HOT NEWS

Jalan Sulit Dilalui Tangki, Relawan dan Warga Mendekatkan Air ke Dobo



CERITARELAWAN.com, SIKKA – Bagi warga Kampung Dobo, air tidak selalu bisa tiba sampai di depan rumah. Ketika mobil tangki tak mampu melewati jalan menuju kampung, warga harus mengambil air dari titik lain, membawanya dengan jeriken, memikulnya, atau mengangkutnya menggunakan sepeda motor.

Keadaan itu semakin terasa setelah gempa bumi 15 Agustus 2026. Sejumlah bak yang selama ini menjadi tempat menyimpan air mengalami keretakan.

Di RT 01 Kampung Dobo, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, terdapat 34 kepala keluarga. Air hujan selama ini menjadi salah satu tumpuan mereka untuk memenuhi kebutuhan air minum.

“Di RT 01, kami di sini ada 34 KK. Dan sumber air minum kami itu dari air hujan,” kata Ketua BPD Desa Iantena, Vensilia Aurelia Nona Onci.

Gempa kemudian membuat persediaan air semakin sulit dipertahankan.

“Ada sekitar 3 sampai 4 bak. Bahkan ada beberapa bak yang keretakannya cukup besar sehingga air di bak itu kering langsung,” ujar Vensilia.

Ketika Air Harus Dijemput Ratusan Meter

Saat air hujan tak lagi mencukupi, membeli air tangki menjadi salah satu pilihan warga.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada kemampuan membeli air. Kondisi jalan membuat kendaraan pengangkut tidak dapat mencapai langsung Kampung Dobo.

Air harus diturunkan di RT 02.

Dari sana, warga RT 01 menempuh jarak sekitar 500 hingga 600 meter untuk membawanya pulang.

Ada yang menggunakan jeriken. Ada yang memikul. Mereka yang memiliki kendaraan dapat mengangkutnya menggunakan sepeda motor.

“Kalau ada motor, pakai motor,” kata Kepala Dusun Dobo, Hendrikus Hengki Yuvaldi.

Di balik perjalanan mengambil air itu, warga sebenarnya telah lama berdampingan dengan persoalan kekurangan air ketika musim kemarau tiba.

Gempa membuat persoalan lama tersebut menjadi lebih berat karena sebagian bak penampungan mengalami kerusakan.

“Sebelum-sebelumnya kalau sudah musim-musim begini pasti ya mengalami kekurangan air bersih. Tapi setelah kemarin adanya peristiwa gempa ini, kami khususnya untuk RT 01 Dobo ini, itu ada sekitar 3 atau 4 bak yang retak akibat gempa kemarin,” ujar Hendrikus.

Biayanya pun tidak kecil.

Menurut Hendrikus, satu tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter yang dibawa sampai Kampung Dobo dapat mencapai Rp400.000.

Kondisi jalan menjadi hambatan lain. Mobil tangki disebut sudah tidak dapat masuk langsung ke kampung sehingga air harus ditempatkan di wilayah bawah sebelum dibawa sendiri oleh warga.

Dua Tandon untuk Mendekatkan Air

Di tengah keterbatasan akses itulah dua tandon ditempatkan di RT 01 Kampung Dobo dalam pelayanan kemanusiaan, Senin (28/9/2026).

Bukan sekadar menyediakan tempat penyimpanan, keberadaan tandon menjadi cara untuk mendekatkan air ke warga ketika kendaraan pengangkut sulit mencapai permukiman.

Koordinator Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan air bersih menjadi kebutuhan mendesak yang ditemukan di lapangan.

“Kalau untuk kebutuhan mendesak, itu air bersih. Nah, karena kondisi medan yang cukup sulit untuk bisa sampai ke dusun, maka kami bersama warga sebenarnya itu memutuskan meletakkan dua tandon air,” jelas Octavianus.

Satu tandon berasal dari warga. Satu lainnya merupakan bantuan Ciputra Group melalui PMI dengan kapasitas 2.300 liter.

“Jadi satu tandon air itu dibantu oleh warga sendiri, satu tandon air itu merupakan sumbangan dari kami melalui Ciputra Group, itu ukurannya 2.300,” katanya.

Dengan dua tandon tersebut, kapasitas penampungan mencapai total 4.600 liter. Air kemudian dimobilisasi untuk mengisi tempat penampungan.

Upaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian respons terhadap kebutuhan masyarakat terdampak gempa. Di wilayah lain, pelayanan kesehatan hingga dukungan psikososial juga menjangkau masyarakat terdampak di Ruteng. [anews.co]

Bantuan Mengikuti Kebutuhan Setiap Keluarga

Air bukan satu-satunya kebutuhan yang dibawa dalam pelayanan hari itu.

Data masyarakat menunjukkan terdapat 34 kepala keluarga dengan jumlah 92 jiwa di RT 01 Kampung Dobo.

Sebanyak 34 family kit diberikan sesuai jumlah kepala keluarga. Pakaian dan sarung disalurkan kepada seluruh 92 warga.

“Kebetulan di sini ada 34 KK dan 92 jiwa. Jadi kita bantu untuk family kit-nya itu 34 KK, karena sifatnya untuk kepala keluarga. Sedangkan untuk pakaian, sarung berupa sarung dan baju, itu kita bantu langsung ke 92,” kata Octavianus.

Empat baby kit diberikan sesuai data ibu hamil serta bayi dan balita.

“Baby kit-nya ada empat, itu sesuai data. Jadi memang yang kita sampaikan hari ini kepada masyarakat khususnya di Dusun Dobo ini berdasarkan data yang diberikan dari Bapak Sergius Moa,” ujarnya.

Sebanyak 21 anak juga mendapat makanan ringan berupa susu Ultramilk dan Tango.

Anak-anak dan orang tua turut mendapatkan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat.

18 Personel Bergerak di Dobo

Pelayanan tersebut melibatkan 18 personel.

Sebanyak 15 personel berasal dari PMI Kabupaten Sikka dan dibagi dalam dua tim. Tiga personel lainnya berasal dari PMI Jawa Timur untuk membantu kegiatan promosi kesehatan.

“Oke. Jadi hari ini untuk dari markas PMI Sikka sendiri kita ada ber-15 orang. Karena kita bagi dua tim. Besok itu akan ada lanjutan di desa lain dengan tim yang lain,” kata Octavianus.

Personel dari Jawa Timur juga memberikan edukasi mengenai rabies dan persoalan kesehatan yang kerap dihadapi masyarakat setempat.

Bagi warga Dobo, dua tandon tentu belum mengakhiri seluruh persoalan air.

Kemarau masih menjadi tantangan. Beberapa bak penampungan masih rusak. Jalan menuju kampung belum mudah dilalui kendaraan tangki. Dan ketika air harus dibeli dari luar, warga juga berhadapan dengan biaya yang tidak sedikit.

Namun, dua tandon itu membuat satu kebutuhan penting menjadi sedikit lebih dekat.

Penulis: Nur
Editor: Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar