HOT NEWS

Lebih Sebulan Mengungsi, Maria Hanya Berharap Matras dan Kelambu untuk Anaknya


CERITAELAWAN.com, MANGGARAI TIMUR – Harapan Maria Saida (43) setelah lebih dari sebulan menjalani kehidupan di pengungsian begitu sederhana. Ia ingin memiliki matras dan kelambu agar anaknya bisa tidur sedikit lebih nyaman pada malam hari.

Sejak gempa mengguncang Manggarai Timur, kehidupan keluarga Maria berubah.

Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat justru kerap menjadi bagian tersulit. Mereka tidur di atas tanah dengan terpal sebagai alas, sementara nyamuk membuat istirahat semakin tidak nyaman.

Yang paling membuat hati Maria berat adalah ketika anaknya terbangun dan menangis pada tengah malam.

“Kami di sini susah tidur karena banyak nyamuk. Apalagi anak saya sering bangun dan menangis tengah malam karena tidur langsung di tanah dengan alas terpal,” kisah Maria.

Tidak banyak yang ia minta.

Matras agar tubuh anaknya tidak langsung beralaskan tanah. Kelambu agar keluarganya bisa melewati malam tanpa terus diganggu nyamuk.

Maria juga berharap kebutuhan khusus perempuan dan ibu menyusui tidak terlupakan selama warga masih menjalani hari-hari di pengungsian.

Rumah Masih Ada dalam Ingatan

Lebih dari satu bulan mengungsi tidak membuat Maria memutus hubungan dengan kehidupan yang ditinggalkannya.

Saat kondisi relatif tenang, ia dan suaminya sesekali pulang.

Bukan untuk menetap.

Mereka hanya memastikan ternak tetap mendapatkan makanan dan melihat sawah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

“Saya sudah satu bulan lebih tinggal di posko. Ketika tidak ada gempa saya kembali ke rumah melihat dan memberi makan ternak dan ke sawah, setelah itu kembali lagi ke posko pengungsian,” katanya.

Pulang sebentar lalu kembali mengungsi menjadi keseharian yang harus dijalani.

Kepala Markas PMI Kabupaten Manggarai Timur, Alfred Tuname, menyebut jumlah warga di pengungsian juga bergerak mengikuti keadaan.

Awalnya terdapat sekitar 700 pengungsi. Saat ini, menurut data yang disampaikannya, jumlah tersebut berada di kisaran 460 jiwa.

“Ketika gempa mulai mereda beberapa masyarakat pulang, tapi kalau ada gempa susulan para pengungsi akan kembali,” jelas Alfred.

Berbagai pengalaman dari lokasi terdampak menunjukkan bahwa proses pemulihan tidak hanya mengenai bangunan. Pemeriksaan kesehatan langsung di lokasi pengungsian sebelumnya juga dilakukan di Manggarai Timur karena sebagian warga masih merasa takut meninggalkan tempat yang dianggap aman setelah gempa. 

20 Relawan Bersiap Menjaga Dapur Tetap Menyala

Di tengah hari-hari yang belum pasti itu, ada orang-orang yang bersiap memastikan makanan tetap tersedia.

Sebanyak 20 relawan akan membantu pengelolaan dapur umum bagi warga di kawasan pengungsian Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Mereka akan menjalani pelatihan langsung di lokasi dan selanjutnya bertugas secara bergiliran setiap satu minggu.

Tiga personel lainnya disiapkan untuk membantu administrasi serta pengawasan pelayanan.

Menurut Alfred, persiapan dilakukan karena pengelolaan dapur umum yang sebelumnya ditangani TNI AD dijadwalkan berakhir pada 29 September 2026.

Pelayanan berikutnya akan dijalankan melalui koordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial, unsur penanggulangan bencana, serta masyarakat.

Bagi para relawan, dapur umum mungkin berarti jadwal memasak, pembagian tugas dan makanan yang harus tersedia tepat waktu.

Bagi pengungsi, maknanya lebih dekat: ada makanan yang dapat disantap keluarga hari itu.

Pengalaman di lokasi pengungsian lain memperlihatkan bahwa bantuan kebutuhan sehari-hari dapat memberikan rasa lega bagi keluarga yang sedang beradaptasi setelah gempa. 

Yosefina Tak Lagi Punya Rumah untuk Pulang

Jika Maria masih sesekali pulang untuk melihat kehidupan yang ditinggalkannya, Yosefina Herlin (37) menghadapi kenyataan berbeda.

Dua rumah miliknya, kata Yosefina, hancur akibat gempa.

Tidak ada lagi rumah yang bisa menjadi tempat keluarganya menetap.

“Saya punya rumah dua buah, hancur semua akibat gempa. Kami tidak kembali ke sana dan memilih tetap di sini karena tidak ada lagi yang bisa kami tinggali,” tutur Yosefina.

Meski demikian, kehidupan di kampung tidak bisa begitu saja ia tinggalkan.

Sesekali Yosefina kembali untuk melihat ternak dan memeriksa sawah. Setelah itu, ia kembali lagi ke pengungsian.

Maria dan Yosefina hanyalah dua orang dari sekitar 460 warga yang masih bertahan.

Di balik angka itu ada banyak kehidupan yang berubah: seorang ibu yang menenangkan anaknya pada tengah malam, keluarga yang masih memikirkan ternak, petani yang sesekali kembali melihat sawah, hingga mereka yang tidak lagi mempunyai rumah untuk pulang.

Dapur umum akan membantu memastikan makanan tetap tersedia.

Namun, bagi Maria, malam ini harapannya masih sesederhana sebelumnya.

Sebuah matras agar anaknya tidak tidur langsung di atas tanah, dan sebuah kelambu agar malam di pengungsian terasa sedikit lebih nyaman.

Penulis: Edho
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar