HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Di Balik Hutan Mangrove Dringu, Ada Relawan yang Menjaga Masa Depan Pesisir


CERITARELAWAN.com, PROBOLINGGO - Pagi itu, deretan perahu nelayan masih tampak berjajar di pesisir Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Sebagian dari perahu-perahu itu berada tidak jauh dari kawasan mangrove Dringu yang beberapa waktu terakhir menjadi lokasi program penghijauan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo bersama CSR PT Paiton Energy.

Bagi nelayan setempat, perahu bukan sekadar alat bekerja. Perahu adalah sumber penghidupan keluarga. Dari perahu-perahu itulah mereka berangkat mencari ikan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, hingga mempertahankan kehidupan di tengah berbagai tantangan pesisir.

Namun di sisi lain, kawasan yang sama kini memiliki harapan baru. Ratusan hingga ribuan bibit mangrove mulai tumbuh di sepanjang pesisir. Tanaman muda itu kelak diharapkan menjadi benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi, banjir rob, dan dampak perubahan iklim.

Di tengah dua kepentingan tersebut, hadir relawan-relawan yang berusaha mencari jalan tengah.

Mereka adalah anggota Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Dringu, kelompok relawan yang selama ini aktif mendampingi masyarakat dalam berbagai program kebencanaan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Ketika Kepedulian Bertemu Persoalan Lapangan

Bagi sebagian orang, menanam mangrove mungkin terlihat sederhana. Tanam bibit, dokumentasi, lalu selesai.

Namun kenyataannya tidak demikian.

Setelah bibit tertanam, tantangan sebenarnya justru baru dimulai.

Mangrove yang masih muda membutuhkan perlindungan dari berbagai ancaman, mulai dari gelombang laut, sampah, hingga aktivitas manusia yang tidak disengaja. Salah satu persoalan yang ditemukan di Desa Dringu adalah keberadaan perahu-perahu nelayan yang masih banyak terparkir di sekitar area penanaman.

Melihat kondisi tersebut, anggota SIBAT Desa Dringu mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Alih-alih menyalahkan nelayan, mereka memilih mendengarkan alasan dan kebutuhan yang dihadapi warga pesisir.

Dari berbagai diskusi itulah muncul pemahaman bahwa nelayan tidak menolak program penghijauan. Mereka justru mendukung keberadaan mangrove karena sadar bahwa kelestarian pantai juga menentukan masa depan mereka.

Hanya saja, nelayan membutuhkan tempat yang aman dan mudah dijangkau untuk menambatkan perahu.

Mencari Solusi, Bukan Mencari Kesalahan

Anggota SIBAT Desa Dringu, Heri, menjadi salah satu relawan yang aktif menjembatani komunikasi tersebut.

Menurutnya, masyarakat nelayan sebenarnya memiliki keinginan untuk memindahkan perahu-perahu mereka agar lebih jauh dari kawasan mangrove.

Namun langkah itu tidak mudah dilakukan tanpa adanya sarana pendukung.

“Kalau di kawasan pesisir Desa Dringu dibangun dermaga atau jembatan, otomatis perahu-perahu nelayan bisa dipindahkan ke area tersebut. Saat ini permasalahannya, banyak perahu nelayan yang masih terparkir di sekitar lokasi penanaman mangrove,” jelas Heri.

Bagi Heri dan rekan-rekan relawan lainnya, solusi terbaik adalah solusi yang mampu melindungi mangrove tanpa merugikan masyarakat.

Mereka memahami bahwa sebagian nelayan masih mempertimbangkan biaya tambahan apabila harus memindahkan perahu ke lokasi lain.

Karena itu, relawan mendorong adanya fasilitas khusus berupa dermaga atau jembatan yang dapat digunakan bersama oleh masyarakat.

Dengan adanya fasilitas tersebut, perahu-perahu nelayan dapat dipindahkan sekitar 100 meter dari kawasan mangrove sehingga aktivitas mencari nafkah tetap berjalan, sementara tanaman mangrove dapat tumbuh lebih aman.

Relawan yang Menjaga Harapan Lingkungan

Bagi anggota SIBAT, menjaga mangrove bukan hanya menjaga tanaman.

Lebih dari itu, mereka sedang menjaga harapan masyarakat pesisir.

Mangrove memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pantai. Akar-akarnya mampu menahan abrasi, mengurangi kekuatan gelombang, menahan sedimentasi, serta menjadi tempat hidup berbagai biota laut.

Semakin baik kondisi mangrove, semakin besar peluang ekosistem laut tetap sehat.

Artinya, masa depan nelayan juga ikut terjaga.

Kesadaran itu yang terus disampaikan para relawan kepada warga.

Mereka tidak datang sebagai pihak yang menggurui, tetapi sebagai sahabat masyarakat yang ingin mencari solusi bersama.

Pendekatan seperti inilah yang membuat komunikasi antara relawan, PMI, dan masyarakat tetap berjalan baik.

Dukungan PMI dan PT Paiton Energy

Upaya menjaga kawasan pesisir tidak dilakukan sendiri oleh relawan.

PMI Kabupaten Probolinggo bersama CSR PT Paiton Energy terus memperkuat program penghijauan di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo.

Salah satu program terbaru dilaksanakan di Pantai Desa Gending melalui Gerakan Hijau Hilir yang berhasil menanam 1.150 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak mulai dari relawan PMI, anggota SIBAT, pelajar, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.

Ketua PMI Kabupaten Probolinggo, dr. Adi Nugroho WD, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada jumlah bibit yang ditanam.

Menurutnya, tanaman mangrove harus terus dijaga dan dirawat hingga tumbuh besar.

“Menanam saja tidak cukup. Mangrove yang sudah ditanam harus dirawat sampai benar-benar tumbuh dan berkembang sehingga bisa membantu mengurangi abrasi,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa aksi kemanusiaan dan aksi lingkungan harus berjalan beriringan.

Menumbuhkan Kepedulian Generasi Muda

Salah satu pemandangan menarik dalam kegiatan penghijauan pesisir adalah keterlibatan para pelajar.

Mereka ikut turun ke pantai, menanam mangrove, dan belajar langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Bagi para relawan, kehadiran generasi muda memberikan harapan besar.

Mangrove yang ditanam hari ini mungkin baru tumbuh besar beberapa tahun mendatang. Namun kepedulian yang tumbuh dalam diri anak-anak muda dapat bertahan jauh lebih lama.

Karena itulah PMI, SIBAT, dan berbagai mitra terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam setiap kegiatan lingkungan.

Semakin banyak orang yang merasa memiliki program ini, semakin besar peluang keberhasilannya.

Inspirasi dari Pesisir Dringu

Cerita dari Desa Dringu menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari program besar atau anggaran besar.

Kadang perubahan berawal dari kemauan untuk duduk bersama, saling mendengarkan, dan mencari solusi yang adil bagi semua pihak.

Relawan SIBAT tidak hanya berbicara tentang mangrove.

Mereka berbicara tentang kehidupan nelayan, masa depan anak-anak pesisir, serta harapan agar pantai tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi berikutnya.

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, semangat kolaborasi yang tumbuh di Desa Dringu menjadi contoh bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat.

Mangrove yang tumbuh di pesisir itu kelak bukan hanya menjadi pelindung pantai. Ia juga menjadi simbol gotong royong, kepedulian, dan kerja kemanusiaan yang dilakukan bersama oleh relawan, PMI, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Karena pada akhirnya, menjaga mangrove bukan hanya soal menanam pohon. Menjaga mangrove adalah menjaga rumah, menjaga masa depan, dan menjaga harapan mereka yang hidup dari laut setiap hari.

Penulis: Fiyan 
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan