Saat Ancaman Gempa Ada di Dekat Rumah, Mereka Memilih Belajar Bersama

CERITARELAWAN.com, BANYUWANGI - Pagi itu Balai Desa Bimorejo tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, lembar materi dibagikan kepada peserta, sementara beberapa warga berbincang mengenai rumah dan kampung mereka. Tidak ada suasana tegang seperti saat simulasi bencana. Namun di balik pertemuan sederhana itu tersimpan sebuah tujuan besar, yaitu belajar melindungi keluarga dari ancaman gempa bumi.
Mereka adalah bagian dari warga Sesar Wongsorejo yang selama ini hidup berdampingan dengan salah satu sesar aktif di Jawa Timur. Sebagian merupakan anggota Satuan Siaga Berbasis Masyarakat (SIBAT), sebagian lagi perangkat desa, tokoh masyarakat, dan tukang bangunan lokal. Mereka datang dari Desa Bimorejo dan Bajulmati untuk mengikuti Pelatihan Retrofitting atau Pemodelan Rumah Aman Gempa yang berlangsung pada 29-31 Oktober 2026.
Bagi sebagian orang, pelatihan ini mungkin hanya terlihat sebagai kegiatan belajar membangun rumah yang lebih kuat. Namun bagi peserta yang hadir, kegiatan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mereka belajar bagaimana menjaga keselamatan keluarga, tetangga, dan masyarakat ketika bencana datang tanpa bisa diprediksi.
Di wilayah yang berdekatan dengan Sesar Wongsorejo, ancaman gempa bukan sekadar cerita yang dibaca di berita. Ia merupakan risiko nyata yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Karena itulah ketika kesempatan belajar datang, masyarakat memilih mengambil bagian.
Belajar Demi Keselamatan Orang Terdekat
Di antara peserta yang hadir terdapat Umy Nasikhah, anggota SIBAT Desa Bimorejo. Selama ini ia aktif dalam berbagai kegiatan kesiapsiagaan masyarakat. Namun pelatihan rumah aman gempa memberikan pengalaman yang berbeda.
Biasanya masyarakat lebih banyak diajak memahami cara evakuasi ketika bencana terjadi. Kali ini peserta justru belajar bagaimana mengurangi risiko sebelum bencana datang.
Bagi Umy, materi yang diberikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hampir setiap keluarga memiliki rumah yang menjadi tempat berlindung, tempat membesarkan anak-anak, dan tempat berkumpul bersama keluarga.
Karena itulah pembahasan mengenai rumah aman gempa terasa sangat penting.
"Saya merasa sangat bersyukur dan bangga sebagai anggota SIBAT dapat mengikuti pelatihan Retrofitting Pemodelan Rumah Aman Gempa. Melalui pelatihan ini, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru mengenai pentingnya membangun serta memperkuat rumah agar lebih aman terhadap risiko gempa bumi, apalagi desa kami dekat dengan Sesar Wongsorejo."
Kalimat itu diucapkannya dengan penuh keyakinan. Baginya, pelatihan ini bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang keselamatan manusia yang hidup di dalamnya.
Apa yang dirasakan Umy juga dirasakan peserta lain. Mereka mulai memahami bahwa rumah yang terlihat kokoh belum tentu aman ketika diguncang gempa. Ada banyak detail konstruksi yang selama ini luput dari perhatian masyarakat.
Ancaman yang Tidak Terlihat Setiap Hari
Masyarakat Wongsorejo menjalani kehidupan seperti biasa. Anak-anak bersekolah, nelayan melaut, petani bekerja di lahan, dan aktivitas ekonomi berjalan sebagaimana mestinya.
Namun di balik rutinitas tersebut terdapat ancaman geologi yang tidak selalu terlihat.
Sesar Wongsorejo merupakan salah satu sesar aktif yang berpotensi memicu gempa bumi dangkal. Gempa seperti ini sering kali memiliki dampak besar terhadap bangunan karena sumber guncangannya berada dekat dengan permukaan.
Banyak rumah di pedesaan dibangun secara bertahap mengikuti kemampuan ekonomi keluarga. Tidak semua rumah dirancang menggunakan prinsip bangunan tahan gempa. Sebagian dibangun berdasarkan pengalaman turun-temurun tanpa didampingi pengetahuan konstruksi yang memadai.
Ketika gempa terjadi, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan bangunan.
Persoalan inilah yang menjadi latar belakang pentingnya pelatihan retrofitting. Masyarakat tidak mungkin memindahkan seluruh permukiman dari kawasan rawan gempa. Namun mereka masih dapat mengurangi risiko melalui penguatan bangunan yang mereka tempati setiap hari.
Kesadaran inilah yang perlahan tumbuh selama pelatihan berlangsung.
Belajar Langsung dari Fasilitator
Selama tiga hari, peserta mendapatkan pendampingan dari empat fasilitator yang berpengalaman di bidang retrofitting rumah aman gempa.
Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan di dalam ruangan. Peserta juga diajak melihat dan mempraktikkan teknik penguatan bangunan secara langsung.
Ada dua metode utama yang dipelajari.
Metode pertama adalah ferrosemen atau penggunaan wiremesh yang dipadukan dengan mortar untuk meningkatkan kekuatan bagian bangunan tertentu.
Metode kedua adalah teknik konvensional melalui pemasangan kolom praktis, ring balok, dan berbagai pengikat struktur yang berfungsi memperkuat bangunan secara keseluruhan.
Aktivitas praktik menjadi salah satu sesi yang paling menarik. Peserta berdiskusi, bertanya, dan mencoba memahami setiap tahapan pekerjaan.
Mereka ingin memastikan ilmu yang diperoleh dapat diterapkan ketika kembali ke lingkungan masing-masing.
Camat Wongsorejo Muhammad Mahfud dalam sambutannya mengingatkan pentingnya mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh.
"Pelatihan retrofitting atau rumah aman gempa dari PMI Banyuwangi diikuti oleh tokoh masyarakat, perangkat desa, SIBAT, dan tukang lokal. Jadi tolong kegiatan ini diikuti secara baik, karena ilmu baru ini kiranya agar bisa diaplikasikan di masyarakat, apalagi kita berada di wilayah rawan gempa Sesar Wongsorejo."
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pelatihan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan investasi pengetahuan yang harus diteruskan kepada masyarakat.
Inspirasi: Ketangguhan yang Dimulai dari Rumah
Salah satu pelajaran penting yang dipahami peserta adalah bahwa kesiapsiagaan tidak selalu dimulai ketika sirene berbunyi atau bencana terjadi.
Kesiapsiagaan justru dimulai jauh sebelumnya, ketika masyarakat memutuskan untuk belajar dan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Nurhadi, M.M., menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi.
"Kegiatan ini merupakan Program Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana, yaitu sebagai upaya antisipasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi, khususnya ancaman Sesar Wongsorejo. Gempa tidak membunuh manusia, rumah yang tidak amanlah yang membunuh."
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi seluruh peserta. Keselamatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya bencana, tetapi juga oleh seberapa siap masyarakat menghadapinya.
Program ini juga akan dilanjutkan dengan pembangunan dua unit rumah percontohan aman gempa di Desa Bimorejo dan Bajulmati.
"Setelah pelatihan ini kami akan membuat Prototype Rumah Aman Gempa di 2 desa ini yaitu Bimorejo dan Bajulmati masing-masing 1 unit," terang Nurhadi.
Rumah percontohan tersebut diharapkan menjadi simbol bahwa mitigasi bencana dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan rumah tempat mereka tinggal.
Menjelang akhir pelatihan, para peserta membawa pulang lebih dari sekadar modul dan catatan. Mereka membawa pemahaman baru tentang pentingnya keselamatan, tanggung jawab untuk berbagi ilmu, serta semangat untuk membangun desa yang lebih tangguh.
Bagi Umy dan peserta lainnya, pelatihan mungkin hanya berlangsung tiga hari. Namun manfaatnya diharapkan bertahan jauh lebih lama.
"Semoga ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan selama pelatihan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat, khususnya di Desa Bimorejo."
Harapan itu menjadi penutup yang mewakili semangat seluruh peserta. Bahwa di tengah risiko yang tidak bisa dihapus sepenuhnya, masyarakat masih memiliki kekuatan untuk bersiap.
Dan dari Balai Desa Bimorejo, langkah kecil menuju ketangguhan itu telah dimulai.