Tiga Tahun Alami Gatal-gatal, Fransiskus Akhirnya Periksa Kesehatan di Pengungsian Robek
CERITARELAWAN.com, MANGGARAI – Tiga tahun mengalami gatal-gatal tanpa pernah memeriksakan diri, Fransiskus Dan (62) akhirnya menjalani pemeriksaan kesehatan di lokasi pengungsian Desa Robek, Senin (21/9/2026).
Fransiskus menjadi satu dari 27 warga yang mendapatkan layanan kesehatan di lokasi pengungsian depan Gereja Katolik Santu Thomas Morus Paroki Robek.
Ia mengaku belum pernah memeriksakan keluhan yang telah dialaminya selama bertahun-tahun tersebut. Fransiskus menduga gatal-gatal yang dialaminya dipicu oleh makanan tertentu yang tidak cocok dengan kondisi tubuhnya.
Kesempatan memperoleh layanan kesehatan di lokasi pengungsian kemudian dimanfaatkannya untuk berkonsultasi dan mendapatkan pemeriksaan.
"Keluhan pribadi saya adalah beberapa tahun mengalami gatal-gatal yang mungkin dipicu makanan yang tidak cocok. Sebelumnya saya tidak pernah diperiksa dan hari ini baru saya periksa. Dokter memberikan saya obat berupa salep dan pil. Semoga dengan obat ini gatal-gatal bisa hilang," ujar Fransiskus.
Setelah menjalani pemeriksaan, Fransiskus mendapatkan salep dan obat minum untuk keluhan yang disampaikannya.
Layanan tersebut diberikan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai untuk menjangkau kebutuhan kesehatan warga terdampak bencana yang masih berada di lokasi pengungsian.
Tim melakukan pemeriksaan dan memberikan pengobatan berdasarkan kondisi serta keluhan masing-masing warga. Selain itu, petugas memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan selama berada di tempat pengungsian.
Warga yang mengalami keluhan dan membutuhkan penanganan medis lebih lanjut juga diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Dari 27 warga yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 19 orang merupakan laki-laki dan delapan perempuan. Dua dari delapan perempuan yang mendapatkan pelayanan tercatat sebagai ibu menyusui.
Relawan PMI Kabupaten Manggarai, Theresa Bela Resa, mengatakan pemeriksaan menemukan beberapa gangguan kesehatan yang dialami warga.
"Ada beberapa kasus yang ditemukan dalam pemeriksaan, yaitu hipertensi, myalgia, ISPA, dan diabetes melitus. Ada 27 orang yang menjalani pemeriksaan, terdiri atas 19 laki-laki dan delapan perempuan. Dua di antaranya merupakan ibu menyusui," kata Bela.
Temuan tersebut menunjukkan keluhan kesehatan warga di pengungsian beragam. Selain hipertensi dan diabetes melitus, tim menemukan myalgia atau nyeri otot serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Pelayanan langsung di pengungsian memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan keluhan dan menjalani pemeriksaan tanpa harus meninggalkan lokasi tempat mereka tinggal sementara.
Bagi Fransiskus, layanan tersebut menjadi kesempatan pertama memeriksakan keluhan gatal-gatal yang telah dialaminya sekitar tiga tahun.
Selain mendapatkan obat, warga memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi masyarakat selama menjalani masa pemulihan pascabencana.
Di tengah keterbatasan kehidupan di pengungsian, akses terhadap pemeriksaan kesehatan dibutuhkan untuk menemukan keluhan warga lebih awal dan menentukan penanganan yang diperlukan.
Pelayanan kepada warga Robek menjadi bagian dari kegiatan kemanusiaan PMI Kabupaten Manggarai untuk menjangkau masyarakat terdampak bencana, terutama mereka yang masih bertahan di lokasi pengungsian.
