Ketika Mendengar Menjadi Bentuk Pertolongan, Perjalanan Sepekan Menyusuri Manggarai
CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Ketika berbicara tentang kerja kemanusiaan, banyak orang membayangkan bantuan logistik, layanan kesehatan, atau berbagai bentuk bantuan yang dapat dilihat secara langsung. Namun bagi Aip Sarifuddin, ada satu bentuk bantuan yang sering kali luput dari perhatian: kesediaan untuk mendengarkan.
Selama satu pekan menjalankan tugas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Aip tidak hanya mengunjungi lokasi pelayanan, mendampingi relawan, atau melihat distribusi bantuan berjalan. Ia juga mencoba memastikan bahwa masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di lapangan, mendengarkan sering kali menjadi langkah pertama untuk memahami persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi masyarakat.
Karena tidak semua kebutuhan terlihat dari laporan.
Tidak semua persoalan muncul dalam data.
Dan tidak semua harapan masyarakat tersampaikan jika tidak ada yang bersedia mendengar.
Menyusuri Desa, Mencari Suara yang Sering Tak Terdengar
Perjalanan itu dimulai dari Dusun Narang, Desa Cambir Leca.
Di lokasi tersebut, layanan kesehatan berlangsung di SDK Narang I. Seperti kegiatan kesehatan pada umumnya, masyarakat datang untuk memperoleh pelayanan yang mereka butuhkan.
Namun bagi Aip, pelayanan tidak berhenti ketika pemeriksaan selesai atau ketika petugas meninggalkan lokasi.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana masyarakat merasakan layanan tersebut.
Apakah mereka merasa terbantu?
Apakah masih ada kebutuhan lain yang belum terpenuhi?
Apakah mereka mengetahui ke mana harus menyampaikan masukan jika menemui kendala?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian dari proses pengambilan umpan balik yang dilakukan selama pendampingan.
Di banyak tempat, masyarakat sering kali terbiasa menerima bantuan tanpa terbiasa menyampaikan pendapat mengenai bantuan yang mereka terima. Padahal, pengalaman mereka merupakan sumber informasi yang sangat berharga.
Dari suara masyarakat itulah sebuah layanan dapat terus diperbaiki.
Belajar dari Mata Anak-Anak
Perjalanan berlanjut menuju Desa Lemarang.
Di sana, kegiatan dukungan psikososial melalui Pojok Ramah Anak menjadi salah satu fokus pendampingan.
Suasana yang terlihat berbeda dengan lokasi distribusi bantuan atau pelayanan kesehatan. Anak-anak berkumpul, bermain, berinteraksi, dan mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk memberikan ruang aman bagi mereka.
Di tengah proses pemulihan, kebutuhan anak-anak tidak selalu dapat dipenuhi hanya melalui bantuan fisik.
Mereka membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa aman.
Mereka membutuhkan ruang untuk tertawa, belajar, bermain, dan kembali membangun rasa percaya diri.
Melalui kegiatan tersebut terlihat bahwa pelayanan kemanusiaan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar penyaluran bantuan.
Anak-anak mengajarkan satu hal penting: proses pemulihan bukan hanya tentang memperbaiki keadaan fisik, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis dan sosial masyarakat.
Dan untuk memahami kebutuhan itu, kembali diperlukan satu hal yang sama, yaitu mendengarkan.
Ketika Bantuan Membuka Cerita Baru
Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama pendampingan terjadi saat distribusi bantuan logistik di Yayasan Santu Damian Cancar.
Awalnya kegiatan berjalan sebagaimana biasanya.
Bantuan disiapkan, diserahkan kepada penerima manfaat, dan didokumentasikan sebagai bagian dari laporan kegiatan.
Namun ketika percakapan mulai terbuka, muncul kebutuhan yang sebelumnya tidak tercatat dalam daftar distribusi bantuan.
Suster Beatrix Sero, SSPS, selaku Ketua Yayasan Santu Damian Cancar, menyampaikan harapan agar yayasan memperoleh pendampingan dokter dan layanan psikososial.
Permintaan itu sederhana.
Namun maknanya sangat besar.
Permintaan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat tidak selalu berhenti pada bantuan yang sudah tersedia.
Terkadang, bantuan yang diberikan justru membuka pintu untuk mengetahui kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Kalau saat itu tidak ada ruang dialog, kemungkinan kebutuhan tersebut tidak akan pernah terdengar.
Dan ketika kebutuhan tidak terdengar, peluang untuk memberikan pelayanan yang lebih tepat sasaran pun menjadi semakin kecil.
Dari Mendengar Menuju Kepercayaan
Salah satu tantangan terbesar dalam kerja kemanusiaan bukan hanya menyalurkan bantuan, melainkan membangun kepercayaan.
Masyarakat akan percaya ketika mereka merasa dihargai.
Masyarakat akan percaya ketika mereka merasa dilibatkan.
Dan masyarakat akan percaya ketika suara mereka memperoleh tanggapan yang jelas.
Karena itu, setiap masukan yang diterima tidak dipandang sebagai kritik yang menghambat pekerjaan.
Sebaliknya, masukan menjadi bahan pembelajaran.
Setiap saran membuka peluang perbaikan.
Setiap keluhan membantu menemukan celah yang perlu diperbaiki.
Setiap kebutuhan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa pelayanan harus terus berkembang mengikuti kondisi masyarakat.
Dalam pengalaman di Manggarai, proses itu terlihat jelas.
Masukan yang diberikan masyarakat dicatat, dikomunikasikan, dan diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti.
Mungkin tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi secara langsung.
Namun setidaknya masyarakat mengetahui bahwa suara mereka tidak berhenti di tengah jalan.
Menemukan Tantangan yang Selama Ini Tidak Terlihat
Selain berinteraksi dengan masyarakat, pendampingan juga dilakukan bersama relawan dan pengurus di tingkat kabupaten.
Di balik berbagai pelayanan yang telah berjalan, ditemukan sejumlah tantangan yang selama ini belum banyak terlihat dari luar.
Salah satunya berkaitan dengan saluran komunikasi.
Masyarakat sebenarnya sudah diberikan akses untuk menyampaikan umpan balik melalui hotline yang tersedia.
Namun hotline tersebut masih menggunakan nomor relawan dan belum menggunakan nomor khusus yang dikelola secara permanen.
Kondisi itu membuat keberlanjutan layanan komunikasi menjadi tantangan tersendiri.
Persoalan lain muncul pada media sosial.
Akun yang sebelumnya digunakan sebagai sarana komunikasi mengalami kendala akses karena keluar dari sistem, sementara nomor telepon yang terhubung sudah tidak aktif.
Bagi sebagian orang, persoalan tersebut mungkin terlihat teknis.
Namun dalam pelayanan kemanusiaan, saluran komunikasi yang tidak berfungsi dapat membuat suara masyarakat tidak tersampaikan secara optimal.
Dan ketika saluran komunikasi terganggu, hubungan antara masyarakat dan penyedia layanan menjadi tidak sekuat yang diharapkan.
Membangun Sistem yang Mau Mendengar
Dari berbagai diskusi yang dilakukan selama pendampingan, muncul kesadaran bahwa mendengarkan membutuhkan sistem yang kuat.
Kesediaan mendengar saja tidak cukup.
Harus ada sarana yang memudahkan masyarakat menyampaikan kebutuhan.
Harus ada mekanisme yang memastikan setiap masukan dicatat.
Dan harus ada proses yang menjamin bahwa informasi tersebut diteruskan kepada pihak yang tepat.
Karena itu, sejumlah langkah perbaikan mulai dirancang.
Di antaranya penggunaan nomor hotline khusus, penguatan perangkat pendukung layanan umpan balik, serta penataan kembali media sosial agar dapat berfungsi sebagai ruang komunikasi yang aktif.
Langkah-langkah tersebut mungkin tidak terlihat sebesar pembangunan fasilitas atau distribusi bantuan dalam jumlah besar.
Namun dampaknya sangat penting.
Sebab pelayanan yang baik selalu dimulai dari kemampuan mendengar dengan baik.
Setiap Suara Memiliki Arti
Selama satu minggu berada di Manggarai, banyak pelajaran yang muncul dari setiap lokasi yang dikunjungi.
Di Dusun Narang, terlihat pentingnya mendengarkan pengalaman masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Di Desa Lemarang, terlihat bahwa kebutuhan anak-anak juga membutuhkan perhatian yang serius.
Di Yayasan Santu Damian Cancar, muncul pelajaran bahwa kebutuhan masyarakat bisa berkembang melampaui bantuan yang sudah tersedia.
Sementara dari proses evaluasi sistem komunikasi, muncul kesadaran bahwa mendengar juga membutuhkan infrastruktur yang memadai.
Semua pengalaman tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang sama.
Kerja kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang memberi.
Kerja kemanusiaan juga tentang memahami.
Memahami tidak bisa dilakukan tanpa mendengar.
Dan mendengar tidak bisa dilakukan tanpa membuka ruang yang aman bagi masyarakat untuk bersuara.
Mendengar Hari Ini, Memperbaiki Hari Esok
Pada akhirnya, keberhasilan suatu pelayanan tidak hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang tersalurkan atau berapa banyak kegiatan yang terlaksana.
Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan sebuah organisasi untuk terus belajar dari masyarakat yang dilayaninya.
Karena masyarakat bukan sekadar penerima manfaat.
Mereka adalah sumber informasi, sumber pembelajaran, sekaligus mitra dalam membangun pelayanan yang lebih baik.
Perjalanan sepekan di Manggarai menunjukkan bahwa setiap suara memiliki nilai.
Setiap masukan membawa peluang perbaikan.
Dan setiap percakapan membuka kesempatan untuk membangun pelayanan yang lebih manusiawi.
Mungkin perubahan tidak selalu terjadi dalam waktu singkat.
Namun ketika masyarakat memiliki ruang untuk berbicara dan pelayanan memiliki kemauan untuk mendengar, maka langkah menuju perbaikan sudah dimulai.
Dari Dusun Narang hingga Cancar, dari ruang kelas hingga panti asuhan, pelajaran yang muncul tetap sama: mendengar bukanlah pekerjaan tambahan dalam kerja kemanusiaan.
Mendengar adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi
