusus dari seluruh peserta. Sebab relawan PMI memahami bahwa kepercayaan masyarakat merupakan modal utama dalam setiap kegiatan kemanusiaan.

Pelatihan ini diikuti 26 peserta yang terdiri atas 18 laki-laki dan 8 perempuan. Mereka didampingi tiga fasilitator yaitu Husni Mubarok, Anani Wele Soares, dan Hijir Ismail.

Meski berasal dari kabupaten yang berbeda, seluruh peserta memiliki semangat yang sama untuk membantu masyarakat pulih dari dampak bencana.

Tidak ada cerita penyintas yang disampaikan secara langsung dalam bahan kegiatan ini. Namun seluruh proses pelatihan dirancang dengan satu tujuan, yaitu memastikan masyarakat terdampak memperoleh dukungan yang dapat membantu mereka menjalani proses pemulihan.

Di situlah makna penting program Cash and Voucher Assistance. Bantuan tidak hanya diberikan kepada masyarakat, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menentukan kebutuhan yang paling mendesak bagi keluarganya.

Pendekatan ini menempatkan penyintas bencana sebagai subjek yang memiliki pilihan, bukan sekadar penerima bantuan.

Bagi para relawan PMI, pelatihan ini bukan akhir dari proses belajar. Justru setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka akan menghadapi tantangan yang sesungguhnya di lapangan.

Namun dengan bekal yang diperoleh selama tiga hari pelatihan, mereka membawa satu keyakinan bahwa setiap data yang diverifikasi, setiap formulir yang diperiksa, dan setiap bantuan yang disalurkan memiliki arti penting bagi keluarga yang sedang berjuang bangkit.

Pada akhirnya, kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Kadang ia hadir melalui ketelitian seorang relawan saat memverifikasi data, kejujuran saat menjalankan tugas, dan kesungguhan belajar untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Penulis: Edho
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan