HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Dari Pertemanan Baru hingga Semangat Menolong, Kisah 468 Remaja di Latgab JAWARA



CERITARELAWAN.com, TULUNGAGUNG – Pagi itu suasana terasa berbeda. Ratusan siswa berseragam PMR datang dari berbagai penjuru Kabupaten Tulungagung dengan membawa semangat yang sama. Mereka tidak sedang mengikuti pelajaran di ruang kelas, tidak pula menghadiri perlombaan akademik. Mereka berkumpul untuk belajar tentang kemanusiaan, persahabatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sebanyak 468 peserta mengikuti Latgab PMR Tulungagung 2026 yang diselenggarakan Korps Sukarela (KSR) Unit UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung pada Minggu, 1 November 2026. Mengusung tema JAWARA (Jalinan Aksi Wasana Rama), kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi anggota Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Madya dan Wira dari berbagai sekolah.

Di balik angka ratusan peserta tersebut, tersimpan banyak cerita. Ada peserta yang baru pertama kali mengikuti latihan gabungan. Ada yang datang dengan rasa gugup karena belum mengenal peserta lain. Ada pula yang ingin menguji kemampuan yang selama ini dipelajari di sekolah.

Namun ketika kegiatan dimulai, sekat-sekat itu perlahan menghilang. Yang tersisa adalah semangat belajar bersama dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Bagi para anggota PMR, latihan gabungan semacam ini bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan mereka memahami arti kemanusiaan sejak usia muda.

Saat Ratusan Remaja Belajar Menjadi Penolong

Latgab JAWARA mempertemukan peserta PMR Madya dan PMR Wira dalam satu kegiatan besar.

Sebanyak 28 tim PMR Madya dari 20 sekolah dan 24 tim PMR Wira dari 21 sekolah ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka mengikuti serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mengasah keterampilan kepalangmerahan sekaligus membangun karakter.

Setiap tim beranggotakan sembilan orang. Tujuh peserta mengikuti travelling kepalangmerahan yang mengharuskan mereka berpindah dari satu pos ke pos lainnya. Di setiap pos, peserta dihadapkan pada tantangan berbeda yang menguji kemampuan berpikir, pengetahuan, hingga kerja sama tim.

Sementara dua peserta lainnya mengikuti simulasi pertolongan pertama yang dirancang menyerupai kondisi nyata.

Tidak sedikit peserta yang harus berpikir cepat ketika menghadapi skenario korban kecelakaan atau kondisi darurat lainnya. Semua itu menjadi bagian dari proses pembelajaran agar mereka mampu memberikan pertolongan secara tepat ketika suatu saat dibutuhkan.

Latihan seperti ini mengajarkan satu hal penting bahwa menjadi relawan tidak cukup hanya memiliki niat baik. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketenangan, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain.

Lebih dari Sekadar Kegiatan Sekolah

Bagi sebagian orang, PMR mungkin hanya terlihat sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolah. Namun bagi para anggotanya, PMR sering kali menjadi tempat tumbuhnya rasa empati dan kepedulian.

Di organisasi inilah banyak remaja belajar tentang pentingnya menolong tanpa membedakan latar belakang seseorang.

Mereka belajar bahwa tindakan kecil, seperti memberikan pertolongan pertama atau membantu teman yang kesulitan, dapat memberikan dampak besar bagi orang lain.

Karena itulah kegiatan latihan gabungan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kompetisi atau evaluasi kemampuan.

Di sini peserta belajar tentang kebersamaan.

Mereka belajar menghargai perbedaan.

Mereka belajar mendengarkan dan membantu.

Mereka belajar bahwa menjadi relawan berarti siap hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.

Nilai-nilai tersebut mungkin tidak tercantum dalam lembar soal ujian, tetapi menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Semangat yang Menular kepada Semua Orang

Energi positif yang hadir selama kegiatan tidak hanya dirasakan peserta.

Dr. Susanto, M.P., yang hadir dalam kegiatan tersebut mengaku terkesan dengan semangat para peserta maupun seluruh pihak yang terlibat.

“Peserta Latgab hari ini sangat antusias sekali. Hal ini bisa dilihat dari masing-masing jenjang tingkatan, baik Madya maupun Wira. Bukan hanya dari peserta saja, tetapi partisipan, baik official kegiatan maupun pihak lainnya yang mendukung, juga menunjukkan semangat sehingga kegiatan latihan gabungan ini berjalan dengan sangat semangat dan lancar,” ungkapnya.

Semangat tersebut terlihat di setiap sudut kegiatan.

Peserta saling menyemangati saat menghadapi tantangan.

Pembina memberikan arahan dengan penuh perhatian.

Panitia bekerja sejak pagi agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Semua bergerak dalam tujuan yang sama, yakni menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi generasi muda.

Dr. Susanto juga menyampaikan apresiasi kepada fasilitator PMI yang selama ini menjadi bagian penting dari proses pembinaan anggota PMR.

Menurutnya, ilmu, dedikasi, serta perhatian yang diberikan kepada peserta akan menjadi bekal berharga dalam pembentukan karakter mereka.

Menambah Teman, Menambah Pengalaman

Salah satu hal yang paling sering diingat peserta setelah mengikuti latihan gabungan adalah pertemanan.

Banyak peserta datang tanpa mengenal siapa pun di luar sekolahnya. Namun pulang dengan membawa banyak teman baru.

Hal itu dirasakan oleh Cantika Charmelita Rahwa Wijaya dari PMR Madya SMPN 1 Boyolangu.

Bagi Cantika, pengalaman pertama mengikuti latihan gabungan menjadi momen yang tidak terlupakan.

“Kegiatan ini sangat menyenangkan banget, bisa mengenal banyak teman. Karena mengikuti kegiatan ini masih pertama kali, harapannya saya bisa ikut lagi di masa mendatang karena bermanfaat. Semoga kegiatan serupa bisa diadakan terus-menerus,” ungkapnya.

Apa yang dirasakan Cantika menunjukkan bahwa kegiatan kemanusiaan juga dapat menjadi ruang sosial yang positif bagi remaja.

Di tengah era digital ketika banyak interaksi terjadi melalui layar gawai, latihan gabungan memberikan kesempatan untuk bertemu, berbicara, dan bekerja sama secara langsung.

Pengalaman seperti itu memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Menemukan Kepercayaan Diri Melalui PMR

Bagi sebagian peserta lainnya, latihan gabungan menjadi tempat untuk mengembangkan kepercayaan diri.

Mereka belajar berbicara di depan kelompok, mempresentasikan materi, hingga mengambil keputusan bersama tim.

Oktaviana Aliya Risty dari PMR Wira SMAN 1 Ngunut merasakan manfaat tersebut selama kegiatan berlangsung.

“Semoga ke depannya lebih seru dan variatif untuk bidang kegiatannya. Saya di sini bertemu teman-teman yang asyik dan juga pendamping yang kece-kece, dan tentunya mendapatkan banyak pengalaman. Harapannya Latgab mendatang bisa lebih meriah lagi,” ujarnya.

Melalui pengalaman tersebut, remaja tidak hanya memperoleh keterampilan kepalangmerahan, tetapi juga kemampuan sosial yang akan berguna di masa depan.

Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi menjadi modal penting ketika mereka memasuki dunia pendidikan tinggi maupun dunia kerja.

Belajar Menjadi Relawan Sejak Usia Muda

Cerita lain datang dari Marsyanda H.PP, anggota PMR Wira SMAN 1 Kauman.

Baginya, kegiatan ini membuka kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus mempererat hubungan dengan anggota PMR dari sekolah lain.

“Sangat senang, lewat kegiatan ini bisa lebih mengenal teman-teman dari sekolah lain. Tentunya banyak teman, kegiatannya sangat seru, bisa melatih pengetahuan materi kepalangmerahan, dan juga penguasaan dalam menyampaikan materi kepalangmerahan,” tuturnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan tujuan utama PMR, yakni menciptakan generasi muda yang mampu belajar sekaligus berbagi.

Anggota PMR tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga diharapkan mampu menyebarluaskan pengetahuan kemanusiaan kepada lingkungan sekitarnya.

Dari proses itulah lahir calon-calon relawan masa depan yang memiliki kemampuan, kepedulian, dan kesiapan untuk membantu masyarakat.

Menanam Benih Kemanusiaan untuk Masa Depan

Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan PMI Kabupaten Tulungagung, Imam Safii, berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara rutin.

Menurutnya, latihan gabungan menjadi sarana penting untuk menyebarkan ilmu kepalangmerahan sekaligus mengevaluasi proses pembinaan yang telah berjalan di masing-masing sekolah.

Harapan tersebut bukan tanpa alasan.

Di balik kegiatan yang berlangsung hanya satu hari, tersimpan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Semakin banyak remaja yang memahami nilai kemanusiaan, semakin besar pula peluang lahirnya generasi yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Mereka kelak dapat menjadi relawan, tenaga kesehatan, pendidik, pemimpin komunitas, atau profesi apa pun yang tetap membawa semangat kemanusiaan dalam setiap langkahnya.

Itulah mengapa Latgab JAWARA tidak sekadar mempertemukan 468 peserta dalam satu tempat.

Kegiatan ini sedang menanam benih-benih kepedulian yang suatu hari dapat tumbuh menjadi aksi nyata bagi masyarakat.

Saat kegiatan berakhir, para peserta memang kembali ke sekolah masing-masing. Namun mereka pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sertifikat atau pengalaman perlombaan.

Mereka membawa persahabatan baru, pengetahuan baru, dan pemahaman bahwa membantu sesama adalah nilai yang harus terus dijaga.

Di sanalah makna sebenarnya dari Latgab PMR Tulungagung 2026. Bukan sekadar kegiatan kepalangmerahan, melainkan perjalanan membentuk generasi muda yang peduli, berani, dan siap menjadi relawan kemanusiaan bagi Indonesia di masa depan.

Penulis: Alfani
Editor: Redaksi
Posting Komentar
Tutup Iklan