HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

“Kami Masih Takut Gempa Susulan”, Cerita dari Panti di Manggarai


CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – “Saat ini kami masih ada rasa cemas dan takut bahkan ketika ada aktivitas dalam ruangan kami masih rasa takut dengan adanya gempa susulan.”

Kalimat itu disampaikan Sabina Tiwung (70), salah seorang pengasuh di Panti Asuhan Yayasan Sesamamu Wae Peca, Kabupaten Manggarai. Meski waktu terus berjalan sejak gempa mengguncang Flores, rasa cemas ternyata belum sepenuhnya hilang dari ingatan sebagian penyintas.

Cerita Sabina menjadi salah satu gambaran kondisi yang masih dirasakan penghuni panti asuhan dan pusat rehabilitasi di Kabupaten Manggarai. Karena itu, ketika bantuan kemanusiaan tiba pada 16 Oktober 2026, yang hadir bukan hanya bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga perhatian bagi mereka yang sedang berusaha bangkit dari dampak bencana.

Pada hari itu, PMI Kabupaten Manggarai menyalurkan bantuan kemanusiaan yang bersumber dari Pangdam Siliwangi melalui PMI Pusat kepada Yayasan Karya Bhakti dan Yayasan Sesamamu.

Yayasan Karya Bhakti merupakan pusat rehabilitasi dan Klinik Renceng Mose, sedangkan Yayasan Sesamamu merupakan panti asuhan yang berada di Wae Peca.

Penyaluran dilakukan oleh relawan PMI Kabupaten Manggarai dengan didampingi Ketua PMI Kabupaten Manggarai serta pendamping dari PMI Pusat.

Bantuan yang diberikan berupa bahan makanan, beras, susu, mi instan, minyak goreng, jersey, dan alas tidur untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari para penerima manfaat yang masih menjalani proses pemulihan pascagempa.

Wajah Bahagia Saat Bantuan Tiba

Ketua PMI Kabupaten Manggarai, Hironnymus A. Kaunang, BCKN, menyaksikan langsung suasana ketika bantuan diterima para penghuni panti dan para pengasuh.

Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi setelah gempa, bantuan tersebut disambut dengan rasa syukur.

“Seluruh anak panti dan para pengasuhnya memancarkan secercah cahaya bahagia pada wajah-wajah mereka ketika menerima bantuan kemanusiaan dari KODAM III Siliwangi dan PMI, akan tetapi masih nampak bawaan trauma dari anak-anak panti yang membutuhkan pendampingan psikologi lebih lanjut,” ujar Hironnymus.

Menurutnya, perhatian terhadap kehidupan anak-anak panti tidak cukup dilakukan oleh satu pihak saja.

Ia menilai dukungan pemerintah, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan sangat diperlukan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup anak-anak panti beserta para pengasuhnya.

“Kehidupan anak panti perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, masyarakat dan lembaga kemanusiaan lainnya dalam meningkatkan kualitas dan taraf hidup para anak panti dan pengasuhnya, baik yang berkaitan dengan sarana dan prasarana maupun kebutuhan kehidupan lainnya,” katanya.

Saat Gempa Membuat Pasien Panik

Di Yayasan Karya Bhakti, kenangan tentang gempa masih tersimpan dalam ingatan para pasien dan pengelola.

Ketua Yayasan Karya Bhakti, Bruder Honorius, FC, menceritakan bagaimana suasana saat gempa terjadi.

Menurutnya, banyak pasien mengalami kepanikan. Sebagian berusaha keluar dari ruangan, sementara sebagian lainnya belum memahami apa yang sedang terjadi.

“Saat gempa pasien banyak yang mengalami kepanikan, ada yang sampai keluar dari ruangan, ada juga beberapa yang tidak paham apakah itu gempa atau bencana, tapi melihat struktur bangunan yang retak mereka takut juga, jadi tingkat kepanikannya terlihat siklusnya terpengaruh yaitu malas makan dan langsung ingat rumah,” jelasnya.

Ia mengatakan pengalaman tersebut menjadi situasi yang tidak mudah bagi pasien yang sedang menjalani proses rehabilitasi.

Bruder Honorius juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memberikan bantuan kemanusiaan.

“Kami juga mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang sudah berbaik hati kepada kami terlebih khusus untuk KODAM III Siliwangi, PMI Pusat dan PMI Kabupaten Manggarai,” ujarnya.

Tidur di Tenda Selama Berbulan-bulan

Cerita lain datang dari Yayasan Sesamamu.

Ketua Yayasan Sesamamu, Pater Rafael MESI, SVD, menjelaskan bahwa saat gempa terjadi seluruh penghuni berada dalam kondisi aman. Namun kerusakan pada bangunan kapela membuat mereka tidak dapat beraktivitas seperti biasa.

“Gempa pagi itu semuanya aman, karena kami sudah bangun, tapi kami melihat bangunan kapela sudah retak yang mengharuskan kami tidur di tenda, awalnya tenda hanya 3 unit dan seminggu kemudian ada tambahan 3 unit lagi dari Dinas Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” ungkapnya.

Menurut Pater Rafael, dampak yang paling berat bukan hanya kerusakan fisik bangunan, melainkan trauma yang masih dirasakan anak-anak.

“Dampak yang serius adalah trauma, anak-anak masih takut dengan adanya gempa susulan, makanya kami tidur di luar itu hampir dua bulan lebih,” katanya.

Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak berhenti pada penyediaan kebutuhan dasar semata.

Harapan untuk Pemulihan Psikososial

Selain bantuan logistik, pihak panti berharap adanya dukungan psikososial bagi anak-anak yang masih mengalami dampak emosional akibat gempa.

Menanggapi harapan tersebut, PMI menyampaikan akan berkoordinasi dengan markas untuk menjajaki penjadwalan layanan Psychosocial Support (PSS) atau dukungan psikososial sesuai kebutuhan dan kapasitas yang tersedia.

Bagi para penghuni panti, bantuan yang datang menjadi bentuk perhatian yang berarti di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung. Sementara bagi PMI Kabupaten Manggarai, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk terus hadir membantu masyarakat terdampak bencana, baik melalui pemenuhan kebutuhan dasar maupun perhatian terhadap kebutuhan pemulihan psikososial setelah gempa Flores.

Penulis: Edho

Editor: Redaksi

Posting Komentar