PALAPA 2026 Lahirkan Relawan Muda Tangguh dari Bumi Majapahit
CERITARELAWAN.com, MOJOKERTO - Di tengah hiruk-pikuk kompetisi pelajar yang biasanya identik dengan perebutan gelar juara, ada suasana berbeda yang terasa di lingkungan SMKN 1 Trowulan, Mojokerto, Sabtu (31/10/2026).
Ratusan pelajar dari berbagai sekolah datang membawa seragam kebanggaan masing-masing. Mereka bersiap mengikuti PALAPA 2026 atau Palang Merah Laga Pemuda Majapahit, sebuah ajang kepalangmerahan yang mempertemukan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dari berbagai jenjang pendidikan.
Namun yang mereka bawa pulang nantinya bukan hanya piala atau piagam.
Lebih dari itu, mereka membawa pengalaman, persahabatan, dan nilai kemanusiaan yang akan terus melekat hingga dewasa.
PALAPA 2026 sukses diselenggarakan oleh SMKN 1 Trowulan dengan melibatkan 37 kontingen sekolah yang terdiri atas 3 sekolah PMR Mula, 20 sekolah PMR Madya, dan 14 sekolah PMR Wira.
Jumlah peserta yang besar menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan di kalangan generasi muda Mojokerto masih tumbuh kuat. Di era digital yang serba cepat, masih banyak pelajar yang memilih mengembangkan diri melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Hal itu menjadi kabar baik bagi masa depan gerakan kerelawanan di Bumi Majapahit.
Ketika Persaingan Bertemu Persaudaraan
Pagi itu, peserta datang dengan satu tujuan yang sama, yaitu memberikan penampilan terbaik bagi sekolah mereka.
Ada yang mempersiapkan diri menghadapi lomba Pertolongan Pertama. Ada yang fokus pada Kepemimpinan. Ada yang berlatih untuk Jurnalistik, Karya Tulis Ilmiah, hingga Kesiapsiagaan Bencana.
Namun seiring berjalannya kegiatan, peserta menyadari bahwa PALAPA bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Di sela perlombaan, mereka berkenalan dengan peserta dari sekolah lain.
Mereka berbagi pengalaman.
Mereka bertukar cerita tentang kegiatan PMR di sekolah masing-masing.
Mereka belajar bahwa relawan kemanusiaan tidak pernah berjalan sendiri.
Kepala SMKN 1 Trowulan, Masruro, S.Pd., S.E., MM., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang untuk tujuan yang lebih luas daripada sekadar kompetisi.
“Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk mengejar kemenangan, melainkan sebagai wadah evaluasi pembinaan PMR sekaligus mempererat tali persaudaraan antar-relawan masa depan.”
Pernyataan tersebut menggambarkan esensi PALAPA yang sesungguhnya.
Kompetisi hanyalah sarana.
Tujuan utamanya adalah membentuk generasi muda yang berkarakter, peduli, dan siap membantu sesama ketika dibutuhkan.
Menyiapkan Relawan Sejak Bangku Sekolah
Tidak semua pelajaran kehidupan diajarkan di ruang kelas.
Sebagian justru lahir melalui pengalaman, latihan, dan interaksi sosial.
Melalui PMR, para pelajar belajar menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Mereka belajar memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan.
Mereka memahami pentingnya donor darah.
Mereka mengenal cara menghadapi situasi bencana.
Mereka belajar berkomunikasi, memimpin tim, serta bekerja sama dalam kondisi yang penuh tantangan.
Kemampuan-kemampuan tersebut mungkin tidak langsung terlihat manfaatnya hari ini.
Namun suatu saat nanti, keterampilan tersebut dapat menjadi penyelamat bagi orang lain.
Ketika terjadi kecelakaan di jalan.
Ketika ada teman yang membutuhkan bantuan.
Ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Mereka sudah memiliki bekal dasar untuk bertindak.
Inilah sebabnya pembinaan PMR menjadi sangat penting.
PALAPA 2026 hadir sebagai ruang untuk menguji sekaligus memperkuat kemampuan tersebut.
Berbagai lomba yang diselenggarakan menjadi simulasi pembelajaran yang mendekati situasi nyata di lapangan.
Melihat Optimisme dari Generasi Muda
Antusiasme peserta menjadi salah satu pemandangan yang paling membanggakan dalam PALAPA 2026.
Ratusan pelajar mengikuti kegiatan dengan penuh semangat sejak awal hingga akhir acara.
Mereka tidak hanya fokus pada hasil perlombaan, tetapi juga menikmati proses yang dijalani bersama.
Kondisi tersebut mendapat apresiasi dari PMI Kabupaten Mojokerto.
Staf Bidang Sumber Daya Manusia PMI Kabupaten Mojokerto, Candra Yolis Nashrulloh, melihat PALAPA sebagai bagian penting dalam proses kaderisasi relawan kemanusiaan.
“Saya sangat mengapresiasi dan bangga atas terselenggaranya PALAPA 2026 di SMKN 1 Trowulan. Ajang kompetisi ini bukan sekadar perlombaan untuk meraih piala, melainkan wadah krusial untuk mengevaluasi hasil pembinaan, mengasah keterampilan, serta memperkuat kapasitas mental para relawan muda mulai dari tingkat PMR Mula, Madya, hingga Wira. Melihat antusiasme yang luar biasa dari para peserta, kami optimis bahwa kaderisasi relawan kemanusiaan di Bumi Majapahit berjalan dengan sangat baik dan adaptif.”
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan.
Setiap peserta yang hadir merupakan bagian dari generasi yang kelak dapat menjadi relawan PMI, tenaga kesehatan, pegiat sosial, maupun pemimpin masyarakat.
Kaderisasi yang baik hari ini akan menentukan kualitas sumber daya kemanusiaan pada masa depan.
Di Balik Piala dan Prestasi
PALAPA 2026 memang menghasilkan para juara.
MI Nurul Falah berhasil menjadi Juara 1 Cerdas Tangkas Mula.
SMPN 1 Bangsal mendominasi sejumlah kategori tingkat Madya.
MAN 2 Mojokerto tampil gemilang pada beberapa cabang tingkat Wira.
Berbagai sekolah lainnya juga mencatatkan prestasi membanggakan.
Namun jika ditanya siapa pemenang terbesar dalam kegiatan ini, jawabannya bukan hanya mereka yang naik ke atas podium.
Pemenang terbesar adalah seluruh peserta yang berani mencoba, berproses, dan belajar.
Tidak semua peserta pulang membawa piala.
Tetapi semua peserta pulang membawa pengalaman.
Mereka belajar menerima kekalahan.
Mereka belajar menghargai kemenangan.
Mereka belajar bekerja sama.
Mereka belajar menghormati orang lain.
Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi inti dari pembentukan relawan muda.
Membawa Pulang Nilai Kemanusiaan
Bagi PMI Kabupaten Mojokerto, keberhasilan PALAPA tidak diukur dari jumlah medali yang diraih peserta.
Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika nilai-nilai kepalangmerahan terus hidup setelah perlombaan selesai.
Harapan itu disampaikan langsung oleh Candra Yolis Nashrulloh.
“Kami berharap melalui kegiatan Palang Merah Laga Pemuda Majapahit ini, para peserta tidak hanya membawa pulang piagam atau piala, tetapi juga membawa esensi sejati dari prinsip kepalangmerahan. Semoga nilai-nilai kepedulian, kedisiplinan, dan kesetiakawanan sosial yang ditempa di sini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka siap menjadi agen perubahan serta pahlawan kemanusiaan masa depan yang responsif dan tangguh di lingkungan sekolah maupun masyarakat.”
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan kemanusiaan tidak berhenti saat kegiatan berakhir.
Ia harus terus hidup dalam tindakan sehari-hari.
Dalam kepedulian terhadap teman.
Dalam kesediaan membantu masyarakat.
Dalam keberanian mengambil peran saat orang lain membutuhkan pertolongan.
Dari Trowulan untuk Masa Depan Kemanusiaan
Trowulan dikenal sebagai tanah bersejarah yang pernah menjadi pusat kejayaan Majapahit.
Hari ini, semangat kejayaan itu hadir dalam bentuk yang berbeda.
Bukan lagi melalui pasukan perang atau kekuatan kerajaan.
Melainkan melalui generasi muda yang belajar tentang kemanusiaan.
PALAPA 2026 menunjukkan bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh mereka yang pandai secara akademik.
Masa depan juga dibangun oleh mereka yang peduli.
Oleh mereka yang mau membantu.
Oleh mereka yang siap menjadi relawan ketika masyarakat membutuhkan.
Di lapangan SMKN 1 Trowulan, benih-benih itu sedang tumbuh.
Mungkin hari ini mereka masih mengenakan seragam sekolah.
Namun beberapa tahun lagi, mereka bisa menjadi petugas kemanusiaan, tenaga kesehatan, relawan bencana, atau pemimpin yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Dan semuanya bisa berawal dari satu pengalaman sederhana bernama PALAPA 2026.
Penulis: Arum
Editor: Redaksi
