Di Balik Apel Bencana, Ada Relawan yang Selalu Siap Menolong
CERITARELAWAN.com, MOJOKERTO — Di sebuah pagi yang cerah di Lapangan Mapolres Mojokerto Kota, puluhan personel dari berbagai instansi berdiri dalam satu barisan. Seragam yang mereka kenakan berbeda, tetapi tujuan mereka sama, yaitu melindungi masyarakat ketika bencana datang.
Di antara barisan itu terdapat para Relawan PMI Kota Mojokerto.
Mereka berdiri bersama anggota TNI, Polri, BPBD, Satpol PP dan unsur lainnya dalam Apel Gabungan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026.
Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin terlihat sebagai agenda rutin tahunan. Namun bagi para relawan kemanusiaan, apel tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar.
Apel merupakan simbol kesiapan sebelum ujian sesungguhnya datang.
Karena bagi relawan, bencana tidak pernah dapat diprediksi.
Hari ini cuaca bisa cerah, tetapi esok hujan deras dapat menyebabkan banjir atau pohon tumbang. Karena itu, kesiapan harus dibangun jauh sebelum keadaan darurat terjadi.
Humas PMI Kota Mojokerto Dimas Hariadi mengatakan bahwa semangat relawan selalu berangkat dari kepedulian terhadap sesama.
“Kami tidak pernah berharap bencana terjadi. Tetapi ketika masyarakat membutuhkan bantuan, kami harus siap hadir. Itulah semangat yang selalu dijaga oleh relawan PMI,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para relawan tidak hanya mengikuti apel.
Mereka juga memastikan bahwa ambulans siap digunakan, tandu dalam kondisi baik, alat komunikasi berfungsi normal, dan perlengkapan medis tersedia secara lengkap.
Bagi masyarakat, mungkin perlengkapan itu terlihat sederhana.
Namun bagi relawan, setiap peralatan memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Satu tandu yang berfungsi baik dapat mempercepat evakuasi korban. Satu radio komunikasi yang bekerja optimal dapat memperlancar koordinasi penyelamatan di lapangan.
Karena itu, tidak ada detail yang boleh diabaikan.
Di balik kesiapan tersebut terdapat proses panjang yang jarang terlihat publik.
Relawan PMI rutin mengikuti pelatihan pertolongan pertama, simulasi evakuasi, pendidikan kebencanaan hingga pelatihan dukungan psikososial.
Mereka mengorbankan waktu pribadi untuk belajar dan berlatih agar mampu memberikan pelayanan terbaik saat bertugas.
Tidak sedikit relawan yang harus meninggalkan keluarga ketika terjadi bencana.
Mereka turun ke lokasi terdampak, membantu evakuasi, mendistribusikan bantuan, mendirikan posko, hingga mendampingi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Semua dilakukan atas dasar kemanusiaan.
Dimas menegaskan bahwa tugas relawan bukan hanya membantu setelah bencana terjadi.
PMI juga aktif mengajak masyarakat melakukan berbagai langkah mitigasi agar risiko bencana dapat dikurangi sejak awal.
“Kesiapsiagaan yang terbaik adalah ketika masyarakat mampu melindungi dirinya sendiri. Karena itu edukasi dan mitigasi menjadi program yang terus kami jalankan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena tantangan kebencanaan ke depan diperkirakan semakin kompleks.
Perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi dan meningkatkan risiko berbagai bencana hidrometeorologi.
Situasi itu membuat kesiapan seluruh elemen masyarakat menjadi kebutuhan bersama.
Melalui apel gabungan ini, relawan PMI Kota Mojokerto kembali menegaskan bahwa kemanusiaan tidak dimulai saat bencana terjadi.
Kemanusiaan dimulai dari persiapan, latihan, koordinasi, dan kepedulian yang dibangun setiap hari.
Ketika sirene darurat suatu saat berbunyi, masyarakat mungkin hanya melihat relawan datang memberikan bantuan.
Namun sesungguhnya, di balik kecepatan respons itu terdapat proses panjang yang telah dipersiapkan jauh sebelumnya.
Dan di antara proses itu, ada para relawan PMI Kota Mojokerto yang terus menjaga semangat pengabdian agar selalu siap menjadi yang pertama hadir dan yang terakhir meninggalkan lokasi ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat. Mereka mungkin tidak selalu disebut. Tetapi dedikasi mereka menjadi bagian penting dari ketangguhan Kota Mojokerto dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan di masa depan.
