HOT NEWS

Usia 60 Tahun Tak Surutkan Semangat Wati, Belajar Kesiapsiagaan Bersama 320 Relawan Sibat PMI Banten

CERITARELAWAN.com, BANTEN – Usia 60 tahun tak menghentikan Wati untuk terus belajar dan bergerak dalam kegiatan kemanusiaan. Bersama ratusan relawan lainnya, anggota Sibat Kelurahan Lebak Gede, Kota Cilegon itu mengikuti Latihan Gabungan (Latgab) Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI se-Provinsi Banten.

Di tengah relawan dari berbagai generasi, Wati mengikuti kegiatan yang digelar pada 16 September 2026 tersebut dengan membawa satu semangat sederhana: usia bukan penghalang untuk terus menambah pengetahuan dan berkontribusi bagi sesama.

“Saya sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan seperti ini. Di PMI kita bisa terus belajar, menambah pengalaman dan ilmu tentang kebencanaan. Walaupun usia saya sudah 60 tahun, saya tetap semangat untuk kegiatan kemanusiaan bersama PMI dan anak-anak muda para relawan,” kata Wati.

Cerita Wati menjadi satu bagian kecil dari pertemuan besar sekitar 320 peserta dari PMI kabupaten/kota se-Provinsi Banten.

Mereka hadir bukan sekadar untuk berkumpul. Relawan belajar, bertukar pengalaman, memperkuat keterampilan, sekaligus membangun kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana di lingkungan masyarakat.

Dari Cilegon, 40 Personel Ikut Bergerak

PMI Kota Cilegon mengirimkan 40 personel dalam Latgab tersebut.

Kontingen terdiri atas 24 anggota Sibat, dua pengurus, empat pegawai serta 10 anggota Korps Sukarela (KSR) Unit Markas dan Perguruan Tinggi.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta pada pukul 07.00 hingga 08.30 WIB, dilanjutkan apel Latgab Sibat pada pukul 08.30 hingga 09.30 WIB di halaman GSG PMI Provinsi Banten.

Apel yang diikuti sekitar 320 peserta tersebut dipimpin Ketua PMI Provinsi Banten, Hj. Ratu Tatu Chasanah.

Latgab menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 PMI dengan semangat “Peduli, Bergerak Bersama”.

Namun, di balik rangkaian peringatan tersebut terdapat tujuan yang lebih mendasar, yakni membuat relawan yang berada dekat dengan masyarakat semakin siap ketika dibutuhkan.

“Sibat merupakan bagian penting dari kekuatan PMI karena berada dekat dengan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin terus meningkatkan kemampuan, memperkuat kebersamaan, dan memastikan relawan siap memberikan pelayanan kemanusiaan ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Ratu Tatu Chasanah.

Belajar Sebelum Bencana Datang

Selepas apel, kegiatan berlanjut dengan berbagai materi peningkatan kapasitas.

Sebanyak 160 anggota Sibat mengikuti Webinar Cerita Sukses di Aula GSG PMI Banten pada pukul 09.30 hingga 10.30 WIB.

Pada waktu yang sama berlangsung sesi Adaptasi Perubahan Iklim hingga pukul 12.30 WIB. Berdasarkan data kegiatan, sesi tersebut melibatkan 40 anggota Sibat, 40 staf dan pengurus, serta 30 anggota KSR.

Relawan Sibat juga mengikuti latihan dalam beberapa kelas keterampilan mulai pukul 10.30 hingga 12.30 WIB.

Empat kelas yang tersedia meliputi Manajemen Dapur Umum, EVCA, Pemetaan Risiko, dan SBM. Masing-masing kelas diikuti 40 anggota Sibat.

Beragam materi tersebut menjadi bekal bagi para relawan untuk meningkatkan kemampuan yang diperlukan dalam kegiatan kesiapsiagaan maupun pelayanan kemanusiaan di masyarakat.

Latgab juga dihadiri jajaran pengurus PMI Provinsi Banten dan PMI kabupaten/kota serta unsur BPBD, Basarnas, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya.

Latihan Juga Tentang Berbagi Pengalaman

Bagi PMI Kota Cilegon, pertemuan relawan dari berbagai daerah memberikan kesempatan untuk membangun jejaring sekaligus saling bertukar pengetahuan.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Cilegon, H. Hedi Jamhari, mengatakan latihan bersama tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis.

Ada pengalaman dan pengetahuan antarelawan yang dapat dipertukarkan untuk memperkuat kesiapsiagaan.

“Latgab ini bukan hanya tentang latihan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Kami berharap anggota Sibat dan KSR PMI Kota Cilegon semakin siap, memahami perannya, dan mampu berkontribusi dalam kesiapsiagaan bencana di masyarakat,” ujarnya.

Di sinilah cerita Wati menemukan maknanya.

Berada bersama relawan dari berbagai wilayah dan generasi membuat proses belajar kebencanaan tidak mengenal batas usia.

Pada usia 60 tahun, Wati memilih tetap hadir, mengikuti kegiatan, menambah pengetahuan, dan berjalan bersama relawan yang lebih muda.

Kesiapsiagaan pada akhirnya tidak hanya dibangun dari peralatan atau kemampuan teknis. Di dalamnya terdapat kemauan masyarakat untuk belajar sebelum bencana terjadi, berbagi pengalaman, mengenali risiko, dan memahami tindakan yang dapat dilakukan ketika keadaan darurat datang.

Setelah seluruh rangkaian latihan selesai, peserta kembali berkumpul pada pukul 12.30 hingga 12.45 WIB. Kegiatan kemudian ditutup pada pukul 12.45 hingga 13.00 WIB.

Dari sekitar 320 peserta, cerita Wati mengingatkan bahwa ruang kemanusiaan terbuka bagi siapa saja yang masih memiliki kemauan untuk belajar dan berbuat untuk sesama.

Sebab menjadi relawan bukan hanya tentang seberapa muda seseorang atau seberapa jauh seseorang dapat bergerak.

Ada hal lain yang tak kalah penting: kemauan untuk terus belajar, tetap peduli, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Penulis: Fahrullah 
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar