HOT NEWS

Catatan Lapangan di Dusun Lewar: Mengeringkan Air Mata di Ujung Pesisir Manggarai

CERITARELAWAN.com, MANGGARAI - Berada di atas perahu kayu yang bergoyang dihantam gelombang laut Reok Barat, perut mual dan dada berdebar adalah hal biasa bagi para insan kemanusiaan. Namun pada Selasa (22/9/2026), 20 relawan menolak untuk menyerah pada rasa takut. Di ujung pesisir sana, ada 76 Kepala Keluarga di Dusun Lewar yang menantikan uluran tangan usai bencana gempa bumi meluluhlantakkan ketenangan hidup mereka.

Dusun Lewar bagaikan wilayah yang terlupakan. Tanpa akses jalan darat yang layak, tim harus membahu puluhan kardus bantuan, meniti batu-batu karang licin di tepi pantai sejauh 7 kilometer dengan berjalan kaki selama dua jam. Setiap pijakan adalah ujian stamina, namun setiap langkah digerakkan oleh niat tulus untuk mengeringkan air mata saudara-saudara yang terisolasi.

Sesampainya di dusun, pemandangan haru menyambut rombongan. Warga berdiri di tepi pantai dengan wajah lelah namun menyiratkan rasa syukur yang mendalam. Dokter Nugroho Arif Budiawan, tenaga medis yang ikut dalam rombongan, langsung bergerak memeriksa kondisi warga yang banyak mengeluhkan penyakit fisik akibat guncangan bencana dan medan yang berat.

"Yang kami temukan di Dusun Lewar adalah kasus myalgia atau nyeri otot akibat aktivitas berat, ISPA, asam lambung, serta masyarakat yang kurang konsumsi air putih sehingga bergejala awal dehidrasi," terang Dokter Arif di sela-sela penanganan medis.

Rasa syukur dirasakan langsung oleh Marselina Asti Hunar (31), salah satu warga yang memeriksakan kesehatannya.

 "Saya sangat bersyukur atas kunjungan langsung ini karena kami sangat susah kalau mau periksa ke puskesmas. Tadi saya mengeluh pusing dan mual, langsung ditensi dan diberi obat oleh dokter," ungkap Ibu Asti.

Di sudut lain, tangis bahagia pecah saat layanan telepon satelit dinyalakan untuk memulihkan sambungan komunikasi warga dengan keluarga luar pulau. Bagi para relawan, Dusun Lewar adalah pengingat tentang hakikat menjadi manusia. Saat matahari mulai tenggelam, relawan kembali menempuh rute berjalan kaki di pantai berbatu untuk pulang. Kaki mereka mungkin letih, namun jiwa mereka terisi penuh oleh doa-doa tulus warga yang telah kembali menemukan harapannya.

Penulis: Edho
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar