HOT NEWS

Dari Tenda Darurat, Siswa SDK Nitung Perlahan Bangun Semangat Belajar Setelah Gempa

CERITARELAWAN.com, SIKKA – Pagi itu, tenda darurat di halaman SDK Nitung kembali dipenuhi suara anak-anak yang belajar dan bermain bersama teman-teman mereka. Di tempat yang berbeda dari ruang kelas biasanya, 106 siswa perlahan kembali menjalani rutinitas sekolah setelah gempa 15 Agustus 2026 melanda wilayah mereka.

Gempa tersebut merusak ruang kelas dan sejumlah fasilitas sekolah. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar sementara dipindahkan ke tenda darurat agar proses pendidikan tetap berjalan.

Kepala SDK Nitung, Ignasius Iswianti Wiri, mengatakan sekolah berupaya mempertahankan kegiatan belajar meskipun dalam keterbatasan.

“Setelah gempa 15 Agustus, fasilitas sekolah mengalami kerusakan, baik ruang kelas maupun fasilitas lainnya. Untuk sementara, kegiatan pembelajaran kami pindahkan ke tenda-tenda darurat,” ujarnya.

Bagi sebagian siswa, kembali ke sekolah bukan hanya soal belajar pelajaran di kelas. Mereka juga sedang berusaha memulihkan diri dari pengalaman saat gempa terjadi.

Salah satunya adalah Maria Alisha Alince, siswa kelas 6 SDK Nitung. Ia masih mengingat malam ketika gempa mengguncang wilayahnya.

“Waktu gempa saya sedang tidur. Saya lihat mama keluar, lalu saya ikut keluar. Sampai menangis,” tutur Alisha.

Setelah gempa, Alisha dan keluarganya sempat tinggal di tenda. Meski demikian, ia mulai beradaptasi dengan kondisi yang ada.

“Tidur di tenda rasanya tidak takut dan hangat,” katanya.

Ketika kembali ke sekolah, Alisha mengaku sedih melihat kondisi bangunan yang selama ini menjadi tempatnya belajar sejak kelas satu.

“Sedih, karena dari kelas 1 sampai sekarang banyak kenangan,” ujarnya.

Menurut Ignasius, pengalaman serupa juga dirasakan sejumlah siswa lainnya. Sebagian anak masih membutuhkan pendampingan agar kembali merasa nyaman berada di lingkungan sekolah.

“Pasca gempa, anak-anak masih merasakan ketakutan dari apa yang mereka alami di rumah maupun lingkungan sekitar. Kadang-kadang masih ada yang merasa takut untuk datang ke sekolah,” katanya.

Untuk membantu proses pemulihan tersebut, PMI mengadakan kegiatan dukungan psikologi dan promosi kesehatan bagi para siswa. Kegiatan dilakukan melalui permainan, edukasi kesehatan, serta aktivitas yang mendorong anak-anak kembali berinteraksi dengan teman sebaya.

Leader Layanan PMI di Pulau Palu'e, Gabriel Ricardus Moatsetu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan anak-anak setelah bencana.

“Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam masa pemulihan,” ujarnya.

Bagi Alisha, kegiatan bersama PMI memberikan pengalaman yang menyenangkan. Selain bermain dan belajar bersama teman-teman, ia juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai kesehatan.

“Saya senang bisa cuci tangan dan belajar menghindari rabies,” katanya.

Meski ruang kelas mereka belum sepenuhnya pulih, anak-anak SDK Nitung tetap datang ke sekolah, membuka buku pelajaran, dan melanjutkan cita-cita mereka. Dari tenda darurat itu, semangat untuk belajar perlahan tumbuh kembali setelah gempa.

Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar