Dari Jakarta Timur ke Tokyo, Perjalanan Dua Relawan Muda Membawa Semangat Kemanusiaan
CERITARELAWAN.com, JAKARTA - Tidak banyak pelajar yang mendapat kesempatan mewakili daerahnya dalam forum internasional. Lebih sedikit lagi yang berangkat bukan sebagai atlet, bukan pula sebagai peserta lomba akademik, melainkan sebagai duta kemanusiaan. Kesempatan istimewa itulah yang kini dirasakan oleh Amirah Salsabila dari SMAN 81 Jakarta dan Kevin El-Aqsha Hartono Mohamad dari SMAN 61 Jakarta.
Kedua anggota Palang Merah Remaja (PMR) tersebut terpilih mengikuti International Youth Exchange Program with Japanese Red Cross yang akan berlangsung di Tokyo, Jepang, pada 5–11 November 2026.
Bagi banyak orang, perjalanan ke Jepang mungkin identik dengan wisata, teknologi, atau budaya modern. Namun bagi Amirah dan Kevin, perjalanan ini memiliki makna yang jauh berbeda. Mereka membawa nama Jakarta Timur, membawa nama PMI, dan membawa nilai kemanusiaan yang selama ini mereka pelajari melalui aktivitas PMR.
Keberangkatan keduanya mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur yang menggelar audiensi dan pelepasan resmi di Kantor Wali Kota Jakarta Timur pada Senin (2/11/2026).
Momen tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh bukan sekadar perjalanan fisik menuju negara lain, melainkan perjalanan pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk mereka menjadi generasi muda yang lebih peduli, berwawasan luas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
Berawal dari Kegiatan PMR di Sekolah
Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan kesempatan seperti ini.
Amirah dan Kevin merupakan bagian dari ribuan anggota PMR yang selama ini aktif mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan di sekolah. Mereka belajar tentang pertolongan pertama, hidup sehat, kepemimpinan, kerja sama tim, hingga pentingnya membantu sesama tanpa membedakan siapa pun.
Kegiatan-kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun di balik kegiatan itu tersimpan proses panjang pembentukan karakter.
PMR mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya soal hadir ketika terjadi bencana. Menjadi relawan berarti memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar, memiliki keberanian untuk membantu, serta kesiapan untuk menjadi bagian dari solusi ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Nilai-nilai itulah yang perlahan tumbuh dalam diri para anggota PMR.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, mereka belajar bahwa kemanusiaan tidak mengenal perbedaan suku, agama, ras, maupun kebangsaan. Semua orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan dan perhatian.
Semangat tersebut kini mengantarkan Amirah dan Kevin melangkah lebih jauh hingga ke panggung internasional.
Dukungan yang Mengiringi Langkah Mereka
Dalam audiensi bersama Wali Kota Jakarta Timur, suasana hangat terasa ketika berbagai pihak berkumpul untuk memberikan dukungan kepada kedua peserta.
Orang tua hadir mendampingi anak-anak mereka yang akan menjalani pengalaman berharga di luar negeri. Kepala sekolah dan pembina PMR turut menyaksikan hasil dari proses pembinaan yang selama ini dilakukan di sekolah.
Perwakilan dari dunia pendidikan juga hadir sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas generasi muda.
Sementara dari PMI Jakarta Timur hadir Ketua PMI Jakarta Timur beserta jajaran pengurus dan staf yang selama ini terlibat dalam kegiatan pembinaan PMR.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pelajar tidak pernah lahir dari kerja sendiri.
Di balik setiap prestasi selalu ada keluarga yang memberi semangat, guru yang membimbing, pembina yang mendampingi, serta organisasi yang menyediakan ruang pengembangan diri.
Bagi Amirah dan Kevin, kesempatan ke Jepang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi dalam mengikuti kegiatan kemanusiaan dapat membuka peluang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Belajar Kemanusiaan Tanpa Batas Negara
Program pertukaran pemuda yang diselenggarakan bersama Japanese Red Cross ini memiliki tujuan utama mempererat hubungan persahabatan sekaligus memperkuat kerja sama kemanusiaan antara generasi muda Indonesia dan Jepang.
Di Tokyo, para peserta akan bertemu dengan anggota Youth Red Cross Jepang dan mengikuti berbagai kegiatan yang telah disiapkan.
Mereka akan mengenal budaya Jepang secara langsung, berdiskusi mengenai aktivitas kepalangmerahan, bertukar pengalaman sebagai relawan muda, hingga memahami bagaimana gerakan kemanusiaan dijalankan di negara tersebut.
Di sinilah letak keunikan program ini.
Peserta tidak hanya datang sebagai tamu yang melihat-lihat budaya baru, tetapi menjadi bagian dari proses belajar bersama.
Mereka akan berbagi cerita tentang Indonesia dan mendengarkan kisah relawan muda Jepang. Mereka akan belajar tentang perbedaan sekaligus menemukan kesamaan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah nilai universal yang dimiliki seluruh manusia.
Pertemuan-pertemuan seperti inilah yang sering kali melahirkan persahabatan lintas negara yang bertahan lama.
Melanjutkan Persahabatan yang Sudah Terjalin
Program pertukaran ini juga menjadi kelanjutan hubungan yang telah dibangun sebelumnya.
Pada tahun 2025, anggota Japan Youth Red Cross berkesempatan datang ke Indonesia untuk mengikuti berbagai kegiatan bersama PMI.
Kini, pada tahun 2026, giliran anggota PMR Indonesia yang melakukan kunjungan balasan ke Jepang.
Pertukaran dua arah tersebut mencerminkan hubungan yang setara dan saling belajar.
Bagi generasi muda Indonesia, kesempatan ini membuka ruang untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas.
Mereka dapat belajar bagaimana masyarakat Jepang membangun budaya disiplin, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan semangat gotong royong di tengah kehidupan modern.
Sebaliknya, peserta Jepang juga memperoleh pemahaman mengenai budaya Indonesia yang kaya, sikap ramah masyarakat, serta semangat kerelawanan yang tumbuh kuat di berbagai daerah.
Hubungan seperti inilah yang menjadi fondasi penting bagi kerja sama kemanusiaan internasional di masa depan.
Ketika Pengalaman Menjadi Inspirasi
Perjalanan Amirah dan Kevin ke Jepang tidak akan berakhir ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat kembali di Indonesia.
Justru setelah mereka pulang, pengalaman tersebut akan memiliki nilai yang lebih besar.
Apa yang mereka lihat, pelajari, dan rasakan selama berada di Jepang dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak anggota PMR lainnya.
Pengalaman tersebut dapat dibagikan melalui kegiatan sekolah, pelatihan PMR, forum kepemudaan, maupun berbagai kegiatan sosial lainnya.
Cerita tentang bagaimana relawan muda dari berbagai negara bekerja sama akan membuka wawasan baru bagi teman-teman sebaya mereka.
Cerita tentang pentingnya kepedulian dan persahabatan antarbangsa juga dapat memotivasi lebih banyak pelajar untuk aktif dalam kegiatan kemanusiaan.
Inilah mengapa program pertukaran pemuda memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan jumlah peserta yang berangkat.
Manfaatnya tidak berhenti pada individu, tetapi dapat menyebar kepada komunitas dan lingkungan di sekitarnya.
Menjaga Api Kemanusiaan Tetap Menyala
Di tengah dunia yang terus berubah, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan.
Masyarakat masih membutuhkan orang-orang yang peduli. Lingkungan masih membutuhkan generasi muda yang mau terlibat. Dan dunia masih membutuhkan relawan yang bersedia membantu tanpa mengharapkan balasan.
Melalui PMR, nilai-nilai tersebut terus ditanamkan kepada generasi muda.
Keberhasilan Amirah Salsabila dan Kevin El-Aqsha Hartono Mohamad menjadi contoh bahwa aktivitas kerelawanan dapat membawa dampak positif yang nyata bagi masa depan.
Mereka membuktikan bahwa kepedulian sosial bukanlah penghalang prestasi. Sebaliknya, kepedulian justru dapat menjadi jalan menuju pengalaman yang lebih luas dan bermakna.
Perjalanan mereka dari ruang PMR sekolah hingga ke Tokyo menunjukkan bahwa aksi kecil yang dilakukan dengan tulus dapat membuka kesempatan besar.
Saat keduanya melangkah menuju Jepang, mereka tidak hanya membawa koper dan dokumen perjalanan. Mereka membawa harapan banyak orang, semangat kemanusiaan dari Jakarta Timur, serta pesan bahwa generasi muda Indonesia mampu menjadi duta persahabatan dan kepedulian di tingkat dunia.
Dan ketika mereka kembali nanti, mereka diharapkan pulang bukan hanya dengan kenangan indah, tetapi juga dengan semangat baru untuk terus menginspirasi, mengabdi, dan menyalakan api kemanusiaan bagi sesama.
Penulis: Opi/Abas
Editor: Redaksi
